Advertisement

Anggap Bergizi, Banyak Orang Tua di Indonesia Berikan Susu Kental Manis untuk Anak-Anak

Eva Rianti
Rabu, 06 Februari 2019 - 22:17 WIB
Nina Atmasari
Anggap Bergizi, Banyak Orang Tua di Indonesia Berikan Susu Kental Manis untuk Anak-Anak Ketua Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) Arif Hidayat - Bisnis/Eva Rianti

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA – Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat (Kopmas) menemukan para orang tua masih banyak yang memberikan anak-anaknya asupan berupa susu kental manis (SKM) sebagai minuman bernutrisi.

Kasus gizi buruk di Indonesia terbilang masih memprihatinkan. Kopmas menilai bahwa ancaman gizi buruk dan stunting akan terus menghantui anak-anak di Indonesia seiring dengan masih minimnya edukasi mengenai gizi.  

Advertisement

Berdasarkan hasil termuan terbarunya yang dilakukan pada November—Desember 2018, Kopmas menemukan para orang tua masih banyak yang memberikan anak-anaknya asupan berupa susu kental manis (SKM) sebagai minuman bernutrisi, padahal sebenarnya hanya sebagai pelengkap sajian. 

Akibatnya, anak-anak Indonesia justru kekurangan nutrisi, bahkan terindikasi mengalami gizi buruk. Nahasnya, kondisi tersebut menimbulkan potensi stunting pada anak.

“Pemahaman yang salah di masyarakat kita hingga saat ini bahwa SKM adalah susu yang memiliki nutrisi tinggi bagi anak-anak terutama bayi, padahal 50% kandungan pada SKM adalah gula,” ujar Ketua Kopmas, baru-baru ini.

Eneng, 39, seorang warga Pandeglang mengakui hal tersebut. Di kampungnya, tidak sedikit para orang tua yang menganggap SKM memiliki nutrisi yang tinggi bagi anak-anak mereka.

“Di kampung saya banyak [bayi] yang konsumsi SKM. Dan bayinya itu sekitar usia 3 tahun jadinya gatal-gatal, bahkan ada yang melepuh. Ada lagi yang minum SKM pada usia 2 tahun, pipinya kembung dan mau meledak. Ada lagi bayi yang tidak minum susu formula atau SKM, tapi minum kopi. Yang terjadi rambutnya beruban dan perutnya cacingan,” terang Eneng.  

Menyikapi hal tersebut, Direktur Registrasi Pangan Olahan BPOM Anisyah mengatakan bahwa perlu adanya perlindungan untuk masyarakat dari informasi-informasi yang menyesatkan. Dia menegaskan bahwa SKM hanya sebagai nutrisi pelengkap.

“Hal ini sudah diupayakan dalam tiga peringatan yang tertera pada SKM. Bunyinya: ‘Perhatikan! tidak untuk menggantikan Air Susu Ibu’, ‘tidak cocok untuk bayi sampai usia 12 bulan’, dan ‘tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya sumber gizi’,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop

Siswa Keracunan Spageti MBG, Operasional Dapur Disetop

News
| Sabtu, 04 April 2026, 15:57 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement