Siswi Sekolah Rakyat Sragen Meninggal, Sempat Demam dan Kejang
Siswi Sekolah Rakyat Sragen meninggal setelah demam, muntah, dan kejang. Ia sempat menjalani pemeriksaan sebelum dirujuk ke rumah sakit.
Sandyakala Ratu Malang./Hengki Irawan
004
“Jangan, Ngger. Ki Demang memanggil rama. Engkau di sini memimpin para pamanmu petani mengolah sawah, hati-hati menjaga bendungan. Sekarang musim rendheng. Kalau sampai galengan pecah, kasihan nasib sanak kadang kita. Sudahlah, cah bagus, ramamu pergi.”
“Sugeng tindak.” Panuluh menundukkan muka dalam-dalam.
“Gusti memberkatimu, anakku.”
BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 001
Begawan Sempani menuruni anak tangga diikuti Damar Panuluh. Anak muda ini tak rela ramandanya pergi. Namun sang ayah melarang ia serta, dan bagaimana ia berani membantah? Pemuda itu dengan tatapan kosong melihat ramandanya menolak naik usungan yang disiapkan. Sambil tersenyum Begawan Sempani juga menampik menunggang kuda. Ia memilih jalan kaki.
“Paman sekalian tidak perlu repot. Ramaku mana mau menyiksa manusia dengan duduk enak-enak di dalam joli sementara kalian memikulnya. Beliau juga tidak suka menunggang kuda. Kalian tak usah gelisah, larikan kudamu secepatnya ke kademangan, rama tidak akan tertinggal,” ujar Panuluh ditanggapi para prajurit dengan saling pandang.
BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 002
Mereka menyangka anak muda itu omong kosong. Dua orang prajurit tersenyum geli. Tapi senyum mereka hilang tatkala Begawan Sempani dengan halus menyuruh mereka naik kuda.
“Silakan pergunakan kuda kalian. Biarkan aku berjalan.”
“Tapi kita akan terlambat, dan Ki Demang akan murka kepada kami jika kita datang tak tepat waktu. Dengan berkuda saja baru setelah matahari sepenggalah kita sampai kademangan. Apalagi jalan kaki, barangkali kita ….”
“Larikan kuda kalian paman,” sergah Panuluh sambil menepuk pangkal paha kelima kuda yang meringkik lalu melompat ke depan tanpa dapat ditahan para penunggangnya.
Damar tidak dapat menahan tawa, sementara Begawan Sempani menggeleng-gelengkan kepala.
BACA JUGA: Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 003
Pendeta tua itu menggunakan kasektennya dan tubuhnya seolah terbang menyusul kuda yang berlari kencang. Untuk terakhir kali Damar berlutut menyembah ke arah ramanya.
Sampai lama pemuda itu bersila di depan gapura, dan baru berdiri ketika Godor menghampiri.
“Ramamu sudah pergi. Mari kita masuk ke pondok.”
Panuluh bagaikan tersadar dari alam mimpi. Ia memandang getir wajah pelayan tua yang setia itu dengan mata berkaca-kaca.
“Paman, hari ini aku akan bersemadi. Memanjat doa, memohon Hyang Wisesa, semoga rama baik-baik saja. Aku di sanggar pamujan sampai besok pagi.”
Panuluh berdiri, meregangkan otot sebentar, lalu masuk surau. Godor memandang penuh haru. Ia memuji dalam hati akan sikap bekti seorang anak terhadap ayahnya. Ia sendiri maklum, betapa saktinya Begawan Sempani, maka tidak ada yang harus dicemaskan.
Akan halnya lima orang prajurit utusan Ki Suradipa marah sekali ketika kuda mereka lari kesetanan karena tepukan pemuda tampan itu. Mereka sekuat tenaga mencoba menenangkan tapi kuda-kuda itu bagaikan gila terus mencongklang. Sambil memaki-maki mereka mengarahkan ke jurusan Tembayat. Tiba-tiba mereka dikejutkan suara penuh wibawa di dekat telinga.
“Tidak ada yang salah dengan kuda-kuda kalian. Kalau kalian terus memaki, tentu akan terlempar. Hati-hati.” Mendengar suara ini mereka menengok, dan mulut mereka menganga.
BERSAMBUNG: Bagian 005
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Siswi Sekolah Rakyat Sragen meninggal setelah demam, muntah, dan kejang. Ia sempat menjalani pemeriksaan sebelum dirujuk ke rumah sakit.
Purbaya Yudhi Sadewa bikin netizen penasaran lewat caption “Udah siap belum?” setelah tak lagi menjabat Menteri Keuangan.
Harga emas Pegadaian hari ini 15 September 2026 untuk Antam, UBS, dan Galeri 24 lengkap dengan harga jual serta buyback.
Macklemore dicoret dari sisa tur Ed Sheeran di AS setelah dukung Palestina. Sejumlah venue disebut menolak konser jika ia tetap tampil.
Harga rumah Yogyakarta mencapai median Rp2 miliar pada Agustus 2026. Harga naik 14,3%, sedangkan listing turun 27,4%.
Joanna Wietrzyk menang HYROX Beijing setelah insiden di tengah lomba. Kenali profil dan prestasi atlet Australia tersebut.