Rapat Darurat FIFA Digelar Kritik terhadap Infantino Kian Menguat
FIFA menggelar rapat darurat di Maroko setelah rencana komersialisasi Piala Dunia memicu kritik dari Arsene Wenger, UEFA, hingga Pangeran Ali Yordania.
Logo media sosial Threads. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Media sosial kini bukan hanya ruang berbagi kabar, tetapi juga telah berubah menjadi “ruang curhat” bagi banyak pengguna. Beragam persoalan seperti pekerjaan, percintaan, hingga tekanan hidup kerap tumpah di linimasa.
Namun, kebiasaan ini tidak sesederhana sekadar “pamer masalah” atau mencari perhatian. Sejumlah studi dan pengamatan psikolog menunjukkan bahwa ada dorongan emosional yang lebih kompleks di balik fenomena tersebut.
Salah satu alasan utama seseorang gemar membagikan curhat di media sosial adalah kebutuhan untuk didengar dan dipahami. Studi New York Times Consumer Insight Group mencatat hampir separuh responden membagikan cerita pribadi karena ingin memengaruhi opini, menyebarkan pengalaman, atau mencari respons dari orang lain. Dalam konteks curhat, komentar, tanda suka, maupun dukungan sederhana dapat memberi rasa bahwa seseorang tidak menghadapi masalah sendirian.
Selain itu, media sosial juga berperan sebagai sarana pembentukan identitas diri. Melalui unggahan curhat, pengguna dapat mengekspresikan nilai, pandangan, serta pengalaman hidup yang membentuk citra diri mereka di ruang digital. Dengan demikian, apa yang dibagikan bukan hanya luapan emosi, tetapi juga bagian dari cara seseorang memperkenalkan dirinya kepada lingkungan sosial.
Faktor lainnya adalah kebutuhan menjaga koneksi sosial. Platform digital memungkinkan pengguna tetap terhubung dengan keluarga, teman, atau kenalan yang jarang ditemui secara langsung. Curhat di media sosial sering menjadi pemicu interaksi yang memperkuat hubungan sosial tersebut.
Dari sisi psikologi perilaku, respons positif seperti komentar atau dukungan emosional dapat memicu pelepasan dopamin di otak, yaitu zat kimia yang berkaitan dengan rasa senang dan penghargaan. Kondisi ini membuat sebagian orang terdorong untuk terus membagikan pengalaman pribadi demi mendapatkan respons serupa.
Psikolog sosial dari University of Pennsylvania, Jonah Berger, juga menilai bahwa perilaku pengguna media sosial sangat dipengaruhi oleh bagaimana mereka ingin dipersepsikan oleh orang lain. Konten yang dibagikan cenderung dipilih karena berpotensi memunculkan respons positif seperti empati, kekaguman, atau dukungan sosial.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial cenderung meningkat ketika seseorang merasa kesepian, cemas, atau stres. Dalam kondisi tersebut, platform digital berfungsi sebagai semacam “selimut pengaman” yang memberikan koneksi instan dengan orang lain, meski bersifat sementara.
Dalam situasi seperti itu, curhat di media sosial dapat menjadi pelarian dari emosi negatif. Namun, jika dilakukan secara berlebihan, kebiasaan ini justru berpotensi memperkuat rasa kesepian dan ketidakpuasan karena tidak menyelesaikan akar masalah.
Meski kerap dianggap sekadar mencari perhatian, para ahli menilai kebiasaan ini lebih tepat dipahami sebagai kombinasi kebutuhan emosional dan sosial manusia modern.
Pada akhirnya, penting bagi pengguna untuk lebih sadar terhadap motif di balik setiap unggahan. Apakah benar-benar untuk berbagi dan mencari dukungan, atau sekadar respons spontan terhadap tekanan emosional yang sedang dialami.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
FIFA menggelar rapat darurat di Maroko setelah rencana komersialisasi Piala Dunia memicu kritik dari Arsene Wenger, UEFA, hingga Pangeran Ali Yordania.
Tekanan angin ban yang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat membuat mobil boros BBM dan meningkatkan risiko kecelakaan. Simak tekanan ban ideal dan manfaat
Mitchell Baker dan Wing Naing Tun sama-sama 4 gol di puncak top skor Piala AFF 2026. Paulo Josue, Than Paing, dan Nguyen Dinh Bac menyusul dengan 3 gol.
Nokia 1100 masih menjadi ponsel terlaris sepanjang sejarah dengan penjualan 250 juta unit. Simak daftar 20 ponsel paling laris di dunia versi Visual Capitalist.
Pembangunan Tol Jogja-Solo mencapai 98%. Jasa Marga menambah akses exit Tol Purwomartani menuju Bokoharjo yang ditargetkan fungsional saat Lebaran 2027.
CDC menyelidiki wabah salmonella terkait cabai jalapeno yang menyebabkan 345 orang sakit di 27 negara bagian AS dan 36 dirawat di rumah sakit.