Abu Vulkanik Masuk Makanan dan Air, Ini Risikonya

Jumali
Jumali Senin, 07 September 2026 19:37 WIB
Abu Vulkanik Masuk Makanan dan Air, Ini Risikonya

Kepala Perum LKBN Antara Provinsi Banten Bayu Kuncahyo (kanan) membagikan masker kepada nelayan di Tempat Pelelangan Ikan Pasauran, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (6/9/2026). Pembagian masker secara swadaya tersebut bertujuan untuk melindungi pernapasan warga dan nelayan setempat dari paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sekaligus mengantisipasi risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Antara/Muhammad Bagus Khoirunas/wsj.

Harianjogja.com, JOGJA— Abu vulkanik dari erupsi gunung api tidak hanya mengganggu kualitas udara dan aktivitas warga. Material berukuran sangat halus tersebut juga dapat terbawa angin, mengendap di berbagai permukaan, lalu mencemari makanan, minuman, maupun sumber air yang tidak terlindungi.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di wilayah terdampak hujan abu perlu memperhatikan bukan hanya perlindungan saluran pernapasan, tetapi juga keamanan makanan dan air yang dikonsumsi.

World Health Organization (WHO) menyebut erupsi gunung api dapat menimbulkan risiko kontaminasi makanan dan air akibat abu serta bahan kimia yang dilepaskan selama erupsi.

Abu vulkanik sendiri berbeda dengan abu hasil pembakaran. Material tersebut terbentuk dari partikel yang dikeluarkan gunung api saat terjadi erupsi dan ukurannya dapat sangat kecil sehingga mudah terbawa angin.

Abu Vulkanik Dapat Menyebar Jauh

Sebaran abu vulkanik tidak selalu berhenti di sekitar gunung yang mengalami erupsi. Arah dan luas penyebarannya dapat mengikuti kondisi angin sehingga material tersebut dapat mencapai wilayah yang cukup jauh dari sumber erupsi.

BMKG juga memiliki produk pemantauan sebaran abu vulkanik untuk mengetahui pergerakan material tersebut di atmosfer. Dalam perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026, BMKG memantau sebaran abu yang bergerak ke sejumlah wilayah di sekitar Selat Sunda dan berdampak terhadap aktivitas penerbangan.

Ketika abu telah mencapai permukaan, material tersebut dapat menempel pada kendaraan, bangunan, peralatan rumah tangga, makanan yang terbuka, serta permukaan air.

Kondisi menjadi lebih perlu diperhatikan apabila makanan atau minuman yang telah terkena abu kemudian dikonsumsi.

WHO menjelaskan bahwa abu dan bahan kimia dari erupsi dapat menimbulkan risiko terhadap keamanan makanan dan air. Karena itu, perlindungan terhadap kedua sumber konsumsi tersebut menjadi bagian penting dalam mitigasi setelah erupsi.

Makanan dan Air Harus Terlindungi

Masyarakat yang berada di daerah terdampak hujan abu sebaiknya memastikan makanan selalu berada dalam kondisi tertutup. Wadah penyimpanan air juga perlu ditutup untuk mencegah abu masuk ke dalamnya.

Makanan yang dibiarkan terbuka selama hujan abu berisiko terkena endapan material vulkanik. Risiko serupa berlaku pada sumber air terbuka yang tidak terlindungi dari jatuhan abu.

Abu vulkanik tidak dapat diperlakukan sebagai debu biasa karena material tersebut berasal dari aktivitas gunung api dan dapat membawa komponen mineral maupun bahan kimia tertentu.

WHO dalam materi mengenai kesehatan dan emisi vulkanik menyebut abu perlu dibersihkan dari makanan dan disaring dari air sebelum dikonsumsi.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi makanan dan sumber air setelah terjadi hujan abu. Produk makanan atau minuman yang telah terkontaminasi perlu ditangani sesuai panduan otoritas kesehatan dan kebencanaan setempat.

Langkah pencegahan juga perlu dilakukan terhadap lingkungan sekitar. Abu yang telah mengendap dapat kembali beterbangan ketika terkena angin atau saat aktivitas pembersihan dilakukan tanpa metode yang tepat.

Abu dan Gas Vulkanik Sama-Sama Berisiko

Ancaman erupsi terhadap kesehatan tidak hanya berasal dari abu. Gunung api juga dapat melepaskan berbagai jenis gas ke atmosfer yang memiliki karakteristik dan tingkat bahaya berbeda.

Beberapa gas yang dapat dilepaskan selama aktivitas vulkanik antara lain karbon dioksida (CO2), sulfur dioksida (SO2), hidrogen klorida (HCl), hidrogen sulfida (H2S), radon (Rn), hidrogen fluorida (HF), dan asam sulfat (H2SO4).

Tidak semua gas vulkanik mudah dikenali. Sebagian gas tidak berwarna atau memiliki karakteristik yang membuat keberadaannya sulit diketahui hanya dengan mengandalkan indera penciuman.

Dampak yang muncul juga bergantung pada jenis gas serta konsentrasi dan lama paparan. Gangguan kesehatan dapat berupa iritasi mata dan saluran pernapasan, sakit kepala, pusing, gangguan penglihatan, hingga kesulitan bernapas.

CDC menyebut paparan akut terhadap jenis gas vulkanik tertentu dapat menyebabkan seseorang kehilangan kesadaran dalam hitungan menit dan pada kondisi tertentu dapat berujung pada kematian.

Paparan Jangka Panjang Juga Perlu Diwaspadai

Risiko kesehatan akibat abu dan gas vulkanik tidak selalu berhenti ketika hujan abu berakhir. Paparan yang berlangsung lebih lama juga dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan tertentu.

CDC menyebut paparan jangka panjang terhadap gas dan abu vulkanik dikaitkan dengan bronkitis dan infeksi paru. Paparan tersebut juga berkaitan dengan gangguan pernapasan, termasuk penyakit paru-paru dan kanker paru-paru.

Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu mengurangi paparan terhadap abu maupun gas vulkanik sesuai arahan otoritas terkait.

Perlindungan terutama diperlukan ketika aktivitas gunung api masih berlangsung atau ketika abu yang telah mengendap berpotensi kembali beterbangan.

Cara Mengurangi Risiko Paparan Abu Vulkanik

Langkah sederhana dapat dilakukan untuk mengurangi risiko kontaminasi makanan dan air selama terjadi hujan abu.

Makanan sebaiknya disimpan dalam wadah tertutup. Wadah air dan sumber air terbuka juga perlu mendapatkan perlindungan agar tidak menjadi tempat jatuhnya abu.

Setelah hujan abu, kebersihan lingkungan perlu diperhatikan untuk mencegah material kembali beterbangan. Penanganan endapan abu juga perlu dilakukan dengan memperhatikan petunjuk dari pemerintah daerah dan otoritas kebencanaan.

Masyarakat juga perlu memperhatikan informasi resmi mengenai aktivitas gunung api, arah sebaran abu, serta rekomendasi kesehatan dan keselamatan yang dikeluarkan lembaga berwenang.

Pada akhirnya, kewaspadaan terhadap erupsi tidak hanya berkaitan dengan ancaman abu yang terhirup. Makanan, minuman, dan sumber air juga perlu dilindungi karena abu dan bahan kimia hasil erupsi dapat menimbulkan risiko kontaminasi.

Perhatian terhadap paparan gas vulkanik juga tidak kalah penting. Beberapa jenis gas dapat menimbulkan dampak kesehatan serius dan tidak selalu mudah dikenali tanpa informasi atau pemantauan dari pihak berwenang.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online