Apple Tunda Rilis iPhone SE 4 Hingga 2024
Analis Apple Ming Chi Kuo mengatakan Apple tampaknya akan menunda perilisan iPhone SE 4 hingga 2024. Apakah alasannya? Simak ulasannya di info teknologi kali in
Paru-paru. /Reuters
Harianjogja.com, JOGJA—Penyakit yang menyerang paru-paru banyak mengintai masyarakat Indonesia. Bahkan, kanker paru termasuk penyakit paling mematikan di Tanah Air.
Indonesia merupakan salah satu negara berpenduduk terpadat nomor 4 di dunia. Kemendagri melalui Direktorat Jenderal Dukcapil mencatat Data Kependudukan Semester II Tahun 2021 pada 30 Desember 2022 jumlah penduduk Indonesia adalah 273.879.750 jiwa.
Namun demikian, melansir Solopos.com, penyakit kanker mematikan nomor 1 di Indonesia berdasarkan data tahun 2020. Ditinjau dari jenisnya, kasus kematian pada kanker paru-paru sebanyak 30.843 orang (9,6%).
Menurut laporan Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari World Health Organization (WHO), jumlah kematian akibat kanker di Indonesia mencapai 234.511 orang pada tahun 2020. Seperti banyak kanker lainnya, kanker paru-paru tidak berkembang dalam semalam.
Terkait dengan hal tersebut, Spesialis Kanker Paru-Paru, Konsultan Senior, Dokter Onkologi Medis dari Parkway Cancer Centre, Singapore, Chin Tan Min berbagi sejumlah hal tentang seluk beluk kanker paru-paru dan pengobatannya.
Menurut Dr. Chin, merokok merupakan risiko terbesar untuk terkena kanker paru. Perokok memiliki kemungkinan 15-30% lebih besar untuk terkena kanker paru dibandingkan dengan orang yang tidak merokok.
“Semakin dini seseorang mulai merokok dalam hidupnya dan semakin banyak jumlah tahun ia merokok, maka semakin besar risikonya untuk terkena kanker paru,” ujarnya.
Dia menjelaskan, perokok yang berhenti merokok telah mengurangi kemungkinannya untuk terkena kanker paru, dan semakin lama seseorang telah berhenti merokok, maka semakin rendah pula kemungkinannya untuk terkena kanker paru.
“Namun, penting untuk diingat bahwa meskipun Anda tidak merokok, Anda masih tetap dapat terkena kanker paru. Faktor-faktor risiko lainnya meliputi menghirup asap rokok orang lain, paparan terhadap bahan kimia tertentu, seperti misalnya asbes dan karsinogen lainnya, serta riwayat kanker paru dalam keluarga,” ujarnya.
Terkait jenis kanker paru, dokter Chin menjelaskan ada dua jenis yang umum yakni kanker paru sel kecil/small cell lung cancer (SCLC) dan kanker paru non-sel-kecil/non-small cell lung cancer (NSCLC).
SCLC lebih jarang dijumpai daripada NSCLC atau terjadi pada sekitar 15% pasien kanker paru. Hampir semua pasien yang menderita kanker paru sel kecil adalah perokok. Ini adalah bentuk kanker paru yang lebih agresif dan dapat menyebar dengan cepat ke bagian tubuh lainnya.
“Tingkat kelangsungan hidup untuk stadium yang lebih lanjut dari penyakit ini lebih rendah bila dibandingkan dengan mereka yang menderita penyakit ini dalam stadium terbatas,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Solopos.com
Analis Apple Ming Chi Kuo mengatakan Apple tampaknya akan menunda perilisan iPhone SE 4 hingga 2024. Apakah alasannya? Simak ulasannya di info teknologi kali in
Gerakan tersebut diwujudkan melalui implementasi aplikasi STUPA, yaitu layanan keuangan digital berbasis aplikasi uang elektronik.
Kulonprogo masih aman dari kekeringan di awal kemarau 2026. BPBD siaga droping air bersih diperkirakan mulai Agustus.
Subaru membatalkan mobil listrik internal setelah laba operasional anjlok 90 persen akibat tekanan tarif impor Amerika Serikat.
Veda Ega unggul klasemen Moto3 2026 meski kalah top speed dari Hakim Danish. Duel keduanya makin ketat di lintasan.
Sharenting anak di media sosial berisiko kebocoran data, pelacakan lokasi, hingga pencurian identitas menurut studi Kaspersky dan SIT.