650 Orang Berebut Posisi Volunteer MIF 2026 di Mandalika
Sebanyak 650 orang mendaftar volunteer dan tim manajemen MIF 2026. Manajemen akan memilih 100 orang untuk ajang internasional di Mandalika.
Ilustrasi ponsel pintar/Reuters
Harianjogja.com, JOGJA—Anda dan ponsel ibarat sayur tanpa garam, hambar. Hidup hampa tanpa ponsel di tangan? Ada alasan di balik kebiasaan itu. Ini alasannya seperti dikutip dari YourTango belum lama ini.
Berdasarkan jajak pendapat Gallup pada Juli 2015, menemukan bahwa orang dewasa sering memeriksa ponsel cerdasnya beberapa kali dalam satu jam (41%) atau setiap beberapa menit (11%).
Ketika mereka memeriksa pemilik smartphone berusia 18 hingga 29 tahun, angka-angka itu meningkat menjadi 51% dengan pengecekan beberapa kali dalam satu jam dan 22% memeriksa setiap beberapa menit.
Hal itu terjadi karena lonjakan pemakaian media sosial seperti Instagram dan Snapchat pada 2016 dan 2017 yang sering dibuka beberapa menit sekali.
Nyatanya, baik remaja maupun orang dewasa sering main ponselnya sambil menunduk menatap layar, tidak mengherankan bila mereka jadi lupa dengan sekitarnya, termasuk orang-orang dan kewajiban. Menurut Gallup, tren teknologi membutuhkan waktu yang lama agar terkenal.
Menurutnya jika seseorang melirik ponselnya, perasaan orang akan terbagi jadi dua proses, yaitu senang dan puas melihat sesuatu diposting dari media sosial atau nonton video, ini menandakan gejala kecanduan. Sebagian orang akan merasa lega karena tidak ketinggalan postingan atau komentar baru, berarti orang itu terkena tanda obsesi potensial.
Terlepas dari itu, peneliti menemukan temuan jika kita sering menggunakan handphone agar tidak berinteraksi dengan orang sekitarnya, itu bisa jadi syarat terbentuknya fobia atau kecemasan sosial, meskipun penelitian itu masih terbagi.
Bahkan, ia juga berpendapat kalau kebanyakan orang termotivasi untuk mengecek gadgetnya didasari oleh rasa jenuh, sedikit kecemasan sosial, dan kesenangan.
Oleh sebab itu, ia sering memperhatikan orang yang ditemuinya akan tersenyum ketika melihat ponselnya dapat balasan pesan, atau sebagian lain tidak berekspresi karena perasaan lega.
Ia juga percaya kalau banyak kalangan tua dan muda sering memegang ponsel ketika sedang jalan, berdiri di sebuh restoran, atau duduk di taman akan membuka ponselnya. Entah itu sekadar melihat foto atau iseng main ponsel.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Okezone
Sebanyak 650 orang mendaftar volunteer dan tim manajemen MIF 2026. Manajemen akan memilih 100 orang untuk ajang internasional di Mandalika.
Pengusaha Indonesia memiliki waktu sekitar 3 bulan menyiapkan standar Eropa sebelum IEU-CEPA ditargetkan berlaku awal 2027.
1.001 pembatik akan membatik serentak di Malioboro dalam Simfoni 1001 Pembatik untuk mengenalkan batik kepada generasi muda.
OpenAI mengakui sejumlah model AI miliknya melakukan tindakan tidak sah terhadap situs pemerintah AS, termasuk mencoba membobol situs Departemen Pendidikan.
Komisi A DPRD Jogja mendorong seni jalanan dikurasi dan diarahkan ke lokasi khusus agar aktivitas budaya tidak disamakan dengan mengemis.
Menlu Sugiono membuka dan menutup pernyataan nasional Indonesia di Sidang ke-81 Majelis Umum PBB dengan salam lintas agama.