Prabowo Target Garuda Cetak Laba 2027, Ini Kinerja GIAA
Garuda Indonesia ditargetkan mulai mencetak laba pada awal 2027. Rugi GIAA kuartal I/2026 menyusut 45,2% menjadi US$41,6 juta.
Mi instan di Korea/Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA—Mi instan digemari masyarakat Indonesia. Kaum yang menggantungkan hidup dari gaji bulanan sering menyebut penganan ini sebagai solusi saat tanggal tua.
Selain murah, mi instan juga praktis dan mengenyangkan. Mi instan juga menawarkan rasa yang beraneka ragam. Namun, mi instan menyimpan sederet bahaya yang mengintai. Berikut ini deretan bahaya mi instan untuk kesehatan dari berbagai sumber!
Mi instan rendah protein dan serat. Padahal peran protein bisa membantu program penurunan berat badan, dengan meningkatkan rasa kenyang lebih lama. Selain itu, rendahnya serat juga akan membuat proses pencernaan terganggu.
Selain rendah protein dan serat, mi instan juga rendah vitamin dan mineral. Rendahnya nutrisi ini jika ditambah dengan tingginya kalori yang dihasilkan akan memicu kenaikan berat badan.
Lalu, sistem pencernaan yang buruk akibat konsumsi mi juga menambah rumit kondisi dalam tubuh.
Konsumsi mi instan terlalu banyak juga bisa dapat merusak hati. Hal ini dikarenakan mi instan merupakan olahan yang mengandung zat adiktif, pengawet, perasa dan pemanis buatan.
Kombinasi ini akan menyebabkan hati kerepotan dan stres. Lalu menyimpan lemak dan selnya sendiri. Semakin lama, lemak unu kana menumpuk dan merusak hati, sehingga fungsinya juga terganggu.
Mengapa mi instan bisa berdampak buruk pada otak? Sebab mi instan mengandung mononatrium glutamat (MSG). Ini merupakan zat adiktif untuk meningkatkan cita rasa makanan.
Penelitian mengungkapkan bahwa konsumsi NSG berlebih dapat menimbulkan kondisi kesehatan yang buruk, seperti berdampak buruk pada otak, peningkatan tekanan darah, penambahan berat badan, serta picu sakit kepala.
Mi instan memang praktis dan enak, namun ini juga tidak memiliki kandungan nutrisi yang menjanjikan. Sebab mi instan justru akan menyumbang banyak kalori, gila, lemak jenuh dan rendah protein serta serat. Sehingga tidak bisa membantu fungsi organ ataupun sel tubuh seperti layaknya penganan sehat.
Mi instan mengandung natrium yang tinggi. Kelebihan konsumsi natrium dikaitkan dengan kondisi kesehatan yang serius seperti, tekanan darah tinggi, stroke, gagal jantung, batu ginjal hingga kanker pankreas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI-Bisnis.com
Garuda Indonesia ditargetkan mulai mencetak laba pada awal 2027. Rugi GIAA kuartal I/2026 menyusut 45,2% menjadi US$41,6 juta.
DPC Gerindra Gunungkidul mulai membangun kantor permanen di Baleharjo dengan anggaran sekitar Rp1 miliar dari iuran kader dan anggota.
Warga Padukuhan Karang menolak tambang pasir Sungai Progo. DPRD Kulonprogo mendesak Pemkab hadir, sementara Wabup mengaku sudah mediasi.
Wamenkes Dante Saksono menyebut layanan BPJS akan disetarakan dengan mempertimbangkan kemampuan fiskal dan prioritas penyakit katastropik.
KPK mengecek aset glamping 1,5 hektare di Ciater, Subang, yang diduga milik polisi Yayat Sudrajat dan terkait kasus suap Pemkab Bekasi.
Komisi C DPRD DIY mengecek talud bronjong 74 meter di Kali Kuning Sleman sebagai antisipasi erosi dan longsor saat musim hujan.