Advertisement
Kerap Menggoda Anak soal Pacaran, Ternyata Ada Dampaknya
Ilustrasi Pasangan - Reuters
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA-Biasanya orang tua kepo, ingin tahu anaknya sudah punya pacar atau belum. Atau jika ketahuan punya pacar akan digoda-goda. Itu berdampak bagi psikologi si anak.
Menggoda anak dengan mengatakan dia pacar si A atau si B, bagi orang dewasa merupakan keisengan belaka. Namun, dampaknya bisa menjadi lain bagi anak-anak yang digoda. Salah-salah, anak yang digoda bisa menganggap dirinya juga sudah boleh menikah.
Advertisement
Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pengasuhan Keluarga dan Lingkungan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Rohika Kurniadi Sari memjinta agar orang dewasa tidak menggoda anak-anak yang bermain dengan lawan jenis dengan menyebutnya berpacaran.
"Orang tua harus menjelaskan informasi yang jelas pada anak. Anak-anak mudah meniru. Model yang dia tangkap akan diikuti," kata Rohika dalam bincang-bincang dengan media yang diadakan di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Rohika, harus ada terobosan yang progresif dari orang tua untuk mencegah perkawinan anak. Apalagi, tantangan anak dan orang tua saat ini sangat kompleks, tidak bisa disamakan dengan sebelumnya.
"Pengaruh globalisasi sangat kuat. Orang tua dan anak-anak sama-sama terpapar. Orang tua harus mempersiapkan anak-anaknya untuk menghadapi perkembangan teknologi," tuturnya.
Rohika mengatakan bahwa perkawinan anak harus dicegah karena dapat melanggar hak-hak anak, baik hak anak yang dikawinkan maupun anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut.
Selain itu, perkawinan anak dapat menimbulkan berbagai permasalahan yang disebabkan ketidaksiapan mereka dalam berumah tangga.
"Dengan menikah, mereka dipaksa menjadi dewasa. Padahal, reproduksi mereka masih berkembang, belum siap. Begitu pula dengan psikologis mereka. Bila terjadi pertengkaran dengan pasangannya, anak-anak mereka bisa menjadi korban," katanya.
Indonesia saat ini berada di urutan ketujuh dengan angka absolut perkawinan anak tertinggi di dunia, dan tertinggi kedua setelah Kamboja di Asia Tenggara.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia/Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Gempa Magnitudo 5,7 Terjadi di Tuapejat Mentawai, Picu Kepanikan
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








