BLT Kesra Rp900 Ribu Cair, Ini Cara Cek Lewat HP
BLT Kesra Rp900 ribu untuk tiga bulan mulai dicairkan. Penerima dapat mengecek status bantuan melalui HP via situs Kemensos atau aplikasi Cek Bansos.
Fosil ikan pemakan daging (IST)
Harianjogja.com, JAKARTA—Ahli paleontologi China menemukan menemukan fosil dua spesies lamprey yang diperkirakan berumur 160 juta tahun atau hidup di zaman dinosaurus. Lamprey adalah ikan tanpa rahang yang bentuknya seperti belut.
Umumnya, mereka dianggap sebagai organisme parasit, yang menggunakan mulut berbentuk cakram dan gigi tajam untuk menempel pada mangsanya dan menghisap darahnya. Mereka adalah ikan pemakan daging yang hidup di zaman dinosaurus.
Baca Juga: Fosil Gajah Purba Ditemukan di NTT, Usianya Ratusan Ribu Tahun
Namun kedua spesies yang ditemukan di China tidak hanya menghisap darah tetapi juga mengambil daging dari mangsanya. Gigitan mereka begitu kuat bahkan bisa mematahkan kerangka mangsanya. “Lamprey yang hidup selalu dipuji sebagai ‘vampir air’, namun nenek moyang mereka mungkin adalah pemakan daging, berdasarkan gigi mereka,” kata rekan penulis studi Feixiang Wu, ahli paleontologi di Chinese Academy of Sciences, kepada Laura Baisas dari Popular Science dilansir dari Wion.
Kedua spesies tersebut ditemukan di lapisan fosil di Cina Utara. Fosil lamprey yang lebih besar berukuran panjang sekitar 23 inci, dan diberi nama Yanliaomyzon occisor oleh para ilmuwan, dengan “occisor” yang berarti “pembunuh” dalam bahasa Latin.
Spesies kecil ini memiliki panjang sekitar 11 inci dan diberi nama Yanliaomyzon ingensdentes, sebuah nama yang berasal dari kata Latin untuk “gigi besar”. Fosil-fosil yang terpelihara dengan baik berada dalam kondisi yang sangat baik sehingga ahli paleontologi dapat melihat struktur gigitan dan cakram mulut makhluk tersebut.
Baca Juga: Tak Disangka, Fosil Berusia 66 Juta Tahun Ditemukan di Area Mal Bangkok
“Belum ada fosil lamprey lain dari zaman dinosaurus yang mampu menjaga alat mulut mereka yang meneror dengan begitu jelas,” kata Tetsuto Miyashita, ahli paleobiologi di Museum Alam Kanada yang tidak terlibat dalam penelitian baru ini, kepada Nature News' Xiaoying You.
Spesies yang baru ditemukan, yang hidup berdampingan dengan dinosaurus selama periode Jurassic, bertindak sebagai mata rantai yang hilang antara lamprey paling awal dan 31 spesies yang masih hidup yang kita lihat sekarang. Misalnya, fosil lamprey tertua yang terawetkan berasal dari sekitar 360 juta tahun yang lalu pada era Paleozoikum.
Baca Juga: PENEMUAN FOSIL KAYU : Sudah Lama Diketahui, Baru Disadari Saat Ini
Fosil-fosil ini mengungkapkan lamprey awal berukuran jauh lebih kecil, panjangnya sekitar satu inci, dan struktur makanannya kurang berkembang, menunjukkan bahwa mereka tidak memakan darah atau daging. Selain itu, lamprey awal ini tidak mengalami metamorfosis (mengubah bentuk kehidupan). Sebaliknya, lamprey modern berukuran lebih besar, memiliki gigi yang rumit, dan melalui ketiga tahap kehidupan yang berbeda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
BLT Kesra Rp900 ribu untuk tiga bulan mulai dicairkan. Penerima dapat mengecek status bantuan melalui HP via situs Kemensos atau aplikasi Cek Bansos.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.
Pemkab Bantul memantau harga pangan usai rupiah melemah. Sejumlah komoditas lokal masih aman, warga diminta tidak panic buying.
Banjir Semarang 2026 melanda Tugu dan Ngaliyan. 313 KK terdampak, satu lansia hilang, tanggul Sungai Plumbon jebol.