Advertisement
Studi Ungkap Vape Bisa Hantarkan Logam Beracun ke Paru-Paru
Rokok elektrik alias vape / Ilustrasi Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Anggapan bahwa rokok elektronik atau vape lebih aman dibandingkan rokok konvensional kembali dipertanyakan. Sebuah penelitian terbaru dari Australia mengungkapkan bahwa perangkat vape berpotensi menghantarkan logam beracun langsung ke jaringan paru-paru penggunanya.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa paparan vape, bahkan dalam jangka pendek dan pada tingkat yang lebih rendah dari penggunaan harian manusia, dapat menyebabkan akumulasi logam berbahaya seperti timbal, tembaga, dan nikel di jaringan paru-paru. Temuan ini berasal dari studi praklinis yang dilakukan oleh peneliti dari University of Technology Sydney (UTS), yang dipublikasikan dalam jurnal Analytical and Bioanalytical Chemistry.
Advertisement
Temuan Awal Bahaya Tersembunyi Vape
Peneliti utama studi tersebut, Dayanne Bordin, menyebutkan bahwa penelitian ini mengungkap “bahaya yang selama ini kurang disadari” dari penggunaan vape. Ia menjelaskan bahwa aerosol dari vape tidak hanya mengandung zat kimia umum, tetapi juga spesies logam yang berasal dari komponen perangkat itu sendiri.
BACA JUGA
“Profil logam yang diamati konsisten dengan emisi dari koil pemanas dan komponen listrik,” ujar Bordin dalam pernyataannya.
Menurutnya, banyak penilaian keamanan vape selama ini belum mempertimbangkan emisi yang berasal dari perangkat seperti koil pemanas, padahal komponen tersebut dapat menjadi sumber utama paparan logam beracun.
Risiko dari Desain Perangkat yang Beragam
Berbeda dengan rokok tradisional, perangkat vape memiliki variasi desain dan kualitas produksi yang sangat beragam. Kondisi ini membuat tingkat risiko paparan zat berbahaya menjadi tidak seragam antarproduk.
Penelitian ini menegaskan bahwa perbedaan kualitas tersebut berpotensi meningkatkan risiko kesehatan, terutama bagi pengguna yang menggunakan perangkat dengan standar produksi rendah atau tidak teruji secara ketat.
Peningkatan Penggunaan di Kalangan Muda
Temuan ini menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya penggunaan vape di berbagai negara, terutama di kalangan anak muda. Di Australia, misalnya, penggunaan vape pada kelompok dewasa muda meningkat signifikan dari 5,3 persen pada 2019 menjadi lebih dari 21 persen pada 2023.
Kenaikan serupa juga terjadi di kalangan remaja, yang menunjukkan tren penggunaan rokok elektronik semakin meluas dan menjadi tantangan kesehatan masyarakat.
Seruan Regulasi Lebih Ketat
Para peneliti menilai perlu adanya peninjauan ulang terhadap regulasi vape, termasuk pengujian rutin terhadap emisi perangkat serta pembaruan panduan kesehatan publik terkait paparan logam dan dampaknya pada tubuh.
Mereka menekankan bahwa potensi bioakumulasi logam dalam paru-paru tidak boleh diabaikan, mengingat dampaknya dapat berkembang dalam jangka panjang.
Dengan temuan ini, para ahli berharap masyarakat lebih berhati-hati dalam menganggap vape sebagai alternatif yang aman, serta mendorong kebijakan yang lebih ketat untuk melindungi kesehatan publik, khususnya generasi muda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement







