Sambut 14th UOB Painting of The Year, Diskusi The Art of Balance Paparkan soal Mengelola Seni

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Jum'at, 28 Juni 2024 16:57 WIB
Sambut 14th UOB Painting of The Year, Diskusi The Art of Balance Paparkan soal Mengelola Seni

Diskusi manajemen seni di Museum Benteng Vredeburg, Kamis (27/6/2024). - Harian Jogja/ist

Harianjogja.com, JOGJA—UOB menggelar diskusi seni dalam rangkaian 14th UOB Painting of The Year bertajuk The Art of Balance: Mengelola Seni dan Keuangan di Museum Benteng Vredeburg, Kamis (27/6/2024).

Hadir sejumlah narasumber dalam diskusi itu Head of Deposit and Wealth Management UOB Indonesia, Vera Margaret; Head of Strategic Communication and Brand UOB Indonesia, Maya Rizano; Artist and Creative Director of Art Jog, Heri Pemad serta dipandu dosen ISI Jogja, Suwarno Wisetrotomo, serta beberapa alumni UOB Painting of The Year juga turut hadir.

Dalam diskusi itu, peserta diajak memahami literasi keuangan yang akan berguna dalam hal pengelolaan finansial dan pengenalan investasi yang lebih baik lagi. Rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan juga menjadi kendala bagi para seniman. Saat ini, populasi pekerja seni dan kreatif Indonesia tercatat lebih dari 200.000.

Vera mengatakan manajemen seni menjadi suatu kunci agar seni tetap hidup salah satunya dibuktikan oleh Art Jog yang bisa eksis hingga 17 tahun. “Tata kelola diperlukan di semua aspek termasuk bisnis dan seni supaya proses pertumbuhannya dapat terlihat,” katanya, Kamis.

Dia memandang setiap seni harus punya konsep karena konsep itulah yang menjadi nilai jual. Namun dari hasil pengamatannya, ketika pameran, hanya sekitar 30% seniman yang memberi harga. Padahal, seni adalah investasi bahkan dihargai oleh dunia dan kolektor dengan nilai fantastis.

Maya menuturkan UOB Painting of The Year merupakan sebuah perjalanan panjang dengan peran UOB yang terus aktif berpartisipasi untuk memberikan panggung kepada para seniman profesional maupun pendatang baru.

“Lewat acara ini, UOB ingin melahirkan seniman perupa baru dari Sabang sampai Merauke. Kompetisi ini terbuka bagi siapapun tidak hanya seniman tapi juga pecinta seni yang punya talenta di bidang seni lukis,” ujarnya.

Heri Pemad memandang manajemen seni sebagai salah satu dampak dari karya kreativitas seniman.

“Manajemen seni itu dibutuhkan untuk menjadi semacam pemipin dalam menggerakkan ekosistem seni sehingga semua bisa teratur dan memberi dampak besar terutama dalam hal ekonomi,” ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online