Makna Mendalam di Balik Kue Keranjang yang Manis

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Sabtu, 21 Januari 2023 16:07 WIB
Makna Mendalam di Balik Kue Keranjang yang Manis

Kue keranjang./Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Kue Keranjang merupakan hidangan khas Imlek. Kue bertekstur kenyal seperti dodol ini bahkan disebut kue wajib yang harus ada saat perayaan Tahun Baru bagi warga keturunan Tionghoa. 

Kue keranjang atau Nian Gao digunakan untuk sesaji kepada leluhur saat tujuh hari menjelang Imlek. Karena masih digunakan untuk sesaji hingga beberapa hari, kue ini biasanya tidak langsung dimakan namun menunggu sampai Cap Go Meh atau malam ke-15 setelah Imlek. 

Dihimpun dari berbagai sumber, kue ini diberikan sebagai sajian untuk Dewa Tungku (Cau Kun Kong). Dewa ini dipercaya sebagai dewa yang tugasnya mengawasi keluarga dan mengamati perilaku para anggota keluarga.

Baca juga: Pesona Wisata Khas Tionghoa Ini Cocok Dikunjungi Saat Liburan Imlek

Dewa Tungku atau juga ada yang menyebut dengan Dewa Dapur, akan naik ke Surga untuk melaporkan semua perilaku dan tindakan anggota keluarga yang sudah diamati selama setahun. Kue keranjang yang rasanya manis, diharapkan menjadi makanan yang dapat menyenangkan Dewa Tungku agar Dewa melaporkan hal-hal baik kepada raja di Surga. 

Kue Keranjang memiliki bentuk yang bulat. Maknanya agar keluarga yang merayakan Imlek dapat terus bersatu, rukun dan bulat tekad dalam menghadapi tahun yang akan datang

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online