KPK Dalami Aliran Rp106,3 Miliar yang Diduga ke Nusron Wahid
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Perut membutuhkan waktu 20 menit untuk mengirimkan sinyal ke otak guna memberi tahu bahwa perut sudah kenyang. Makan terlalu cepat membuat sinyal sulit ditangkap, imbasnya seseorang jadi makan secara berlebihan.
Selain itu makan terlalu cepat menyebabkan banyak udara masuk melalui rongga mulut sehingga bukan kenyang perut justru merasa kembung. Makan dengan tempo lebih lambat membuat makanan akan terkunyah dengan baik hingga potongan terkecil dan membantu pencernaan.
Tak hanya itu ada pula dampak buruk lainnya dari makan terlalu cepat. Selengkapnya simak rangkuman berikut ini:
Melansir dari Livestrong, berdasarkan studi yang diterbit dalam dalam International Journal of Obesity pada November 2015 menjelaskan bahwa makan dengan cepat berhubungan positif dengan BMI yang lebih tinggi dan kelebihan berat badan.
Sarah Pflugradt, RDN, LDN, ahli diet dan ahli gizi keluarga mengatakan, “Ada kemungkinan bahwa ketika seseorang makan dengan cepat, mereka tidak memberi kesempatan pada tubuhnya untuk menekan ghrelin, dan itu tetap tinggi, dan karena itu Anda ingin makan lebih banyak.”
Baca juga: Berbincang dengan Hewan Peliharaan, Bisakah?
Ghrelin adalah hormon lapar yang diproduksi oleh lambung, dan juga pankreas, usus halus, serta otak (hipotalamus) dalam jumlah yang kecil.
Meski tidak menyebabkan seseorang memiliki diabetes tipe 2 namun dengan makan cepat seseorang dapat meningkatkan risiko mengalami resistensi insulin, sehingga sel-sel tubuh tidak dapat menggunakan gula darah dengan baik karena adanya gangguan dalam merespons insulin.
Terbukti dalam sebuah studi yang diterbitkan dalam BMC Public Health, meneliti sekitar 8.000 orang menemukan bahwa makan dengan cepat berkaitan dengan tekanan darah tinggi, peningkatan lemak, serta meningkatnya kolesterol dan gula darah.
Selain bekolerasi dengan berat badan yang lebih cepat bertambah, meningkatnya gula darah serta kolesterol "jahat". Makan dengan cepat dapat memicu terjadinya sindrom metabolik, yakni kumpulan gangguan metabolisme yang dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler.
“Kecepatan makan berkaitan dengan obesitas dan prevalensi sindrom metabolik di masa depan. Oleh karena itu, makan dengan lambat mungkin menjadi faktor gaya hidup yang penting untuk mencegah sindrom metabolik di antara orang Jepang,” ujar Dr. Takayuki Yamaji ahli jantung atau kardiologi di Universitas Hiroshima University, Jepang.
Studi yang dilakukan Yamaji menunjukkan hasil yang spesifik dimana pemakan cepat memiliki peluang 11,6%lebih tinggi untuk mengembangkan faktor risiko, dibandingkan dengan peluang pemakan normal yakni sebesar 6,5%. Sementara itu, pemakan lambat hanya memiliki 2,3 persen kemungkinan mengembangkan sindrom metabolik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPK menelusuri aliran dana Rp106,3 miliar dalam kasus ATR/BPN yang diduga mengalir ke Nusron Wahid dan terkait layanan pertanahan.
Gianni Infantino meninjau SUGBK bersama Erick Thohir menjelang final FIFA ASEAN Cup 2026 antara Indonesia vs Thailand.
Max Verstappen meraih kemenangan perdana F1 2026 di GP Bahrain yang digelar di Sepang, mengungguli Kimi Antonelli dan Lewis Hamilton.
Jadwal SIM Sleman Oktober 2026 mencakup Satpas, MPP, SIM Keliling Malam, dan SIMMADE. Senin 5 Oktober tersedia di MPP Sleman.
Produksi padi RI mencapai 43,89 juta ton GKG hingga Agustus 2026, naik 0,07 persen meski menghadapi ancaman El Nino.
Prabowo memanggil pimpinan Bakom di Hambalang dan meminta komunikasi pemerintah lebih sederhana, terbuka, serta dekat dengan masyarakat.