Tiga ASN Jayawijaya Ditembak, KemenHAM Minta Pelaku Dihukum
KemenHAM meminta penembakan tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya diusut tuntas dan pelakunya dihukum sesuai hukum yang berlaku.
Siswa Olifant School belajar mengolah bahan makanan belum lama ini. / Ist./Olifant School
Harianjogja.com, JAKARTA—Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) meminta orang tua untuk memberikan asupan gizi anak dengan makanan yang sehat serta memberikan porsi makan yang sesuai dengan kelompok usianya.
“Kebutuhan untuk bayi dan balita harus dipenuhi utamanya pada masa emas pertumbuhan. Kita masih bisa mengejar pertumbuhannya secara optimal di periode tersebut, tentu saja asupan gizi seimbang memang harus tercukupi,” kata Plt Direktur Gizi dan KIA Kemenkes Ni Made Diah Permata Laksmi dalam Siaran Sehat yang diikuti secara daring di Jakarta, Senin.
Diah menekankan bahwa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan masa emas bagi pertumbuhan seorang anak. Selama masa itu orang tua harus benar-benar jeli menjaga tumbuh kembangnya.
"Sebagai upaya pencegahan stunting pada anak sejak dini, bayi yang berusia 0-6 bulan harus diberikan ASI eksklusif oleh ibu sampai tuntas. ASI dianggap bisa memenuhi semua kebutuhan bayi pada usia tersebut," katanya.
Setelah anak menginjak usia di atas 6 bulan, kandungan dalam ASI kurang bisa memenuhi gizi anak. Oleh karena itu, pada usia ini orang tua bisa mulai memperkenalkan secara perlahan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang kaya akan gizi seimbang seperti protein hewani, karbohidrat, dan lemak.
Baca juga: DPRD DIY: Raperda Pendanaan Pendidikan Tak Akan Legalkan Pungutan Liar
“Yang perlu dikedepankan di sini adalah adanya protein hewani, lemak, karbohidrat. Untuk sayur dan buah, sebenarnya sudah bisa diperkenalkan, tetapi untuk lemak memang diutamakan yang bersumber dari protein hewani,” katanya.
Menurut Diah, Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga merekomendasikan bahwa anak harus diberikan protein hewani, utamanya pada masa 1.000 HPK karena bisa mencegah terjadinya stunting pada anak. Misalnya melalui ikan lele, teri atau telur.
“Data Food and Agriculture Organization of The United Nations menunjukkan konsumsi telur rendah, padahal sangat baik untuk mengejar pertumbuhan anak. Kemudian konsumsi protein yang bersumber dari hewani seperti daging juga rendah, dibandingkan negara lain konsumsi kita di bawah 40 gram. Negara lain misalnya Australia sudah di atas 160 gram,” katanya.
Orang tua, kata dia, bisa memberikan MPASI pada anak sebanyak dua hingga tiga kali makanan utama, kemudian dilanjutkan dengan satu atau dua kali makanan selingan secara bertahap.
Pada anak berusia 6-8 bulan, MPASI harus diberikan dengan tekstur yang lembut dengan cara disaring. Kemudian setelah masuk usia 9-11 bulan teksturnya bisa diberikan lebih kasar sedikit seperti makanan yang dicincang.
Ketika anak menginjak usia 11 bulan atau memasuki 12 bulan, orang tua bisa mulai memberikan makanan dengan tekstur yang mendekati makanan orang dewasa secara perlahan. Tentunya dengan takaran tiga sampai empat kali makan berat dengan satu hingga dua kali makanan selingan.
“Yang penting setiap kali makan di piring anak ada protein hewani bisa telur, ikan apa saja yang ada di sekitar kita, untuk mengejar pertumbuhan anak supaya bisa mencapai standar dari kurva WHO sehingga bisa mencegah stunting,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : antara
KemenHAM meminta penembakan tiga ASN Dinas Pertanian Jayawijaya diusut tuntas dan pelakunya dihukum sesuai hukum yang berlaku.
Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia turut mewarnai suasana Alun-Alun Demak.
PSS Sleman membidik tiga poin saat menjamu Madura United di Stadion Maguwoharjo, Sabtu (12/9/2026), setelah kalah dari Bali.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memastikan masyarakat dapat menyaksikan secara langsung pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026
DIY dan Selandia Baru menjajaki sister province. Kerja sama ini membahas pertanian, peternakan, pendidikan, kebudayaan, hingga pengiriman sperma sapi.
Data PISA 2025 menunjukkan 53% pelajar Indonesia menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali dalam sepekan.