Bawa Anak ke Rumah Sakit Rujukan? Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua

Newswire
Newswire Jum'at, 18 September 2026 22:17 WIB
Bawa Anak ke Rumah Sakit Rujukan? Ini yang Perlu Diketahui Orang Tua

Ilustrasi pemeriksaan kesehatan anak/magnific

Harianjogja.com, JAKARTA—Orang tua perlu memahami sejumlah hal ketika bayi atau anak membutuhkan perawatan di rumah sakit rujukan. Proses rujukan pasien, khususnya bayi baru lahir dalam kondisi kritis, tidak sekadar memindahkan pasien dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya.

Proses membawa anak ke rumah sakit rujukan dapat membutuhkan waktu karena mencakup sejumlah tahapan. Mulai dari urusan administrasi, komunikasi dan konsultasi dengan dokter di rumah sakit tujuan, hingga proses pemindahan pasien harus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi medis pasien.

Kondisi bayi dan anak yang kritis juga membuat proses rujukan harus berpacu dengan waktu. Namun, tidak semua pasien bayi atau anak harus langsung dibawa ke rumah sakit rujukan.

TeleNICU dan TelePediatrics untuk Konsultasi Jarak Jauh

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini menggandeng rumah sakit besar yang selama ini menjadi rujukan untuk mengembangkan layanan konsultasi jarak jauh melalui sistem TeleNICU dan TelePediatrics.

Pengembangan sistem tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat layanan telekonsultasi antar fasilitas kesehatan, terutama untuk menangani pasien yang membutuhkan perawatan intensif.

Rumitnya proses rujukan pasien menjadi salah satu perhatian dalam peluncuran layanan yang dilakukan Kemenkes bersama Rumah Sakit Anak dan Bunda (RSAB) Harapan Kita, Jakarta.

Direktur Medik dan Keperawatan RSAB Harapan Kita, dr. Endah Citraresmi, mengatakan kondisi bayi perlu dilihat terlebih dahulu sebelum keputusan rujukan dilakukan.

“Kalau ada bayi baru lahir, dilihat dulu kondisinya, sehingga pasien tidak perlu dirujuk ketika kasus bisa diselesaikan di rumah sakit masing-masing,” jelas dr. Endah Citraresmi, di Jakarta, pada Rabu (16/9/2026).

Menurut dia, penilaian terhadap kondisi pasien menjadi penting agar bayi atau anak yang sebenarnya masih dapat ditangani di rumah sakit asal tidak perlu menjalani proses pemindahan ke rumah sakit lain.

Sementara itu, Direktur Pelayanan Klinis Kemenkes, dr. Obrin Parulian, menegaskan bahwa telekonsultasi bukanlah pengganti sistem rujukan yang sudah berjalan.

“Bukan menggantikan sistem rujukan, tapi meningkatkan pelayanan, yang memang perlu dirujuk, itulah yang akan dirujuk,” kata dr. Obrin Parulian.

Data Medis Penting dalam Proses Rujukan Anak

Dalam proses membawa bayi atau anak ke rumah sakit rujukan, orang tua mungkin menganggap persiapan hanya berkaitan dengan surat rujukan dan identitas pasien.

Padahal, informasi medis yang lengkap menjadi bagian penting dalam proses rujukan. Berdasarkan Permenkes Nomor 16 Tahun 2024 tentang Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perseorangan yang saat ini berlaku, fasilitas kesehatan yang merujuk memiliki sejumlah kewajiban sebelum pasien dipindahkan.

Fasilitas kesehatan perujuk perlu melengkapi data administrasi dan medis, berkomunikasi dengan fasilitas kesehatan penerima, membuat surat rujukan, serta memastikan pasien berada dalam kondisi stabil dan siap untuk dirujuk.

Dengan demikian, sebagian besar dokumen dan data yang dibutuhkan dalam proses rujukan merupakan tanggung jawab fasilitas kesehatan. Orang tua tidak harus menyiapkan seluruh kebutuhan tersebut secara mandiri.

Telekonsultasi Bantu Pastikan Rumah Sakit Tujuan Siap

Layanan telekonsultasi melalui TeleNICU dan TelePediatrics diharapkan membantu fasilitas kesehatan menentukan apakah pasien benar-benar membutuhkan rujukan.

Untuk pasien yang membutuhkan rumah sakit rujukan, layanan tersebut dapat membantu memastikan kondisi pasien sudah stabil dan layak dipindahkan. Fasilitas kesehatan tujuan juga dapat dipastikan siap memberikan penanganan lanjutan sesuai kondisi pasien.

Karena itu, orang tua tidak perlu risau ketika tenaga kesehatan menyatakan bayi atau anak tidak perlu dirujuk ke rumah sakit lain. Keputusan tersebut dilakukan berdasarkan penilaian terhadap kondisi pasien dan kemampuan fasilitas kesehatan dalam menangani kasus yang dihadapi.

Kondisi kritis pada bayi dan anak memang menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika penanganan harus dilakukan dengan cepat. Telekonsultasi diharapkan dapat membuat alur penanganan lebih efisien sekaligus mengurangi risiko kelebihan kapasitas di rumah sakit utama.

Hasil telekonsultasi nantinya dapat menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan berikutnya. Jika pasien memang membutuhkan rujukan, persiapan penanganan dapat dilakukan sejak awal di rumah sakit tujuan.

Persiapan itu termasuk memastikan dokter spesialis serta fasilitas yang dibutuhkan pasien telah tersedia ketika bayi atau anak tiba. Dengan demikian, tim medis di rumah sakit rujukan tidak perlu kembali memulai pemeriksaan dari awal sehingga penanganan dapat dilanjutkan berdasarkan kondisi dan informasi medis pasien.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online