Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 076

Joko Santosa
Joko Santosa Minggu, 30 Agustus 2020 23:47 WIB
Cerita Bersambung Sandyakala Ratu Malang: Bagian 076

Sandyakala Ratu Malang/Harian Jogja-Hengki Irawan

076

“Kangmas benar-benar hebat. Aku lihat sendiri paha ayam kita berdarah. Terkutuk benar siapa pun itu yang tega membunuh Pranacitra dan beberapa perwira dengan keji,” Latri merutuk dengan wajah ngeri.

“Dan setelah terjadi pembunuhan laknat, lalu fitnah ditebarkan untuk merusak namaku, apa aku harus berpangku tangan? Tidakkah sekarang Yayi mengijinkanku menyelidiki peristiwa ini?” tanya Demang Dinar.

“Kangmas perintahkan seluruh telik sandi untuk bekerja keras siang malam menyelidiki kejadian aneh ini. Mereka harus bisa mengungkap pelakunya,” kata Latri.

“Tidak ada gunanya,” Demang Dinar menggelengkan kepala.

“Seseorang mampu menerapkan ajian Waringin Sungsang. Mungkin dalam kanuragan ia tidak terlampau tangguh. Tapi tentu mumpuni soal ilmu hitam. Para telik sandi akan jadi korban sia-sia. Aku tidak meragukan kemampuan prajurit Tembayat. Namun yang kita hadapi ini tokoh digdaya. Para prajurit hanya menyerahkan nyawa dengan percuma,”

“Ya sudah. Kangmas makan dulu mumpung nasi masih hangat. Aku memasak brongkos dengan kluwak legit kesukaanmu,” Latri mencium mesra pipi suaminya.

“Sehabis makan, ehmmm, aku jadi merasa seram Kangmas,” sambungnya tersipu-sipu.

“Kakang harus bagaimana?” Dinar menggoda. Meski menjabat demang, ia tetap jenaka.

Ehhmm. Kangmas temani aku tidur. Keloni…..”

“Bukankah kakang selalu menemanimu?”

“Malam ini beda, Kangmas.”

“Maksud Yayi?”

“Peluk aku erat-erat sepanjang malam. Aku nyaman sekali berada dalam dekapanmu.”

“Hanya dipeluk?”

Ahhh, Kangmas ….”

(Sesudah dengan gemati Latri melayani suaminya makan malam, mereka bergandengan menuju pembaringan. Dinar sepenuh gairah menjalankan tugasnya “membuat nyaman” Latri. Semalaman penuh, cucu Panembahan Senopati itu pulas dalam dekapan mesra suaminya)

Sampai tiba hari Respati.

Sesiang itu Dinar mengunci diri dalam sanggar pamujan. Tidak hanya membaca rapalan, demang itu ikhlas memasrahkan diri sepenuhnya dalam daulat gusti kang murbeng dumadi. Tak ada kekuasaan apapun selain bersandar dan berserah diri pada-Nya.

“Yayi, maafkan kakang. Sekarang waktunya penjahat itu turun tangan. Ketahuilah, Yayi, sungguh tidak mudah mencari datuk sakti itu jika tidak bertepatan dengan ia melepaskan ilmu hitamnya. Menurut guruku, Begawan Sempani, ketika penjahat mengetrapkan ajian Waringin Sungsang, dia juga menggunakan telik sandi yang akan mengabarkan hasilnya sukses atau gagal. Kakang belum tahu pengintai itu berupa apa? Biasanya hewan sejenis burung hantu atau kalong. Doakan Yayi agar kakang berhasil menangkap pembunuh biadab itu,” Dinar memandang istrinya penuh cinta. Demi Latri pula ia bertaruh nyawa, karena masih belum jelas musuh yang dihadapi seberapa tinggi ilmunya. Artinya, terbuka kemungkinan ia sendiri tewas jika kalah sakti.

“Para telik sandi Tembayat apa tidak mampu menangkap pengintai?” Latri mencoba agar suaminya tidak turun tangan sendiri.

“Bagaimana teman-teman prajurit mampu menangkap? Jika pengintai itu burung gagak, atau kelelawar, mana mampu telik sandi memburunya? Sudahlah Yayi, doamu supaya kakang berhasil menangkap. Satu keyakinan kita berada di jalan benar. Tentu sang penguasa semesta melindungi kita,” Dinar melangkah ke pintu kamar dengan kepala tegak.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online