Advertisement

FEATURE: Di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Teh Harus Diseduh dari Sumur Nyai Jalatunda

Salsabila Annisa Azmi
Rabu, 19 Desember 2018 - 09:35 WIB
Maya Herawati
FEATURE: Di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat Teh Harus Diseduh dari Sumur Nyai Jalatunda Abdi Dalem Keparak melaksanakan tradisi patehan. Mereka membawa sesaji ke Gedhog Prabayeksa pada pukul 11.00 WIB belum lama ini - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi)

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Minuman teh disukai hampir seluruh penduduk Bumi. Tradisi minum teh juga ada di berbagai negara. Di Jogja, tradisi minum teh datang dari Kraton Ngayogyakarta. Berikut ini ulasan wartawan Harianjogja.com, Salsabila Annisa Azmi dan Lajeng Padmaratri.

Gong di istana Kraton Ngayogyakarta berbunyi tepat pukul 11.00 WIB, lima Abdi Dalem Keparak (Abdi Dalem perempuan) berbaris keluar dari Gedhong Patehan membawa berbagai macam sesaji yang telah disiapkan Abdi Dalem Patehan. Mereka masing-masing membawa teh saring dan teh tubruk, klemuk (semacam kendi) yang berisi air sumur Nyai Jalatunda, kopi dan gula, serta ceret tembaga yang berisi air matang. Satu orang Abdi Dalem Keparak juga bertugas membawa payung.

Advertisement

Benda-benda sesaji itu, termasuk teh, tak boleh dibawa oleh sembarang orang. Klemuk, teh tubruk dan teh saring, kopi dan gula serta ceret tembaga dibawa berurutan sesuai dengan pangkat Abdi Dalem Keparak di Kraton. Klemuk dibawa oleh Keparak dengan pangkat tertinggi, yaitu Lurah. Sedangkan payung dibawa oleh Keparak dengan pangkat terendah.

Dengan langkah yang hati-hati, Abdi Dalem Keparak berbaris mengantarkan sesaji ke Gedhog Prabayeksa. Teh yang diletakkan di sana akan didiamkan sampai diambil kembali untuk diganti pada jadwal penyajian minum berikutnya.

Menurut Abdi Dalem Patehan, Mas Riyo Reso Dinomo, teh sesaji bukan untuk Sri Sultan HB X. Namun seringkali pemandu wisata menyebarkan informasi bahwa teh sesaji itu untuk Sultan. “Jadi sebenarnya itu bukan buat Sultan. Percaya tidak kalau nanti pasti ada sendiri yang minum tehnya? Kalau saya kok percaya,” kata Reso Dinomo, merujuk pada hal-hal gaib.

Dia kemudian menjelaskan bahwa tradisi patehan di Kraton telah dilaksanakan sejak turun-temurun. Hingga saat ini, tak peduli halangan dan rintangan, tradisi patehan tersebut dilaksanakan setiap pukul 06.00 WIB dan 11.00 WIB untuk sesaji. Sedangkan untuk menjamu raja, biasanya Abdi Dalem Patehan membuatkan teh pada saat acara Ngabekten dan Jamasan Pusaka atau siraman. “Kalau ada dua acara itu, sesaji tiap pukul 06.00 WIB dan 11.00 WIB tetap kami laksanakan,” kata Reso Dinomo.

Mas Riyo Reso Dinomo menjelaskan proses yang dilakukan secara umum sama dengan cara masyarakat membuat teh. Namun ada kepercayaan-kepercayaan tertentu yang dihayati oleh Abdi Dalem Patehan saat mereka menyiapkan teh sesaji atau menyajikan teh untuk keluarga Sultan.

Pertama, Abdi Dalem Patehan menimba air dari sumur Nyai Jalatunda yang berseberangan dengan sumur Kyai Jalatunda. Saat menimba air dari sumur itu, Abdi Dalem Patehan membaca doa sesuai kepercayaan mereka. Sebab jika tidak, biasanya akan sulit menarik air hingga ke atas.

Air yang digunakan tidak boleh berasal dari lain tempat, harus dari sumur Nyai Jalatunda. Abdi Dalem Patehan lainnya, Mas Lurah Reso Sumitro mengatakan air sumur tersebut sangat spesial. Air tersebut dipercaya bisa membuat peminum teh menjadi awet muda, pandai dan cepat bertemu jodoh.  “Mengapa kami menggunakan air dari sumur Nyai Jalatunda? Itu karena airnya tidak pernah surut meski musim kemarau tiba. Itu uniknya. Padahal kalau musim kemarau, sumur Kyai Jalatunda surut, selain itu airnya ya lebih segar,” kata Mas Lurah Reso Sumitro.

Setelah itu, air direbus menggunakan ceret tembaga yang digunakan sejak turun temurun. Satu ceret dapat mengisi air pada 80 cangkir keramik. Ceret tembaga berfungsi untuk penetral air dan juga dipercaya sebagai penolak bala atau nujum dari orang jahat.

Mas Riyo Reso Dinomo kembali menyambung penjelasan, saat merebus air, Abdi Dalem Patehan harus memiliki hati yang bersih, ikhlas dan penuh doa. Sebab jika tidak, proses merebus air akan semakin lama. “Jadi abdi dalem yang mau merebus air, sehari sebelumnya harap jaga diri dari hal-hal negatif,” kata Mas Riyo Reso Dinomo.

Langkah selanjutnya air yang telah mendidih digunakan untuk menyeduh teh yang telah disediakan. Mas Riyo Reso Dinomo mengatakan Kraton selalu menggunakan teh merek tjap tang bungkus berwarna biru dalam setiap sesaji. Namun berbeda saat mereka harus menyajikan teh ke keluarga Sultan, mereka menggunakan teh tjap tang bungkus berwarna merah. Mas Riyo Reso Dinomo tak tahu apa alasannya, yang jelas sejak 30 tahun lalu, saat pertama kali dia menjadi Abdi Dalem, istana sudah menggunakan dua jenis teh itu.

Persiapan membuat teh sudah dilakukan sejak adzan subuh berkumandang. Setelah semua siap, Abdi Dalem Parakan menjemput teh itu dengan baki-baki yang mereka bawa. Teh pun disajikan untuk sesaji pukul 06.00 WIB. Teh didiamkan di Gedhog Prabayeksa dan diambil kembali saat mendekati pukul 11.00 WIB. Mas Riyo Reso Dinomo mengatakan terkadang teh yang disajikan berkurang sendiri. Sisa teh setelah sesaji pagi baru boleh dibuang ke tanaman-tanaman di sekitar Kraton.

Mas Lurah Reso Sumitro menambahkan penjelasan, bahwa dalam setiap proses pembuatan teh, mulai dari awal sampai akhir, Abdi Dalem Patehan wajib merapal doa. Sebab gangguan dari luar begitu banyak, dan mereka harus menjaga perabot bersejarah yang digunakan tanpa cacat apapun.

Era Kolonial

Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko, teh sudah lama ada di Jawa tetapi tidak begitu populer. Kehadiran penjajah Belanda membuat tradisi minum teh menguat, terutama minum teh sore. “Kalangan kulit putih, terutama pengusaha perkebunan, selain kaya, mereka juga punya waktu luang yang banyak. Gaya hidup mereka juga tinggi, karena menempati struktur sosial teratas. Untuk menikmati hidup, salah satunya dengan acara ngeteh sore,” jelas Heri saat ditemui Harian Jogja di Universitas Sanata Dharma pada Rabu (12/12) lalu. Ia menambahkan, tradisi ini kemudian ditiru oleh bangsawan dan kelompok priyayi.

Bangsa Eropa kemudian menjadi trendsetter. Tradisi ngeteh ini semakin menguat ketika ada saling kunjung antara kedua belah pihak. “Ketika orang Eropa berkunjung ke istana kraton atau orang priyayi bertemu di restoran dengan tuan-tuan kulit putih. Ini selanjutnya menjadi hal umum,” katanya. Westernisasi menjadi hal yang tak terelakkan pada saat itu.

Ada faktor lain yang, menurut Sejarawan Kuliner ini, semakin menguatkan tradisi minum teh, yaitu keberadaan perkebunan teh di daerah Klaten dan Kemuning di Jawa Tengah dan di beberapa pegunungan. “Menariknya lagi, tradisi ngeteh ini ditunggangi dengan gengsi sosial, buktinya peralatan minumnya terbuat dari porselen dan gelas kaca,” jelas pria asal Solo ini. Menurut penulis buku Sejarah Wisata Kuliner Solo ini, peralatan minum teh juga ajang pamer dan unjuk status sosial peminumnya.

Keluarga Kraton Ngayogyakarta semakin termanjakan oleh teh dengan keberadaan abdi dalem khusus yang membuatkan sajian teh, yaitu Abdi Dalem Patehan. Patehan tak hanya menjadi gedung keberadaan abdi dalem membuatkan sajian teh, melainkan juga nama sebuah kelurahan di Kecamatan Kraton, Kota Jogja. Asal usul nama kampung ini memang dihuni oleh pelayan istana yang dikhususkan untuk membuat sajian bagi raja, keluarga, atau tamu-tamu kerajaan. “Toponim ini meyakinkan kita bahwa tradisi itu sangat berpengaruh pada masanya,” kata Heri.

Ia menyebutkan misalnya dalam tradisi kembul bujana atau makan besar, teh turut dibawa oleh pelayan, bersaing dengan minuman lemon, kopi, serta susu.

Namun, tradisi ini agak bergeser ketika Sri Sultan Hamengku Buwono IX dengan jabatannya sebagai menteri hingga Wakil Presiden Indonesia yang kedua. Hal ini memaksanya untuk sering ke Jakarta, sehingga tradisi ngeteh di istana menjadi menurun. “Ini ada kelemahannya. Semakin menurunnya kebiasaan itu, menurun pula pengetahuan kita akan resep teh keraton,” ujar Heri.

Wisata Sejarah

Bagi Heri, resep teh di Kraton Ngayogyakarta merupakan pengetahuan dapur yang tidak banyak diketahui dan dikhawatirkan dapat tenggelam seiring kebiasaan minum teh oleh penguasanya yang menurun. “Dikhawatirkan, pengetahuan yang bersifat lisan dari abdi dalem ini tidak tercatat,” tuturnya. Ia mengusulkan supaya dibuat wisata sejarah sekaligus wisata kuliner untuk mendorong publik melestarikan tradisi ngeteh. Heri mengatakan tradisi ngeteh ala Kraton Ngayogyakarta tidak mustahil untuk dibawa keluar kepada publik. “Bisa saja, kebudayaan kecil biasanya ikut budaya yang lebih besar atau unggul, dalam hal ini kraton,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Lajeng Padmaratri

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Penanganan Stunting di Indonesia Diklaim mencapai 18 Persen

News
| Rabu, 06 Desember 2023, 14:27 WIB

Advertisement

alt

Jelang Natal Saatnya Wisata Ziarah ke Goa Maria Tritis di Gunungkidul, Ini Rute dan Sejarahnya

Wisata
| Jum'at, 01 Desember 2023, 19:12 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement