Cara Cek STNK Digital Lewat SIGNAL, Ini Syaratnya
Simak syarat dan cara mengakses data STNK melalui aplikasi SIGNAL serta hal yang perlu diketahui soal dokumen kendaraan saat razia.
Sepatu Olahraga / Ist
Harianjogja.com, JOGJA—Memilih sepatu yang tepat menjadi salah satu hal penting saat mulai rutin jogging atau mencoba lari di jalur alam. Sepatu road running dan trail running memang sama-sama dirancang untuk berolahraga, tetapi keduanya memiliki karakteristik berbeda sesuai medan penggunaannya.
Sepatu road running lebih cocok untuk permukaan keras dan relatif rata, seperti aspal, lintasan stadion, serta treadmill. Sementara itu, sepatu trail running dirancang untuk menghadapi medan alam yang lebih bervariasi, mulai dari tanah, bebatuan, hingga jalur berlumpur.
Perbedaan desain tersebut berpengaruh terhadap kenyamanan, cengkeraman, dan perlindungan kaki. Karena itu, mengenali karakteristik keduanya bisa membantu pelari memilih sepatu sesuai aktivitas dan mengurangi risiko terpeleset atau mengalami ketidaknyamanan saat berolahraga.
1. Sepatu Road Running untuk Aspal dan Treadmill
Sepatu road running dirancang untuk aktivitas lari di permukaan yang relatif rata dan keras. Jenis sepatu ini cocok digunakan saat jogging di jalan perumahan, berlari di lintasan stadion, mengikuti kegiatan car-free day, maupun berlatih menggunakan treadmill.
Salah satu ciri utamanya adalah bantalan atau cushioning yang dirancang untuk membantu meredam benturan kaki ketika berlari. Karakter bantalan setiap model bisa berbeda, bergantung pada desain dan kebutuhan penggunanya.
Bagian sol bawah atau outsole umumnya memiliki pola yang lebih halus dibandingkan sepatu trail. Desain tersebut disesuaikan dengan kebutuhan berlari di permukaan yang tidak memerlukan gerigi agresif.
Dari segi bobot, sepatu road running umumnya dibuat relatif ringan dan fleksibel untuk menunjang gerakan kaki selama berlari.
Dengan karakteristik tersebut, sepatu road running bisa menjadi pilihan bagi mereka yang lebih sering berlari di jalan beraspal atau berlatih di dalam ruangan.
2. Sepatu Trail Running untuk Jalur Alam
Berbeda dari sepatu road running, sepatu trail running dibuat untuk menghadapi permukaan yang tidak selalu rata. Sepatu ini cocok untuk aktivitas lari di jalur tanah, bukit, kawasan berbatu, serta lintasan alam yang memiliki akar pohon atau bagian berlumpur.
Salah satu pembeda yang mudah dikenali adalah bentuk sol bawahnya. Sepatu trail running umumnya memiliki gerigi atau lugs yang lebih menonjol untuk membantu mencengkeram permukaan tanah. Desain tersebut berguna ketika pengguna melewati jalur menanjak, menurun, atau licin, meskipun tingkat cengkeramannya tetap bergantung pada pola sol dan kondisi medan.
Sepatu trail juga dapat dilengkapi pelindung di bagian depan atau toe cap untuk membantu melindungi jari kaki dari benturan dengan batu atau benda lain di jalur lari. Bagian atas sepatu atau upper pada sejumlah model dibuat lebih kokoh untuk memberikan perlindungan tambahan.
Bobot dan tingkat kekakuan sepatu trail running bervariasi. Beberapa model terasa lebih kokoh dibandingkan sepatu road running karena dirancang untuk kebutuhan perlindungan dan cengkeraman di medan alam.
Sepatu ini dapat dipertimbangkan untuk trail running, lari di bukit, atau aktivitas di jalur alam. Namun, untuk hiking dengan medan berat atau membawa beban, pemilihan alas kaki tetap perlu disesuaikan dengan kondisi jalur dan kebutuhan perlindungan kaki.
3. Apa Risikonya Jika Salah Memilih Sepatu?
Menggunakan sepatu yang tidak sesuai medan dapat memengaruhi kenyamanan dan kestabilan saat bergerak.
Jika sepatu trail running digunakan untuk berlari di aspal, gerigi solnya mungkin terasa kurang nyaman dibandingkan sol sepatu yang memang dirancang untuk jalanan. Karakter sepatu yang lebih kokoh pada sejumlah model juga dapat terasa kurang sesuai bagi pelari yang mengutamakan sepatu ringan dan fleksibel.
Sebaliknya, sepatu road running yang digunakan di jalur berlumpur atau tanah gembur bisa memiliki keterbatasan cengkeraman. Sol yang relatif halus mungkin tidak memberikan pijakan sebaik sepatu trail dengan gerigi yang sesuai, sehingga risiko terpeleset dapat meningkat.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti semua sepatu trail terasa berat di aspal atau semua sepatu road running pasti licin di jalur tanah. Hasilnya bergantung pada desain sepatu, kondisi permukaan, dan cara pengguna berlari.
4. Sesuaikan Sepatu dengan Rute Olahraga
Sebelum membeli sepatu, pertimbangkan jenis rute yang paling sering dilalui. Jika aktivitas utama berupa jogging di jalan beraspal, berlari di stadion, atau menggunakan treadmill, sepatu road running umumnya menjadi pilihan yang sesuai.
Namun, jika lebih sering berlari di jalur tanah, bukit, atau lintasan alam yang memiliki permukaan tidak rata, sepatu trail running dapat memberikan cengkeraman dan perlindungan yang lebih sesuai.
Perhatikan pula kenyamanan, ukuran sepatu, karakter bantalan, serta kondisi medan yang akan dihadapi. Untuk jalur hiking yang terjal atau berbatu, pertimbangkan juga apakah sepatu tersebut memang dirancang untuk kebutuhan pendakian, bukan hanya untuk trail running.
Dengan memilih sepatu berdasarkan medan dan aktivitas, olahraga bisa terasa lebih nyaman sekaligus membantu mengurangi risiko tergelincir akibat alas kaki yang kurang sesuai.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Simak syarat dan cara mengakses data STNK melalui aplikasi SIGNAL serta hal yang perlu diketahui soal dokumen kendaraan saat razia.
Fitur Scheduled Call WhatsApp memungkinkan pengguna menjadwalkan panggilan suara dan video. Simak cara membuat jadwal dan mengundang kontak.
Ekonomi Indonesia dan DIY diperkirakan membaik pada 2027. Inovasi, efisiensi bisnis, dan dukungan bagi UMKM menjadi perhatian Bank BPD DIY.
Marc Marquez menegaskan tak akan memakai media untuk menyerang lawan. Ia mengakui eksposur media bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
“Perbankan masih menjadi tulang punggung untuk kegiatan intermediasi keuangan di DIY dan kami yakin bahwa pondasi industri jasa keuangan DIY tetap terjaga,"
Salam tiga jari yang digunakan dalam aksi BEM UI pada 28 Oktober 2026 memiliki sejarah sebagai simbol solidaritas dan perlawanan terhadap kekuasaan otoriter.