Jadwal Lengkap Bus DAMRI Jogja-YIA, 28 Agustus 2026
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa
Anak di tempat tidur - Foto ilustrasi dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JOGJA— Sebagian orang tua atau pengelola lembaga pendidikan mungkin pernah merasa khawatir bahwa waktu istirahat di sekolah hanya akan membuang-buang menit berharga anak dalam menyerap materi pelajaran. Namun, sebuah laporan terbaru dari para pakar kesehatan anak sedunia justru mematahkan anggapan keliru tersebut.
Asosiasi Dokter Anak Amerika atau American Academy of Pediatrics (AAP) baru saja merilis pembaruan panduan mengenai pentingnya aktivitas permainan tidak terstruktur bagi anak di sekolah. Dokumen medis yang baru diperbarui lagi seusai 13 tahun tersebut menelurkan kesimpulan yang sangat tegas: waktu istirahat (recess) memegang peranan yang sangat krusial dalam ekosistem pendidikan.
Bermain di luar kelas ditegaskan bukan lagi sekadar bentuk kemewahan ataupun hadiah atas kepatuhan siswa, melainkan hak serta kebutuhan biologis mendasar yang wajib dilindungi oleh pihak sekolah. Panduan ini sengaja diterbitkan guna merespons tren global terkait penurunan durasi waktu istirahat anak yang terus merosot selama lebih dari dua dekade terakhir.
Psikiater anak, remaja, dan dewasa dari Mindpath Health, Dr. Zishan Khan, memaparkan bahwa fase jeda di luar kelas merupakan bagian yang tidak boleh dipisahkan dari proses kognitif, kesehatan fisik, serta tumbuh kembang mental anak di segala jenjang usia. Menurutnya, paradigma dunia medis kini telah bergeser secara total.
“Pesannya telah bergeser dari 'istirahat itu baik' menjadi 'istirahat itu perlu dan harus dilindungi,'” urai Dr. Zishan Khan dalam laporan tersebut.
Bagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus—seperti penyandang ADHD, gangguan kecemasan, memiliki riwayat trauma, hingga anak dengan tingkat energi tinggi—waktu istirahat berfungsi sebagai tombol pengaturan ulang (reset) yang sangat efektif. Jeda ini membantu mereka menenangkan regulasi tubuh, sehingga saat kembali ke dalam ruang kelas, kondisi otak mereka jauh lebih siap untuk menerima materi belajar baru.
Sebaliknya, jika hak beristirahat ini ditiadakan, dampaknya justru akan berbalik merugikan pihak sekolah. Anak-anak akan cenderung mengalami ketidakstabilan regulasi diri, menjadi lebih gelisah, hingga memicu berbagai tindakan gangguan di tengah jalannya proses belajar-mengajar.
Rekomendasi Durasi Idealnya
Berdasarkan panduan teranyar AAP, para siswa idealnya mendapatkan beberapa kali kesempatan istirahat dalam sehari dengan akumulasi total minimal 20 menit waktu tidak terstruktur. Durasi minimal ini dinilai sebagai batas aman agar anak bisa menyerap manfaat kognitif, motorik, dan sosial secara paripurna.
Sayangnya, implementasi aturan ini di lapangan masih sangat timpang. Di Amerika Serikat misalnya, terdapat sekolah yang hanya mengizinkan siswa beristirahat kurang dari 10 menit, sementara sebagian wilayah lain berani memberikan waktu pelesir hingga satu jam penuh.
Bahkan sejak pertengahan era tahun 2000-an, tercatat hingga 40 persen wilayah distrik sekolah di AS telah memotong atau bahkan menghapus total jam istirahat siswa. Penyebab utamanya dipicu oleh tingginya tekanan untuk mengejar standardisasi nilai ujian, keterbatasan anggaran untuk membiayai staf pengawas lapangan, minimnya lahan bermain yang aman, hingga sanksi hukuman atas perilaku buruk siswa di kelas yang berujung pada pemotongan waktu bermain.
Empat Manfaat Nyata untuk Fisik dan Mental
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan kebijakan pendidikan di sejumlah negara maju seperti Jepang, Australia, Denmark, Finlandia, Turki, Uganda, hingga Inggris. Negara-negara tersebut justru menerapkan sistem waktu istirahat ganda yang dijadwalkan secara berkala setiap 45 hingga 50 menit proses pembelajaran selesai. Mereka sangat memahami bahwa otak membutuhkan jeda reguler agar tetap segar dalam menyerap ilmu.
Dokter anak dari Miller Children's & Women's Hospital di California, Dr. Tanya Dansky, menjabarkan ada empat poin manfaat utama yang bisa dirasakan langsung oleh anak. Keempatnya meliputi peningkatan aktivitas fisik harian untuk menekan laju angka obesitas dini, penguatan sistem kardiovaskular serta struktur otot dan tulang, pembentukan kebiasaan bergerak aktif seumur hidup, serta meminimalkan durasi duduk (sedentary) yang terlalu lama di sekolah.
Sementara dari kacamata kesehatan mental, momen bermain bersama rekan sebaya terbukti ampuh mereduksi tingkat stres, menjadi wadah pelepasan emosi yang sehat, sekaligus menjadi ruang alami bagi anak untuk mengasah kecerdasan sosial mereka. Melalui permainan bebas, anak-anak belajar secara mandiri cara mengelola konflik, bernegosiasi, hingga membangkitkan mentalitas pantang menyerah saat menghadapi kekecewaan.
Rangkaian kecerdasan emosional ini mustahil bisa diajarkan secara teori di dalam ruang kelas, padahal nilainya sama pentingnya dengan capaian prestasi akademik. Oleh sebab itu, para ahli menyarankan kepada para orang tua di Indonesia untuk mulai bergerak aktif dan berkolaborasi dalam mendorong kebijakan penataan waktu istirahat yang ideal di sekolah anak masing-masing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa
BYD M9 dipastikan meluncur di Australia akhir 2026. MPV plug-in hybrid ini menawarkan tenaga 218 kW, jarak tempuh hingga 850 km, dan siap menantang Kia Carnival
Kekeringan DIY 2026 disebut mirip kondisi 2023. BPBD mencatat 5,047 juta liter air telah disalurkan ke empat kabupaten.
DPUPKP Kota Jogja memperbaiki trotoar secara bertahap dan memastikan guiding block dipasang di lokasi yang memungkinkan bagi pejalan kaki.
RUU Perampasan Aset ditargetkan disahkan paling lambat 15 Desember 2026. Simak progres dan tahapan pembahasannya di DPR.
BMKG memperingatkan DIY berpotensi mengalami kekeringan hingga akhir 2026 akibat El Nino sangat kuat dan curah hujan yang minim.