Mengonsep Hunian di Daerah Padat Penduduk

Aprianus Doni Tolok
Aprianus Doni Tolok Sabtu, 05 Mei 2018 11:35 WIB
Mengonsep Hunian di Daerah Padat Penduduk

Inset House di tengah hunian padat. /JIBI-Bisnis Indonesia

Harianjogja.com, JAKARTA—Memiliki lahan di daerah padat penduduk seperti di Ibu Kota selalu memunculkan masalah tersendiri. Rapatnya jarak antarrumah warga membuat hawa terasa pengap. Bagi mereka yang memiliki dana berlebih dapat memutuskan untuk pindah dan membeli rumah di wilayah yang berbeda, dibandingkan dengan beradu dinding dengan hunian milik tetangga.

Bagi Anda yang masih merasa nyaman atau karena alasan tertentu tidak dapat meninggalkan wilayah padat penduduk itu, maka dapat mengaplikasikan konsep Inset House sebagai solusinya. Konsep bangunan ini berbentuk rumah dua lantai guna menyiasati keterbatasan lahan.

“Aturan dalam Inset House adalah mengaplikasikan tiga hal, yakni strive, intersection, dan tree,” tutur Hesby Rayandi, arsitek Delution.

Pertama, kata strive diartikan sebagai upaya untuk mengenali kekurangan dan kelebihan dari hunian Anda dari sudut pandang arsitektural. Contohnya jika hunian Anda menghadap ke barat maka akan mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup terik. Hal ini akan membuat suasana di dalam rumah menjadi pengap dan panas. Untuk mengantisipasi hal itu, pemilik hunian harus menggunakan penyaring panas melalui second layar pada fasad bangunan, atau memanfaatkan pepohonan.

Kedua, tanaman atau pohon juga dapat dijadikan sebagai titik pemisah atau titik potong antarruang (intersection). Hal ini karena pada hunian yang padat penduduk, biasanya rumah akan dibuat secara vertikal. Dengan demikian, tanaman dapat diposisikan di lantai dua. Posisi tanaman tersebut dapat menjadi titik fokus ruangan.

“Biasanya rumah di permukiman padat penduduk tidak memiliki view, jadi dengan adanya tanaman dapat memberi solusi,” kata Hesby.

Ketiga, aplikasi tree diwujudkan dengan memanfaatkan lahan yang tersisa untuk area tanaman. Sempitnya luas tanah tidak menjadi halangan bagi pemilik rumah untuk memiliki lahan hijau yang dibuat di depan rumah, di samping, dan di belakang rumah.

Dalam konsep Inset House selain dibuat taman juga dapat dibuat kolam ikan agar area taman tidak terkesan datar. Selain menambah keindahan bangunan, keberadaan kolam ikan juga dapat merefleksikan sebagian sinar matahari agar tidak langsung masuk ke dalam bangunan. Hasilnya suasana alami akan muncul dan paparan sinar matahari akan terasa lebih hangat.

 

Prinsip Hunian Hijau

Tiga aturan yang harus dipenuhi dari konsep Inset House ini membuat hunian yang dirancang oleh Firma Arsitektur Delution ini memenuhi tiga hal yakni hunian hijau, feed to behavior, dan branding identity.

Prinsip hunian hijau dapat dilihat dari suasana ruangan yang dingin dan tidak lembab karena aplikasi tanaman di luar ruang dan di dalam ruang. Selain itu, dengan konsep ini, maka jarak dinding pembatas ke hunian Anda harus diberi jarak 1 meter hingga 1,5 meter. Jarak ini akan berdampak pada kelancaran aliran udara. Cara ini mengadopsi cross ventilation sebagai jalur udara di mana, udara yang masuk, dapat dengan mudah mengalir keluar ruangan.

Prinsip feed to behavior merujuk pada karakter pemilik rumah yang dicerminkan dalam desain hunian. Feed to behavior berarti keinginan penghuni Inset House dapat diakomodasikan melalui pengaturan ruang yang tepat.

Area di lantai dasar dibiarkan luas tanpa dinding penyekat. Di lantai ini, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur dibiarkan menyatu tanpa batas. Tujuannya agar penghuni rumah dapat bersosialisasi dengan leluasa.

Hal ini juga termasuk saat Anda menerima tamu baik saudara maupun tetangga.

Pendek kata, area lantai dasar adalah area publik. Sementara itu, area lantai dua dapat dimanfaatkan sebagai area pribadi bagi penghuni rumah. Area lantai dua disekat untuk kamar tidur utama, kamar tidur anak, kamar tidur asisten rumah tangga, dan kamar mandi.

Hesby mengatakan bahwa gambaran karakter penghuni melalui rumah itu pada akhirnya akan berujung pada branding identity.

“Penghuni dari Inset House adalah orang yang sederhana, bersih, dan rapi. Karakter ini juga diwujudkan melalui pilihan cat warna dinding dan perabotan rumah. Warna netral seperti putih dan abu-abu, ditambah dengan motif kayu sangat menyejukkan mata,” katanya.

Hunian ini mencerminkan suasana yang ramah lingkungan, dan sarat interaksi sosial antaranggota keluarga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online