Tak Pakai Uang, Tiket Konser Hardcore di Bandung Ini Gunakan Beras

Jumali
Jumali Jum'at, 26 Juni 2026 08:07 WIB
Tak Pakai Uang, Tiket Konser Hardcore di Bandung Ini Gunakan Beras

Unggahan akun Instagram: unacceptable_punk

Harianjogja.com, JOGJA—Di tengah tren harga tiket konser yang semakin mahal, sebuah pertunjukan musik hardcore punk di Bandung memilih pendekatan berbeda. Penonton tidak diminta membayar dengan uang, melainkan membawa beras sebagai syarat masuk ke venue.

Konsep tersebut diterapkan dalam acara Decontrol Showcase yang digelar pada 19 Juni 2026. Melalui skema itu, penyelenggara berhasil mengumpulkan puluhan kilogram beras dari para penonton yang hadir.

Acara tersebut menghadirkan sejumlah nama dari skena hardcore punk Bandung, di antaranya Unacceptable Punk, BARBED WIRE!, Bottled Violent, Arogan, Egofatum, Kataliz, hingga Cheriz.

Namun bagi penyelenggara, konsep tiket berupa beras bukan sekadar strategi promosi atau cara unik menarik perhatian publik. Ide tersebut lahir dari refleksi terhadap perkembangan industri hiburan yang dinilai semakin berorientasi pada komersialisasi.

"Gagasan ini berangkat dari pertanyaan sederhana dari kami, apakah musik hanya akan menjadi komoditas yang diperjualbelikan, atau masih bisa menjadi ruang untuk membangun solidaritas nyata?" tulis Unacceptable Punk melalui unggahan resminya.

Menurut mereka, pertunjukan musik seharusnya tidak hanya menjadi ruang hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana membangun hubungan sosial dan kepedulian antarkomunitas.

Beras untuk Lumbung Pangan Bersama

Seluruh beras yang terkumpul dari penonton akan dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan lumbung pangan bersama.

Program tersebut dirancang sebagai bentuk gotong royong yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat, bukan sekadar simbol solidaritas.

"Beras yang terkumpul akan menjadi bagian dari upaya membangun lumbung pangan bersama, sebuah bentuk gotong royong yang berangkat dari kebutuhan riil, bukan sekadar simbol," lanjut pernyataan tersebut.

Melalui langkah itu, penyelenggara ingin menunjukkan bahwa ruang musik masih dapat berfungsi sebagai ruang sosial yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Kritik terhadap Komersialisasi Hiburan

Decontrol Showcase juga menjadi bentuk kritik terhadap budaya konsumsi yang semakin kuat dalam industri hiburan modern.

Di tengah maraknya konser besar dengan harga tiket yang terus meningkat, penyelenggara mencoba menghadirkan alternatif yang menempatkan partisipasi dan kebersamaan sebagai nilai utama.

Alih-alih menjadikan pertunjukan sebagai transaksi ekonomi semata, acara ini mendorong keterlibatan penonton dalam aksi sosial yang memiliki dampak nyata.

Konsep tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa musik masih dapat menjadi medium untuk menyuarakan isu sosial, memperkuat solidaritas, dan membangun kerja kolektif di tengah masyarakat.

Bagi komunitas yang terlibat, konser bukan hanya soal menikmati penampilan musisi di atas panggung, melainkan juga ruang untuk berbagi dan saling membantu.

Di tengah meningkatnya biaya hidup dan akses hiburan yang semakin mahal, Decontrol Showcase menawarkan pendekatan berbeda: musik sebagai ruang perjumpaan, gotong royong, dan kepedulian sosial yang diwujudkan melalui aksi sederhana berupa sumbangan beras.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online