Imunisasi Tak Capai Target, Wabah Berisiko Muncul Lagi
Angka cakupan imunisasi dasar lengkap dan imunisasi lanjutan bayi di bawah dua tahun (baduta) secara nasional masih di bawah target minimal 95% pada 2020. Mayoritas imunisasi pun menurun.
Ilustrasi Depresi/Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA - Pandemi Corona membuat manusia harus membatasi banyak aktivitasnya, terutama saat di luar rumah. Penyebaran virus corona dalam beberapa waktu terakhir membuat sejumlah orang semakin cemas, stres, hingga tanpa sadar tengah mengalami depresi.
Hal ini karena sosialiasi menjadi terbatas dan bisa dibilang kegiatan yang menjadi bagian dari hidup sehari-hari sebelum epidemi ini seperti gym, ngopi, nonton, shopping di mall, dan lainnya menjadi terhenti.
Belum lagi distraksi dengan anggota keluarga bagi mereka anak kos, ditambah pula kekhawatiran tentang keadaan keuangan dan masa depan perusahaan atau usaha.
Lantas bagaimana mengenali tanda-tanda depresi pada situasi pandemi ini?
Awareness Transfiguration Facilitator dan Psychotherapist Ferry Fibriandani mengatakan ada sejumlah gejala untuk mengetahui kita sedang mengalami depresi.
Pertama, muncul rasa putus asa yang dominan di dalam diri dan apatis terhadap semua hal. Kedua, kehilangan ketertarikan pada hal-hal yang dalam situasi normal menjadi pusat perhatian ketertarikan.
Ketiga, rasa lelah yang berlebihan. Keempat mengalami problem tidur. Rasa resah yang dominan disertai ciri-ciri fisik seperti napas yang cepat tidak beraturan, otot-otot mengencang, keringat berlebihan, dan sulit konsentrasi.
Kelima, sudah terprovokasi oleh situasi diluar diri, sensitif, marah, tersinggung. Keenam, perubahan selera makan dan berat badan. Ketujuh, perubahan selera atau keinginan seksual.
Ferry menjelaskan semua gejala gangguan di atas bersifat semu dan hanya berjalan di dalam pikiran, bersifat psikosomatik, namun tidak dapat dianggap remeh karena secara dampak memiliki kondisi ketidaknyaman setara gangguan fisiologis.
"Apabila kondisi ini berlanjut terus-menerus mengambil alih tubuh dan berdampak ke elemahnya motivasi, makin mengurung diri, mengganggu tidur, nafsu makan, dan makin mencari perhatian," jelas founder Remedi Indonesia ini dalam kuliah online beberapa waktu lalu.
Depresi akan menyia-nyiakan kemampuan terbaik untuk dapat menyelesaikan masalah dan untuk berkarya secara produktif. Ya, depresi katanya bisa berpengaruh pada kondisi fisik atau yang kerap disebut psikosomatik.
Oleh karena itu, jika mengalami gejala itu, Ferry menyarankan untuk menemui tenaga professional di bidang wellbeing yang tersertifikasi dan kompeten supaya segera tertangani, dibandingkan membiarkan diri dalam situasi tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Angka cakupan imunisasi dasar lengkap dan imunisasi lanjutan bayi di bawah dua tahun (baduta) secara nasional masih di bawah target minimal 95% pada 2020. Mayoritas imunisasi pun menurun.
Dishub Bantul menertibkan PKU dengan tagihan listrik membengkak hingga Rp1 juta per bulan di ratusan titik penerangan kampung.
OJK mencatat pembiayaan perbankan syariah tumbuh 9,82% menjadi Rp716,40 triliun hingga Maret 2026.
Prabowo menyebut 1.061 Koperasi Merah Putih berhasil dioperasikan dalam tujuh bulan untuk memperkuat ekonomi desa.
BPBD Temanggung memetakan 12 kecamatan rawan kekeringan pada musim kemarau 2026 dan menyiapkan distribusi air bersih.
Gempa Magnitudo 4,8 mengguncang Sigi, Sulawesi Tengah, dan getarannya terasa hingga Palu pada Sabtu sore.