Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 131

Joko Santosa
Joko Santosa Selasa, 03 November 2020 23:47 WIB
Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 131

Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan

131

Menurut seorang filsuf, agama suntuk bicara tentang dosa, tentang Sang Kuasa, tentang manusia, dan oleh karenanya sering menimbulkan perpecahan. Sedangkan spiritualitas mengajak kita belajar tentang kesalahan, dan berada dalam diri Sang Kuasa, yang hidup dalam kesadaran. Agama adalah liturgi, sementara spiritualitas adalah meditasi. Seperti sebuah lilin yang tidak terbakar tanpa api, manusia tidak dapat hidup tanpa kehidupan spiritual.

Saat yang dinanti-nanti tiba. Ki Panjangmas membaca mantra yang menghidupkan ruh religius, karena dalam mantra kita hanyalah sebutir debu.

“Anekakaken prabawa; ketug lindhu lan prahara; geter pater tan pantara; alimaku tanpa suku; alambehan tanpa tangan; aningali tanpa netra; amyarsa tanpa karna; ambegan tanpa grana; acelathu tanpa lathi; angan-angan tanpa driya”.

Suasana benar-benar hening. Para pemirsa menyimak mantra. Lampu minyak dimatikan. Suasana menjadi remang karena hanya diterangi nyala blencong yang kebat-kebit dipermainkan angin malam. Ki Panjangmas berdiri sambil mengangkat wayang Batara Kala, dan di dalam situasi temaram sabur limbur itu ia bagaikan titisan Kala sang raksasa tinggi besar sangar.

Singggggg…crapppppp” – Sebatang anak panah berdesing cepat sekali, menancap dada kiri Ki Panjangmas tembus punggung. Ki dalang sempoyongan. Para penonton menjerit histeris, dan keadaan semakin semrawut dengan terjelabaknya pradangga berjumlah tiga puluh orang.

“Duh jagat dewatara..” tangis para penonton terutama ibu-ibu dan remaja putri. Mereka bertangis-tangisan tidak tahu harus berbuat apa.

 Dalam kesremawutan dan suasana kacau balau, mereka dikejutkan melompatnya seekor harimau putih sebesar kerbau yang mendekati Lohgawe, kemudian meloncat tinggi sembari menggigit baju bocah itu di bagian punggung. Macan itu lari menyibak kerumunan penonton.

“Tenang, tenang rakyatku. Kita usut tuntas siapa yang berani membuat kekisruhan di sini. Aku yang akan menangkap pengacau itu hidup atau mati,” teriak demang Kertapati. Ia berdiri kokoh di atas panggung. Matanya seperti menyala dalam kegelapan. Persis mata harimau.

Perlahan-lahan, setelah berkali-kali ditenangkan, situasi mulai terkendali. Darah kental Ki Panjangmas berceceran di lantai. Dalang kondang itu mengembuskan napas terakhir di gedung pendopo kademangan, tempat ia (dulu) menerima tamu-tamu penting. Seluruh nayaga, tidak ada seorang pun selamat. Sepertinya mereka keracunan warangan (arsenik atau sianida-pen) yang dimasukkan ke dalam minuman kopi. Hanya sinden Nyi Padmarani yang terlindung karena tidak pernah mau minum kopi, atau apalagi tuak. Istri dalang Ki Panjangmas itu beda dengan beberapa pesinden yang karem minuman keras, rokok, dan kopi. 

“Kangmas, duh gusti, kangmas…” jerit Nyi Padmarani nanar sebelum akhirnya pingsan.

“Bawa Nyi Padmarani ke kamar depan. Tolong ibu-ibu ikut menemani. Urut tengkuknya dengan minyak kelapa. Jika sudah sadar, beri minum air putih hangat.” Demang Kertapati titah kepada beberapa penonton wanita, juga dayang-dayang kademangan.

“Aku akan memburu pengacau keparat,” kata sang demang lalu meloncat keluar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online