Mathew Baker Berpotensi Pecahkan Rekor Debut Termuda Timnas Indonesia
Mathew Baker berpeluang menjadi debutan termuda Timnas Indonesia. Simak statistik dan peluangnya memecahkan rekor Arkhan Kaka di FIFA Matchday Juni 2026.
Foto ilustrasi usus dibuat dngan artificial intelligence.
Harianjogja.com, JOGJA—-Menghitung kalori selama ini dianggap sebagai cara paling sederhana untuk mengontrol berat badan. Namun penelitian terbaru mengungkap tubuh tidak selalu menyerap kalori sesuai angka yang tertera pada kemasan makanan. Peran mikroba usus ternyata menjadi faktor penting yang selama ini sering diabaikan.
Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh aktivitas triliunan mikroorganisme yang hidup di dalam usus. Mikroba ini ikut memproses makanan dan menentukan seberapa banyak energi yang akhirnya digunakan tubuh.
Kalori yang Diserap Tubuh Bisa Berbeda pada Setiap Orang
Peneliti dari Arizona State University (ASU) mengembangkan model matematika baru bernama DAMM (digestion, absorption, and microbial metabolism) untuk memahami bagaimana tubuh dan mikrobiota usus bekerja sama dalam proses pencernaan.
Model ini dirancang untuk melacak perjalanan makanan sejak masuk ke sistem pencernaan hingga menjadi energi yang dapat digunakan tubuh. Hasilnya menunjukkan bahwa dua orang yang mengonsumsi makanan identik belum tentu menyerap jumlah kalori yang sama.
Perbedaan komposisi mikroba usus membuat proses penyerapan energi pada setiap individu dapat berlangsung berbeda.
Metode Penghitungan Kalori Lama Dinilai Belum Lengkap
Selama lebih dari satu abad, industri pangan menggunakan Metode Atwater untuk menghitung kalori makanan. Metode yang dikembangkan oleh ahli kimia pertanian Amerika, Wilbur Olin Atwater, tersebut menghitung energi berdasarkan kandungan protein, karbohidrat, dan lemak.
Namun metode itu tidak memperhitungkan kontribusi bakteri usus dalam memecah zat tertentu, terutama serat dan pati resisten, yang kemudian menghasilkan energi tambahan bagi tubuh.
"Ini bukan sekadar proses manusia semata. Pencernaan adalah kolaborasi antara tubuh kita dan triliunan mikroba yang hidup di dalam usus," ujar Profesor Rosa Krajmalnik-Brown dari ASU yang juga Direktur Biodesign Center for Health Through Microbiomes.
"DAMM memberi kita cara baru untuk mengukur bagaimana mitra mikroba tersebut berkontribusi pada kesehatan dan keseimbangan energi, serta menunjukkan pentingnya memberi makan mikroba usus kita dengan benar," lanjutnya.
Diet Tinggi Serat Bikin Tubuh Menyerap Kalori Lebih Sedikit
Dalam penelitian yang dilakukan bersama AdventHealth Translational Research Institute (TRI) di Florida, para ilmuwan membandingkan dua pola makan berbeda.
Kelompok pertama menjalani pola makan ala Barat (Western diet) yang cenderung rendah serat dan tinggi makanan olahan. Kelompok kedua mengonsumsi makanan kaya serat dan pati resisten yang berfungsi sebagai sumber makanan bagi bakteri baik di usus.
Hasilnya menunjukkan peserta yang menjalani pola makan Barat menyerap sekitar 116 kalori lebih banyak setiap hari dibandingkan kelompok yang mengonsumsi makanan tinggi serat.
Menariknya, kelompok tinggi serat tidak melaporkan rasa lapar yang lebih besar meskipun tubuh mereka menyerap lebih sedikit energi.
Temuan ini menunjukkan bahwa makanan kaya serat dapat membantu mengendalikan berat badan tanpa harus mengurangi rasa kenyang.
Mikroba Usus Menyumbang Energi bagi Tubuh
Model DAMM menemukan sekitar 85% energi yang digunakan tubuh berasal dari proses pencernaan di lambung dan usus halus. Sementara sekitar 15% sisanya berasal dari aktivitas mikroba di kolon atau usus besar.
Bakteri usus menghasilkan senyawa yang dikenal sebagai short-chain fatty acids (SCFA) melalui fermentasi serat dan pati resisten. Senyawa tersebut kemudian diserap tubuh dan menyumbang rata-rata 140 kalori per hari atau sekitar 7,4% dari total kebutuhan energi harian.
Meski terlihat kecil, selisih 100 hingga 150 kalori per hari dapat berdampak signifikan terhadap perubahan berat badan dalam jangka panjang. Para peneliti memperkirakan perbedaan tersebut dapat berkontribusi pada kenaikan atau penurunan berat badan sekitar 5 hingga 7 kilogram dalam satu tahun.
Mikroba Baik Membantu Mengelola Berat Badan
Profesor Bruce Rittmann dari ASU mengatakan model DAMM menjadi salah satu pendekatan pertama yang mampu menghubungkan metabolisme manusia dan mikroorganisme usus secara kuantitatif sesuai hasil studi klinis.
"Yang benar-benar unik dari model DAMM adalah bahwa model ini mengaitkan metabolisme manusia secara kuantitatif dengan metabolisme mikroorganisme di usus besar dengan cara yang sesuai dengan hasil studi klinis, serta memberikan wawasan mendasar tentang bagaimana komunitas mikroba bekerja dalam kemitraan dengan inang manusia," katanya.
Bagi masyarakat yang sedang berupaya menjaga berat badan, hasil penelitian ini memperkuat pentingnya konsumsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh.
Selain memberikan rasa kenyang lebih lama, makanan tinggi serat juga membantu memberi nutrisi bagi mikroba baik di dalam usus sehingga proses penyerapan energi menjadi lebih terkendali.
Menuju Diet yang Lebih Personal
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal PLOS One tersebut masih akan terus dikembangkan. Para ilmuwan berharap model DAMM dapat menjadi dasar dalam penyusunan pola makan yang lebih personal berdasarkan kondisi mikrobiota usus masing-masing individu.
"Model DAMM lebih dari sekadar alat untuk mencirikan diet. Ini adalah kerangka kerja yang dirancang untuk berkembang," kata Taylor Davis, penulis utama studi sekaligus peneliti di Biodesign Center for Health Through Microbiomes ASU.
Ke depan, model ini diharapkan membantu para peneliti dan tenaga kesehatan memahami obesitas, diabetes, serta berbagai gangguan metabolik dengan lebih baik. Pendekatan tersebut juga berpotensi menghasilkan rekomendasi diet yang tidak hanya berfokus pada jumlah kalori, tetapi juga mempertimbangkan kondisi mikroba usus setiap orang.
Dengan temuan ini, menjaga berat badan tidak lagi sekadar soal menghitung kalori. Kesehatan mikroba usus juga menjadi faktor penting yang dapat menentukan seberapa banyak energi yang benar-benar diserap tubuh dari makanan yang dikonsumsi setiap hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Mathew Baker berpeluang menjadi debutan termuda Timnas Indonesia. Simak statistik dan peluangnya memecahkan rekor Arkhan Kaka di FIFA Matchday Juni 2026.
Ledakan gudang bahan peledak di Shan, Myanmar, menewaskan 55 orang dan melukai lebih dari 70 warga. Lebih dari 100 rumah rusak.
Marco Bezzecchi menjuarai MotoGP Italia 2026 di Mugello dan mengaku menghadapi tekanan besar dari publik tuan rumah.
Dukcapil Bantul menggandeng gereja untuk mempercepat penerbitan akta perkawinan, KK, dan KTP baru bagi pengantin non-muslim pada hari pernikahan.
Studi ASCO 2026 menemukan hubungan antara insomnia dan peningkatan risiko kanker usia muda. Kasus kanker onset dini global naik hampir 80% dalam 30 tahun.
Apple dikabarkan mulai mengembangkan iOS 28 untuk 2027. Sistem operasi ini disebut menjadi fondasi iPhone edisi spesial 20 tahun dengan fitur AI lebih canggih.