Kisah Omah Wayang Jogja, Rumah Rampasan Koruptor yang Kini untuk Pelestarian Wayang

Newswire
Newswire Jum'at, 16 Oktober 2026 12:47 WIB
Kisah Omah Wayang Jogja, Rumah Rampasan Koruptor yang Kini untuk Pelestarian Wayang

Omah Wayang Jogja/Istimewa-Disbud DIY

Harianjogja.com, JOGJA—Sebuah bangunan di kawasan Kraton Jogja memiliki perjalanan yang tidak biasa. Bangunan yang dahulu menjadi milik terpidana korupsi Djoko Susilo itu kini dikenal sebagai Omah Wayang, ruang pelestarian seni pewayangan sekaligus tempat bertukar pengetahuan bagi para dalang.

Bangunan yang berada di Jalan Langenastran Kidul No. 7, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Jogja, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tersebut merupakan salah satu aset rampasan negara dari mantan Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Djoko Susilo.

Djoko terjerat kasus korupsi pengadaan simulator berkendara untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi (SIM) pada 2011 serta tindak pidana pencucian uang. Ia divonis 18 tahun penjara setelah menempuh upaya banding. Penanganan perkara tersebut dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Salah satu aset yang dirampas dalam perkara itu adalah rumah yang berlokasi tidak jauh dari Alun-Alun Kidul Jogja. Setelah melalui proses pengelolaan barang rampasan negara, bangunan tersebut akhirnya dimanfaatkan untuk mendukung pelestarian kebudayaan daerah.

Dari Aset Rampasan KPK Menjadi Omah Wayang

Jaksa Direktorat Pelacakan Aset, Pengelolaan Barang Bukti, dan Eksekusi (Labuksi) KPK, Suryo Sularso, menjelaskan proses pengelolaan bangunan dimulai setelah perkara Djoko Susilo berkekuatan hukum tetap atau inkrah berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Nomor 537 K/Pid.Sus/2014.

Setelah putusan tersebut, KPK melakukan lelang terhadap bangunan itu. Namun, dalam proses pengelolaan barang rampasan negara, KPK juga menjajaki kemungkinan pemanfaatan aset oleh pemerintah daerah.

KPK kemudian menawarkan bangunan tersebut kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY karena lokasinya berada di wilayah pemerintahan setempat.

Pemerintah daerah menyambut baik penawaran hibah tersebut dan mengajukan permohonan kepada KPK. Proses administrasi selanjutnya dilakukan melalui persetujuan pimpinan KPK hingga Kementerian Keuangan.

Penyerahan hibah bangunan itu tercatat pada 2022. Berdasarkan plakat yang terpasang di Omah Wayang, penyerahan dilakukan oleh mantan Wakil Ketua KPK Saur Situmorang bersama Sri Sultan Hamengku Buwono X dan BRM Herjuno Darpito.

Setelah menjadi aset yang dimanfaatkan Pemprov DIY, bangunan tersebut diberi nama Omah Wayang dan difungsikan sebagai ruang untuk mendukung kegiatan seni pedalangan.

Tempat Pertukaran Pengetahuan Pewayangan

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan Omah Wayang tidak hanya digunakan untuk menggelar pertunjukan, tetapi juga menjadi tempat pertukaran pengetahuan mengenai pewayangan dan pedalangan.

Hingga kini, tempat tersebut masih dimanfaatkan untuk pementasan wayang. Dalam satu bulan, agenda pertunjukan melibatkan tiga kelompok pedalangan, yakni Persatuan Pedalangan Ngayogyakarta (Pepadang), Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi DIY), serta Paguyuban Dalang Muda Yogyakarta (Sukrakasih).

“Jadi kami punya agenda kebudayaan per minggu, per bulan dan per tahun. Nah, sehingga Omah Wayang ini akan menjadi satu tempat tujuan yang mudah diketahui dengan berbagai aktivitas,” kata Dian.

Menurut Dian, keberadaan Omah Wayang di kawasan Kraton Jogja sejalan dengan nilai dan karakter kebudayaan Yogyakarta. Cerita-cerita dalam pertunjukan wayang dinilai dapat menjadi sarana menyampaikan pesan moral mengenai kehidupan masyarakat.

Omah Wayang diharapkan mampu menggerakkan ekosistem pewayangan sekaligus menjaga agar nilai-nilai budaya tetap hidup melalui aktivitas para seniman.

“Bagaimana nilai-nilai penting menjadi manusia yang baik dan benar, itu diterjemahkan dan direpresentasikan dalam aktivitas-aktivitas cerita-cerita lakon-lakon yang dimainkan oleh teman-teman di Pepadi dan juga Pepadang dan Sukrakasih,” ucapnya.

Selain menggelar pertunjukan, Pemprov DIY juga menyelenggarakan kegiatan Bulan Warisan Dunia yang berlangsung selama sekitar tiga bulan pada tahun ini. Omah Wayang menjadi salah satu lokasi kegiatan untuk mengapresiasi karya budaya Yogyakarta yang telah diakui UNESCO.

Regenerasi Dalang dari Anak hingga Dewasa

Salah satu tantangan dalam pelestarian wayang adalah memastikan tersedianya generasi penerus yang memiliki keterampilan dan minat terhadap seni pedalangan.

Ketua Pepadi Edi Suwondo mengatakan masih ada anggapan di masyarakat bahwa profesi dalang hanya dapat dijalani oleh mereka yang berasal dari keluarga dalang. Namun, perkembangan dalang cilik dan dalang muda menunjukkan bahwa keterampilan tersebut juga dapat tumbuh melalui proses belajar dan latihan.

Ia mengaku bangga melihat kemampuan generasi muda yang mampu memainkan wayang kulit sekaligus wayang golek. Menurutnya, kedua jenis wayang tersebut memiliki tingkat kesulitan tersendiri.

"Kalau yang seangkatan saya, malah kalah sebenarnya. Kalah skill kalau dalang anak remaja sekarang ini bisa wayang golek, wayang kulit, tapi yang seangkatan saya, seadik-adik saya, yang sekarang itu dalang muda, belum tentu bisa dua-duanya. Ini sebuah kebanggaan kami," ujarnya.

Edi menilai keberadaan dalang muda menjadi harapan bagi keberlanjutan seni pewayangan. Ia juga mengapresiasi dukungan Dinas Kebudayaan DIY yang memfasilitasi kegiatan para seniman, termasuk Festival Dalang Anak dan Remaja yang dimulai dari seleksi tingkat kecamatan di seluruh DIY.

Bagi Edi, pembinaan tersebut penting agar kemampuan pedalangan dapat terus berkembang dan tidak terputus ketika generasi senior berhenti berkarya.

Omah Wayang Jadi Ruang Belajar Seniman Muda

Harapan serupa disampaikan Bayu Aji Nugroho, dalang muda sekaligus anggota Sukrakasih. Ia berharap Omah Wayang dapat menjadi tempat berkumpul bagi siswa, pelajar, dan anak didik sanggar seni yang tertarik mendalami dunia pewayangan.

Upaya mengenalkan seni pedalangan dilakukan melalui pementasan serta publikasi di media sosial, sekolah seni, dan berbagai sanggar. Dengan berkunjung ke Omah Wayang, generasi muda diharapkan dapat mengenal para dalang dan membuka kesempatan untuk bergabung dengan organisasi pedalangan.

Menurut Bayu, ketertarikan terhadap wayang dapat tumbuh secara bertahap. Anak-anak dan pelajar tidak harus langsung tampil dalam pertunjukan, tetapi dapat terlebih dahulu mengenal para seniman dan membangun hubungan dengan komunitas pedalangan.

“Nah melalui kunjungan dari mereka itu, mereka otomatis pertama akan tertarik. Kemudian yang kedua, mereka akan terseleksi, oh ternyata ini sampai di tempat ini, di Omah Wayang ini, mereka berjalan waktu akan tergabung dalam organisasi, meski pun tidak langsung pentas tapi mereka bisa mengenal terlebih dahulu antar seniman dalang,” jelas dia.

Bayu berharap kegiatan tersebut dapat membantu memperluas minat generasi muda terhadap wayang sekaligus meneruskan perjuangan para seniman dalam menjaga kesenian tradisional.

Kini, bangunan yang berasal dari aset rampasan perkara korupsi itu memiliki fungsi baru sebagai ruang kebudayaan. Melalui pertunjukan, pembelajaran, dan regenerasi dalang, Omah Wayang menjadi salah satu tempat untuk menjaga agar seni pewayangan tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online