Jejak Karya Nasirun dari Kritik Kemiskinan hingga Satire Politik

Jumali
Jumali Sabtu, 01 Agustus 2026 18:07 WIB
Jejak Karya Nasirun dari Kritik Kemiskinan hingga Satire Politik

Nasirun/Instagram

Harianjogja.com, JOGJA—Wafatnya Nasirun pada Sabtu (1/8/2026) menandai berakhirnya perjalanan salah satu maestro seni rupa kontemporer paling berpengaruh di Indonesia. Namun, bagi banyak kalangan seni, kepergian perupa asal Cilacap tersebut tidak menghentikan pengaruh yang telah ia bangun selama puluhan tahun melalui karya-karyanya.

Nasirun dikenal sebagai seniman yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas dalam satu kanvas. Lahir di Cilacap pada 1965 dan menempuh pendidikan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, ia tumbuh menjadi figur penting dalam perkembangan seni rupa nasional dengan basis kreativitas yang kuat di Yogyakarta.

Selama lebih dari tiga dekade berkarya, Nasirun tidak pernah terjebak dalam satu bentuk ekspresi. Ia menjelajahi berbagai medium mulai dari lukisan, patung, hingga instalasi. Meski demikian, benang merah yang selalu hadir dalam karya-karyanya adalah kedekatan dengan budaya Jawa, mitologi, spiritualitas, dan refleksi sosial yang tajam.

Pengakuan terhadap kualitas karyanya tidak hanya datang dari dalam negeri. Sejumlah karya Nasirun pernah dipamerkan di berbagai forum internasional, termasuk di National Gallery of Australia. Kehadiran karya-karyanya di panggung global menunjukkan bahwa narasi lokal yang ia usung mampu berbicara kepada publik yang lebih luas.

Perjalanan artistik Nasirun mengalami perkembangan yang menarik dari waktu ke waktu. Pada era 1990-an, ia banyak mengangkat persoalan kemanusiaan melalui figur manusia, topeng, dan simbol-simbol sosial yang kuat. Gaya ekspresionistik menjadi salah satu ciri yang menonjol dalam periode awal tersebut.

Salah satu karya yang sering disebut sebagai penanda fase awal perjalanan kreatifnya adalah Gayuh Buli-Buli yang dibuat pada 1992. Karya itu memperlihatkan bagaimana Nasirun mulai membangun bahasa visual yang kelak menjadi identitas khasnya.

Memasuki dekade 2000-an, tema yang diangkat semakin luas. Cerita-cerita pewayangan menjadi medium untuk membicarakan persoalan kekuasaan, moralitas, hingga dinamika kehidupan modern. Pada fase ini lahir karya-karya monumental seperti Sumantri Dadi Rojo dan Kabotan Sungu yang memperlihatkan kemampuan Nasirun mengolah narasi tradisional menjadi kritik sosial yang relevan dengan kehidupan kontemporer.

Periode tersebut juga menjadi titik penting ketika karya-karyanya semakin dikenal luas karena keberanian mengangkat isu-isu sosial melalui simbol budaya yang dekat dengan masyarakat Jawa.

Memasuki dekade 2010-an, eksplorasi kreatif Nasirun kembali berkembang. Ia mulai menghadirkan satire yang lebih terbuka terhadap dunia politik, perkembangan teknologi, hingga fenomena dalam ekosistem seni rupa itu sendiri.

Karya-karya seperti Calon Presiden Seni Rupa Indonesia (2011), Begawan Google (2012), dan Sultan Seni Rupa (2014) menunjukkan bagaimana ia merespons perubahan zaman dengan pendekatan kritis sekaligus jenaka. Kritik yang disampaikan tidak hadir secara frontal, tetapi dibungkus melalui simbol, metafora, dan humor yang menjadi kekuatan utama karya-karyanya.

Pada masa yang sama, Nasirun juga mulai bereksperimen dengan berbagai medium non-konvensional. Instalasi Between Worlds yang memanfaatkan wayang dalam botol menjadi salah satu contoh keberaniannya menembus batas-batas tradisional seni rupa. Ia juga menggunakan berbagai benda temuan dan stempel antik sebagai bagian dari eksplorasi artistiknya.

Eksperimen tersebut memperlihatkan bahwa Nasirun merupakan seniman yang terus berkembang. Ia tidak pernah berhenti mencari kemungkinan baru dalam berkarya meski telah memperoleh pengakuan luas.

Menjelang akhir perjalanan hidupnya, perhatian Nasirun semakin tertuju pada benda-benda yang menyimpan jejak sejarah dan memori. Ketertarikan itu terlihat jelas dalam pameran Memorabilia pada 2025.

Melalui pameran tersebut, berbagai objek sehari-hari seperti blawong keris, stempel logam, hingga payung tua dihadirkan sebagai bagian dari narasi visual yang menghubungkan masa lalu dan masa kini. Benda-benda itu bukan sekadar objek, melainkan simbol ingatan kolektif yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

Puncak eksplorasi tersebut tampak dalam pameran Menyongsong Matahari 2026 yang menampilkan karya Selamat Pagi 2026. Pameran itu menjadi salah satu penanda bahwa hingga akhir hayatnya, Nasirun tetap aktif berkarya dan menghadirkan gagasan-gagasan baru.

Deretan karya yang pernah ia hasilkan menunjukkan keluasan imajinasi sekaligus kedalaman pemikirannya. Mulai dari Gayuh Buli-Buli, Sumantri Dadi Rojo, Begawan Google, Hutan Dilipat, hingga instalasi Buroq, semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang seniman yang tidak pernah berhenti berdialog dengan zamannya.

Kini, ketika Nasirun telah berpulang, karya-karya tersebut menjadi warisan penting bagi seni rupa Indonesia. Melalui setiap goresan, simbol, dan instalasi yang ditinggalkannya, Nasirun seolah mengingatkan bahwa seni bukan sekadar keindahan visual, melainkan cara merekam sejarah, menyampaikan kritik, dan menjaga ingatan kolektif masyarakat.

Warisan itulah yang membuat nama Nasirun akan terus hidup dalam perjalanan seni rupa Indonesia, jauh melampaui masa hidup sang maestro.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online