Russell Goda Hamilton Soal Kim Kardashian Jelang GP Inggris
Lewis Hamilton jadi sorotan jelang GP Inggris 2026 setelah George Russell bercanda soal hubungannya dengan Kim Kardashian di sesi wawancara Silverstone.
Foto ilustrasi pengasuhan anak dibuat oleh Artificial Intelligence ChatGpt.
Harianjogja.com, JOGJA— Dunia pengasuhan anak seolah tidak pernah kehabisan istilah baru. Setelah beberapa dekade terakhir didominasi oleh tren helicopter parenting dan tiger moms yang menuntut pengawasan super ketat serta target prestasi tinggi, kini muncul sebuah gerakan tandingan yang sedang viral: Beta Moms.
Dipopulerkan kembali melalui diskusi hangat di media sosial seperti TikTok hingga ulasan mendalam di The Wall Street Journal, fenomena Beta Moms menjadi angin segar bagi para ibu yang kelelahan menghadapi ekspektasi sosial. Gaya asuh ini berfokus pada ketenangan, fleksibilitas, dan kebahagiaan emosional, baik untuk anak maupun orang tua itu sendiri. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Beta Mom, dan mengapa gaya asuh ini dinilai jauh lebih menyenangkan?
Apa Itu Beta Mom?
Dilansir dari Parents, Beta Mom adalah istilah untuk menggambarkan para ibu yang memilih pendekatan pengasuhan yang lebih santai (relaxed parenting). Gaya asuh ini merupakan kebalikan dari Alpha Mom atau Tiger Mom yang cenderung kompetitif dan perfeksionis dalam merancang masa depan anak. Alih-alih memperlakukan pola asuh layaknya proyek korporat yang harus serba sempurna, seorang Beta Mom memprioritaskan prinsip "good enough" atau menjadi ibu yang "cukup baik".
Mereka tidak terobsesi untuk mengoptimalkan setiap detik waktu anak dengan les atau kegiatan terstruktur. Sebaliknya, mereka memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengeksplorasi dunia secara mandiri, melakukan kesalahan, dan belajar menyelesaikan masalah sendiri dalam batas aman.
Ivy Lynn Ellis, seorang terapis yang berspesialisasi dalam kasus kejenuhan orang tua (parental burnout) dan kesehatan mental ibu, menjelaskan karakteristik mendasar dari gaya asuh ini.
"Seorang beta mom memprioritaskan fleksibilitas, kebebasan, dan regulasi emosional," kata Ivy Lynn Ellis. Bagi mereka, menjaga regulasi emosi di dalam rumah jauh lebih penting daripada memaksakan rutinitas harian yang kaku.
Mengapa Tren Ini Muncul Sekarang?
Kembalinya tren ini didorong oleh fenomena kejenuhan massal (burnout) yang dialami oleh para ibu modern. Berdasarkan analisis psikologis, keterlibatan orang tua yang berlebihan (hyper-involved parenting) yang dimulai sejak era 1990-an terbukti menguras energi mental para ibu secara luar biasa. Tuntutan akan beban kerja tak terlihat (invisible labor), seperti menyusun jadwal anak yang rumit, memastikan rumah selalu rapi estetis, hingga mempersiapkan anak agar bisa menembus sekolah elite, kini mulai ditolak.
Selain itu, para ahli mencatat meskipun helicopter parenting berniat baik untuk melindungi anak, gaya asuh tersebut tidak selalu menjamin anak berprestasi lebih baik secara akademis. Justru, anak-anak yang tumbuh di bawah pengawasan yang terlalu ketat kerap kali rentan stres dan kurang mandiri. Melihat dampak tersebut, banyak ibu yang memutuskan untuk "melepaskan kendali". Mereka menyadari bahwa masa kanak-kanak seharusnya diisi dengan bermain, bukan hanya berkompetisi.
Tanda-Tanda Anda adalah Seorang Beta Mom
Gaya asuh Beta Mom bukanlah tentang ketidakpedulian atau penelantaran anak, melainkan sebuah pilihan sadar untuk menciptakan batasan yang sehat. Berikut adalah beberapa ciri utama dari seorang Beta Mom:
1. Menolak Kompetisi Ibu-Ibu
Seorang Beta Mom tidak tertarik untuk memenangkan "kompetisi" menjadi ibu terbaik. Mereka tidak akan stres hanya karena kotak bekal anak tidak dihias secantik bento di media sosial, atau merasa bersalah jika lupa berpartisipasi aktif dalam grup obrolan komite sekolah. Fokus mereka adalah fungsi dan kasih sayang di dalam rumah, bukan validasi dari luar.
2. Jadwal dan Rutinitas yang Fleksibel
Meskipun memiliki rencana harian, mereka tidak ragu membatalkan atau mengubah rencana tersebut demi kenyamanan bersama. Jika anak sedang asyik bermain, jam tidur mungkin bisa bergeser sedikit lebih malam. Makan malam pun tidak harus selalu berupa hidangan mewah; sekadar sereal atau makanan pesan antar (take-out) saat ibu sedang lelah bukanlah sebuah dosa besar.
Lisa Greenstein, seorang klinisi bersertifikat di bidang kesehatan mental perinatal, menekankan pentingnya fleksibilitas ini bagi perkembangan psikologis anak. Menurutnya, pengasuhan pada dasarnya tidak dapat diprediksi, dan anak-anak justru mendapat manfaat besar saat melihat orang dewasa beradaptasi tanpa mengubah setiap gangguan menjadi krisis. "Sangat penting bagi orang tua untuk merasa aman dan teregulasi bahkan ketika rencana berubah, sehingga mereka dapat mencontohkan hal itu kepada anak-anak mereka. Jika setiap perubahan kecil atau gangguan menyebabkan orang tua menjadi tidak teregulasi, anak-anak akan menangkap hal itu dan mungkin mulai merasa tidak aman," jelas Lisa Greenstein.
3. Mengandalkan Intuisi Sendiri
Anda tidak akan menemukan tumpukan buku panduan pengasuhan anak yang kaku di rumah seorang Beta Mom. Mereka juga tidak mendikte gaya asuh mereka berdasarkan tips dari para pembuat konten (momfluencer). Dokter psikologi Dr. Guarnotta menjelaskan bahwa seorang Beta Mom lebih mengandalkan naluri mereka sendiri dan isyarat langsung dari anak. "Beta Moms sangat mengandalkan perasaan mereka sendiri dan isyarat anak mereka. Dia memahami bahwa dialah ahli bagi anaknya sendiri, dan dia percaya pada dirinya sendiri untuk membuat keputusan yang baik dan mengabaikan kebisingan dari luar," papar Dr. Guarnotta.
4. Menghargai Kemandirian dan Proses Belajar dari Kesalahan
Di tingkat praktis, pola asuh ini terlihat dari bagaimana orang tua memberikan kepercayaan pada anak. Ketika anak-anak masih kecil, hal ini diwujudkan dengan membiarkan mereka bermain di luar tanpa pengawasan yang mencekik, atau melatih mereka bermain mandiri dalam durasi yang lama. Saat anak menginjak usia remaja, prinsip utamanya adalah memberikan kepercayaan penuh hingga terbukti sebaliknya. Bagi mereka, membuat kesalahan di depan anak atau membiarkan anak mengalami kegagalan kecil adalah bagian dari proses edukasi. Hal ini menormalisasi bahwa manusia tidak ada yang sempurna dan mengajarkan anak bagaimana cara bangkit kembali (resilience).
Pada akhirnya, tren Beta Mom bukanlah sebuah penemuan formula baru, melainkan sebuah gerakan untuk kembali ke akar pengasuhan masa lalu yang lebih masuk akal. Ini adalah pengakuan jujur bahwa seorang ibu memiliki keterbatasan waktu dan energi, dan tidak semua detik dalam hidup harus dihabiskan untuk memacu prestasi anak. Dengan menurunkan standar ekspektasi ke tingkat yang lebih realistis, Beta Moms berhasil menciptakan ruang keluarga yang minim tekanan, penuh tawa, dan yang terpenting: lebih bahagia bagi semua anggotanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lewis Hamilton jadi sorotan jelang GP Inggris 2026 setelah George Russell bercanda soal hubungannya dengan Kim Kardashian di sesi wawancara Silverstone.
Inggris hadapi Meksiko di 16 besar Piala Dunia 2026. Tuchel terancam dipecat jika gagal di Azteca. Meksiko punya rekor sempurna di stadion ini.
Haedar Nashir menegaskan pendidikan nasional harus kembali pada amanat konstitusi saat meresmikan Muhammadiyah Sapen Universal School di Bantul.
Ini bertujuan memperoleh masukan dari berbagai pemangku kepentingan dalam pengembangan model layanan kesehatan mental berbasis Artificial Intelligence (AI).
Jonatan Christie kembali bertanding saat Indonesia mengirim 12 wakil ke Japan Open 2026. Fajar/Fikri dan sejumlah pemain andalan siap bangkit di Tokyo.
Polresta Jogja menetapkan 14 tersangka baru dalam kasus Daycare Little Aresha. Total tersangka kini mencapai 27 orang dengan 103 anak tercatat sebagai korban.