Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 085

Joko Santosa
Joko Santosa Kamis, 10 September 2020 23:47 WIB
Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 085

Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan

085

Tidak sengaja Dinar membentak karena menganggap kakek uzur yang penampilannya degil ini sengaja berbohong.

“Aku tidak menyebut Raden Mas Jolang. Engkau sendiri yang menduganya.”

“Lalu, siapa yang tadi engkau sebut akan menggantikan Panembahan Senopati?”

“Tidak harus pangeran pati! Beliau memang tidak digadang-gadang jadi putra mahkota”

“Lalu siapa?”

“Pangeran Purwawisesa, salah satu putra Panembahan Senopati dari garwa ampil.”

Dinar mundur tiga langkah saking kagetnya. Hal ini juga tidak luput dari mata jeli Wiku Suragati. Di dalam hati ia bersorak gembira. Pancingannya berhasil baik.

Hmm. Sudah aku duga. Engkau dan sekutumu yang menyebarkan desas-desus. Engkau secara licik melakukan serentetan pembunuhan, dan aku yang dijadikan tersangka. Benar-benar biadab!” ujar Dinar marah.

Hik hik hik. Siasatku cemerlang. Aku memang memancing supaya engkau memburuku. Namun engkau penakut, lebih memilih berdiam diri di kademangan. Terpaksa istrimu yang aku jadikan sasaran, baru dengan terpaksa engkau mencariku, hik hik hik. Sekarang dengan ikhlas engkau kemari menyerahkan nyawamu,” Wiku Suragati tertawa-tawa, padahal di dalam batin bimbang apakah ia mampu memenangkan pertempuran melawan murid Begawan Sempani ini.

“Wiku jahanam. Engkau tidak pantang melakukan apapun, termasuk fitnah, menyebarkan berita bohong, bersikap pengecut dan lainnya. Jangan-jangan engkau menyebut nama Pangeran Purwawisesa  ini juga fitnah,” Dinar memandang tajam seolah ingin menjenguk isi hati Suragati.

“Terserah engkau percaya atau tidak. Bagiku tidak ada artinya. Sebentar lagi engkau juga akan mati,” Wiku Suragati menggetarkan tongkatnya. Ia siap bertempur mati-matian.

“Dukun lepus tukang apus-apus. Watakmu kotor. Siapa percaya omong kosongmu?”

Hik hik hik. Dinar, bocah dungu sepertimu mana percaya?! Kelasmu hanya demang itu pun merebut dari tangan adikku secara licik. Nalarmu cupet. Pangeran Purwawisesa bukan anak dari permaisuri. Beliau paham tidak akan mungkin menggeser kedudukan Pangeran Mas Jolang. Cara satu-satunya adalah memberontak terhadap kekuasaan ayahnya. Beliau memerlukan tokoh-tokoh sakti, termasuk aku yang dituakan. Otakmu dangkal kurang wawasan, mana mengerti?”

“Pangeran Purwawisesa apa tega menyuruhmu membunuhi orang-orangku di Tembayat? Engkau ingin mengadu domba!”

“Sesukamulah, Dinar. Engkau tolol, koplak, goblok dan pekok. Tidak dapat menyelami pikiran orang. Para punggawa di Tembayat termasuk engkau memang harus disingkirkan. Kalian nggriseni, dan kelak menjadi penghalang. Beliau memilih aku yang memang jauh-jauh turun gunung untuk membunuhmu. Kami memiliki kepentingan yang sama. Dan besok, ya, besok jika Pangeran Purwawisesa menjadi raja Mataram, aku, ya aku Wiku Suragati diangkat sebagai ahli strategi sekaligus sesepuhnya Mataram,” Suragati terkekeh-kekeh dengan matanya yang aneh itu berbinar-binar. Apa yang ia ucapkan sebagian benar; sebagian pancingan; sebagian lagi halu.

Rasa amarah sudah di ubun-ubun Dinar. Matanya berkilat, dan jauh di lubuk hati mulai ragu dengan apa yang dikatakan wiku gaek ini. Benar Pangeran Purwawisesa berencana makar?!

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online