Mengenal 15 Mei Sebagai Hari Keluarga Internasional
Hari Keluarga Internasional 2026 menyoroti dampak ketimpangan sosial terhadap kesejahteraan anak dan kondisi keluarga.
Ilustrasi keluarga - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA— Peringatan Hari Keluarga Internasional pada 15 Mei 2026 kembali mengangkat isu yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyoroti dampak ketimpangan sosial terhadap kondisi keluarga dan masa depan anak-anak melalui tema “Families, Inequalities and Child Wellbeing” atau “Keluarga, Ketimpangan, dan Kesejahteraan Anak”.
Tema tersebut dipilih karena kesenjangan ekonomi dan sosial dinilai semakin memengaruhi kualitas hidup keluarga di berbagai negara. Dampaknya tidak hanya dirasakan orang tua, tetapi juga anak-anak yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga lingkungan tumbuh yang aman dan sehat.
Bagi banyak keluarga, tekanan ekonomi juga dapat memicu persoalan lain di rumah tangga, mulai dari meningkatnya stres hingga berkurangnya kualitas interaksi antara orang tua dan anak. Situasi itu dinilai dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak dalam jangka panjang.
PBB menilai keluarga tetap menjadi fondasi utama pembangunan sosial dan ekonomi. Karena itu, penguatan kebijakan yang berpihak pada keluarga dinilai penting untuk menekan dampak ketimpangan sosial yang terus melebar di sejumlah negara.
Dalam peringatannya tahun ini, PBB juga mendorong perlindungan anak dari eksploitasi, perluasan jaminan sosial yang inklusif, serta program pengentasan kemiskinan yang langsung menyentuh kebutuhan keluarga. Isu tersebut dinilai relevan dengan kondisi masyarakat di Indonesia yang masih menghadapi kesenjangan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, termasuk perbedaan akses pendidikan dan layanan kesehatan.
Hari Keluarga Internasional sendiri lahir dari perhatian panjang PBB terhadap peran keluarga dalam kehidupan masyarakat dunia. Pada 1983, Dewan Ekonomi dan Sosial PBB mulai mendorong agar isu keluarga mendapat perhatian lebih besar di tingkat global.
Kemudian pada 9 Desember 1989, Majelis Umum PBB melalui resolusi 44/82 memproklamasikan Tahun Internasional Keluarga. Setelah itu, melalui resolusi A/RES/47/237 pada 1993, PBB secara resmi menetapkan 15 Mei sebagai Hari Keluarga Internasional yang diperingati setiap tahun.
Sejak ditetapkan, peringatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran dunia tentang pengaruh perubahan sosial, ekonomi, dan demografis terhadap kehidupan keluarga. PBB juga terus mendorong negara-negara anggotanya agar menghadirkan kebijakan yang lebih ramah keluarga dan mendukung kesejahteraan anak.
Bagi masyarakat, peringatan Hari Keluarga Internasional 2026 juga menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap keluarga tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Langkah sederhana seperti menyediakan waktu berkualitas bersama anak, menjaga komunikasi dalam keluarga, hingga mendukung lingkungan sosial yang sehat dinilai dapat membantu menciptakan kondisi tumbuh kembang anak yang lebih baik.
Di tengah perubahan sosial dan tekanan ekonomi yang terus berkembang, keluarga dinilai tetap menjadi tempat pertama bagi anak untuk belajar tentang rasa aman, perhatian, dan dukungan emosional. Karena itu, isu kesejahteraan keluarga diperkirakan akan terus menjadi perhatian global dalam beberapa tahun mendatang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Galaxy Z Fold 8 dan Z Flip 8 disebut bakal menjadi ponsel pertama yang menghadirkan fitur Gemini Intelligence dari Google.
Persebaya diingatkan Bernardo Tavares agar tidak meremehkan Semen Padang meski lawan sudah degradasi ke Liga 2.
Primbon Jawa menyebut weton Jumat Pahing memiliki aura pemimpin, rezeki baik, dan karakter mudah disukai banyak orang.
Proyek PSEL Bantul belum berjalan karena dana Danantara belum turun saat volume sampah rumah tangga terus meningkat.
Primbon Jawa menyebut lima weton perlu lebih waspada saat Jumat Pahing. Simak penjelasan dan pantangan menurut tradisi Jawa.