Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 081

Joko Santosa
Joko Santosa Sabtu, 05 September 2020 23:47 WIB
Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 081

Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan

081

Dinar sudah di atas genteng.Tangannya menggenggam batu sebesar telor ayam. Sepasang kalong tidak kelihatan, entah ke mana. Namun yang besar masih terus berputaran di atas gedung, mungkin menanti jeritan maut yang akan ia “laporkan” kepada majikannya. Selama belum ada pekik menyayat, kelelawar itu tidak akan pergi. Dengan menahan murka, pelan-pelan Dinar berjalan mengendap sambil mengukur tenaga karena ia tidak ingin membunuh kelelawar. Dinar menyambit tepat mengenai sayapnya.

Kalong itu mengeluarkan suara mencicit keras, terbangnya sempoyongan, dan bercericit kebingungan sampai kemudian terbang ke barat. Ini yang dikehendaki Dinar. Siasatnya berhasil. Ia menghalau kelelawar agar pulang kandang sebelum tuntas menyelesaikan tugas. Balik menuju sarang dan membawa Dinar bertemu majikannya. Dengan mengerahkan ajian Bayu Bajra, Dinar mampu mengimbangi larinya kelelawar.

Di pintu regol selatan kalong itu berputar-putar tampaknya ragu meneruskan balik karena tugasnya belum rampung. Dinar sekali lagi menyambit, hanya menyerempet sayap, tapi sudah membuat kelelawar terbirit-birit ketakutan. Dari bawah Dinar terus menguntit kalong itu terbang terus ke luar tapal batas Tembayat, dan menuju hutan rungkut. Dinar beruntung malam itu bulan yang tinggal sepotong bergerak tanpa berisik dan masih menyisakan terangnya. Tidak ada awan hitam, langit resik. Bayangan kalong tampak jelas.

Alangkah besarnya kelelawar itu saat terbang rendah. Sayapnya sebesar rajawali. Kalong itu menuju hutan yang banyak pohon raksasa. “Sialan,” gerutu Dinar. Jika ia masih berlari-lari di bawah akan kehilangan jejak. Terpaksa Dinar melompat gesit dari pohon ke pohon. Dinar yakin tentu datuk hitam itu bersembunyi di tengah alas. Dari atas pucuk pohon mahoni, tampak kalong itu menukik turun ke atas atap sebuah pondok mungil.

“Tentu gubuk itu tempat bangsat laknat bersembunyi,” Dinar berhati-hati meloncat ke atas pohon ketapang yang berdekatan dengan dangau tersebut. Ia mengintai dengan megeng napas, siapa tahu tokoh sakti itu mencium kedatangannya lewat indera ke enam.

Kalong besar itu menggelepar di atas atap barung-barung, lalu menerobos masuk melalui pintu setelah dengan sayapnya menabrak lawang yang terkuak sedikit. Terdengar suara serak di dalam pondok, memaki-maki tidak karuan. Dinar melompat turun, kakinya sama sekali tidak ada suara ketika menginjak tanah seperti seekor kucing. Dinar mengintai dari celah-celah daun pintu yang sedikit terbuka. Muka Dinar merah padam melihat pemandangan di dalam gubuk. Seorang kakek renta, kurus kering, bersila sambil menyerapahi kelelawar yang hinggap di bawah atap, di atas patung Batara Kala.

“Kelelawar dungu! Kalong goblok! Lawa sialan! Belum juga selesai tugas berani pulang. Kamu tergesa melapor tentang kegagalanku kali ini? Kurang ajar! Aku bakar dagingmu dibacem untuk sarapan, begitu?” Kakek itu mengomel uring-uringan. Sebuah golek berada di tangan kiri, sebatang cundrik di tangan kanan. Anak-anakan di tangan kirinya itu menyerupai benar wajah Latri. Lengkap dengan rambut asli dan mengenakan pakaian merah mirip kesukaan istrinya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online