FESTIVAL FILM DOKUMENTER : Banjir Peserta tapi Penonton Minim

Arief Junianto
Arief Junianto Selasa, 09 Desember 2014 11:05 WIB
FESTIVAL FILM DOKUMENTER : Banjir Peserta tapi Penonton Minim

Harianjogja.com, JOGJA—Festival Film Dokumenter (FFD) berskala nasional yang melibatkan karya-karya film dokumenter baik Indonesia maupun internasional bakal digelar 10-13 Desember 2014.

Sekitar 59 film dokumenter bakal diputar di lima lokasi berbeda, yakni Tembi Rumah Budaya, IFI-LIP, Auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogja Library Center, dan Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

Meski sudah 12 kali digelar, persoalan yang dihadapi oleh FFD sepertinya tidak akan jauh berbeda. Minimnya jumlah penonton tidak sebanding dengan jumlah peserta yang ternyata terus meningkat.

"Persoalan film dokumenter dari dulu sampai sekarang ada pada penonton. Meski mengalami peningkatan, jumlah penontonnya masih sangat sedikit jika dibandingkan film cerita," ucap Franciscus Apriwan, Programmer Festival, seusai menggelar jumpa pers FFD 2014 di Shakilla Cafe, Jogja, Senin (8/12/2014).

Untuk gelaran FFD 2014, penyelenggara memilih tema Journey sebagai tema besarnya. Apriawan berharap tema itu memungkinkan film dokumenter menjadi ruang interaksi dengan penonton. Dengan begitu, jumlah penonton pun bisa bertambah.

Apriawan gembira dengan animo peserta yang kian banyak. Peserta yang mengikuti FFD 2014 pun tak lagi didominasi filmaker langganan festival saja. Banyak filmmaker baru yang bermunculan.

"Mereka [filmaker baru] juga sadar bahwa film dokumenter yang mereka bikin itu tidak ada penontonnya," cetusnya sambil tersenyum.

Terpisah, Direktur Festival Michael Adhi Chandra menjelaskan, FFD 2014 sudah dimulai dengan menggelar screening dan diskusi film yang dibawakan oleh Aneka Ria Sinema di Tembi Rumah Budaya, Minggu (7/12/2014) malam. Film yang diputar dalam acara itu yakni Horses of Fukushima, karya sineas Jepang Matsubayashi Yoji.

Dalam FFD 2014, Adhi Chandra telah menyiapkan empat program, yakni perspective, retrospective, special program, dan showcase.

Untuk perspective, pihaknya menitikberatkan kriteria pada gagasan tema Journey yang bertujuan memberikan informasi dan cara pandang baru penonton terhadap kondisi suatu tempat di belahan Bumi lain, sedangkan untuk retrospective, pihaknya menitikberatkan pada pengenalan estetika sinema seorang sineas internasional, Abraham Ravett.

Dalam special program, penyelenggara fokus pada gagasan yang membuka ruang dialog dan interaksi dari penonton dengan tagline Apa Kabar Film Dokumenter Indonesia, dan dalam showcase, pihaknya menghadirkan presentasi film-film dokumenter yang kualitasnya sudah diakui dunia, seperti dari Korean Docs Festival.

"Total dari 59 film yang ada, 37 di antaranya film pendek, sembilan film panjang, dan 13 film untuk kategori pelajar," imbuhnya.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis