Christopher Nolan Sebut AI Kuda Troya Kaca, Semua Bisa Lihat Bahayanya

Jumali
Jumali Sabtu, 01 Agustus 2026 22:07 WIB
Christopher Nolan Sebut AI Kuda Troya Kaca, Semua Bisa Lihat Bahayanya

Ilustrasi Artificial Intelligence - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Sutradara peraih Oscar, Christopher Nolan, mengibaratkan kecerdasan buatan (AI) sebagai "Kuda Troya" atau Trojan Horse transparan. Sebuah analogi untuk menggambarkan bahwa orang-orang bisa melihat AI menyimpan potensi bahaya di balik manfaat yang ditawarkan.

Pendapat tersebut disampaikan Nolan dalam wawancara bersama YouTuber asal Prancis, Hugo Travers (HugoDécrypte), saat membahas film terbarunya, The Odyssey.

Dalam wawancara berdurasi total sekitar 30 menit itu, Travers mengaitkan kisah Kuda Troya yang menjadi elemen penting dalam mitologi Yunani kuno sekaligus film terbaru Nolan dengan perkembangan AI saat ini.

Kisah Kuda Troya atau Trojan Horse sendiri merupakan strategi yang dilakukan oleh orang-orang Yunani untuk memasuki kota Troya dan memenangkan perang yang berlangsung selama 10 tahun.

Tokoh bernama Odysseus merancang kuda kayu besar berongga yang dibuat oleh Epeius. Kuda itu kemudian digunakan sebagai tipu daya di mana sebagian pasukan Yunani bersembunyi di dalam kuda tersebut dan sisanya berpura-pura berlayar pulang.

Berangkat dari kisah tersebut, Travers bertanya apakah AI bisa menjadi "hadiah" yang diterima masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi pada akhirnya berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Menanggapi pertanyaan tersebut, Nolan justru menilai analogi itu kurang tepat.

"Saya rasa AI adalah Kuda Troya yang semua orang sudah tahu ada orang Yunani di dalamnya," ujar Nolan sambil tertawa. Ia kemudian menambahkan bahwa AI ibarat kuda transparan yang terbuat dari kaca, sehingga semua orang sebenarnya bisa melihat apa yang ada di dalamnya. "Ini kuda yang transparan, terbuat dari kaca. Semua orang bisa melihat apa yang ada di dalamnya," lanjut filmmaker kelahiran London tahun 1970 itu. Menurut Nolan, yang menarik bukan hanya perkembangan AI yang sangat cepat, melainkan bagaimana teknologi tersebut justru memancing skeptisisme bahkan penolakan luas dari masyarakat. "Saya belum pernah melihat teknologi yang berkembang secepat ini tetapi pada saat yang sama ditolak publik sedemikian besar," kata Nolan.

Ia menilai generasi muda justru menjadi kelompok yang paling skeptis terhadap AI. Sebagai contoh, Nolan menyoroti munculnya istilah "AI slop". Sebutan yang digunakan warganet untuk konten AI yang dianggap berkualitas rendah, berulang, atau tidak memiliki nilai kreatif.

"Reaksi terhadap video AI di internet, terutama dari anak-anak seusia anak saya yang langsung menyebutnya AI slop dan memasukkannya ke dalam kategori itu, menurut saya merupakan skeptisisme yang sangat sehat," ujar Nolan. Menurut Nolan, teknologi memang mampu menghadirkan banyak manfaat, tetapi tetap harus dipandang secara kritis.

"Teknologi selalu membawa hadiah besar. Namun kita harus melihatnya dengan sikap skeptis," kata Nolan.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak hanya mempertanyakan teknologinya, tetapi juga pihak-pihak yang mengembangkannya.

"Motif orang-orang yang memberikan teknologi itu kepada kita juga harus dipertanyakan. Dengan begitu kita bisa mendapatkan manfaat terbaik dari teknologi baru, bukan sekadar percaya bahwa semuanya pasti akan baik-baik saja," lanjut dia.

Meski kerap dikenal sebagai pendukung penggunaan film analog dan kamera IMAX dibanding format digital, Nolan menegaskan dirinya bukan anti teknologi.

Dalam wawancara terpisah dengan The New York Times, sutradara di balik judul-judul besar seperti Oppenheimer, Interstellar, hingga The Dark Knight tersebut menyebut dirinya lebih tepat disebut sebagai "techno-skeptic" atau orang yang bersikap kritis terhadap teknologi.

Menurut Nolan, ia tetap menerima perkembangan teknologi baru, tetapi tidak setuju jika teknologi tersebut langsung menggantikan sistem lama yang masih relevan. "Saya selalu menerima teknologi baru. Tetapi sering kali teknologi baru dijual dengan mengorbankan sistem yang sebenarnya masih layak digunakan," kata Nolan.

Tech Crunch mengungkapkan, komentar Nolan muncul di tengah meningkatnya perdebatan mengenai penggunaan AI di industri hiburan. Teknologi AI generatif menjadi salah satu isu utama dalam aksi mogok penulis dan aktor Hollywood pada 2023 karena dikhawatirkan menggantikan pekerjaan kreatif manusia.

Sebagai Presiden Directors Guild of America (DGA), Nolan juga terlibat dalam upaya organisasi tersebut memperoleh perlindungan terhadap penggunaan AI generatif dalam kontrak kerja terbaru bagi para sutradara. Pandangan Nolan ini menjadi pengingat bahwa di tengah euforia teknologi, sikap kritis dan pertanyaan tentang etika serta motif di balik pengembangan AI tetap penting untuk terus digaungkan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online