Advertisement
Konser Terancam Batal, Prancis Pertimbangkan Blokir Kanye West
Kanye West / Instagram
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Rencana konser Kanye West di Prancis terancam batal setelah pemerintah setempat mulai mengkaji opsi pelarangan masuk bagi musisi tersebut. Langkah ini memicu perhatian publik karena berpotensi mengganggu rangkaian tur Eropa yang sudah dijadwalkan.
Jika kebijakan itu diberlakukan, konser yang dijadwalkan di Orange Vélodrome, Marseille, pada 11 Juli 2026 kemungkinan besar tidak bisa terlaksana. Pemerintah Prancis kini tengah menelaah dasar hukum sebelum mengambil keputusan final.
Advertisement
Dampak dari polemik ini langsung terasa bagi penggemar di Eropa, terutama di Prancis yang berpotensi kehilangan salah satu konser besar musim panas. Ketidakpastian jadwal membuat penonton harus menunggu keputusan pemerintah terkait izin masuk bagi sang artis.
Dilansir dari Le Monde, Rabu (15/4/2026), Menteri Dalam Negeri Prancis, Laurent Nuñez, mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang mengkaji kemungkinan tersebut. Ia menegaskan keputusan belum diambil, namun berbagai opsi hukum tengah dipertimbangkan untuk mencegah konser berlangsung jika dinilai berisiko.
BACA JUGA
Langkah ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, kontroversi serupa telah berujung pada pembatalan Wireless Festival 2026 di Inggris. Pemerintah Inggris bahkan secara resmi melarang Kanye West memasuki wilayahnya pada 7 April 2026.
Keputusan tersebut diambil setelah gelombang kritik publik dan tekanan politik meningkat, terutama terkait rekam jejak pernyataan kontroversial yang pernah disampaikan Kanye. Ia sempat memicu kecaman luas akibat pernyataan antisemitisme, termasuk menyebut dirinya sebagai Nazi serta merilis lagu berjudul “Heil Hitler” pada 2025.
Situasi ini membuat pemerintah Prancis berada dalam tekanan serupa. Penolakan tidak hanya datang dari publik, tetapi juga dari pemerintah daerah. Wali Kota Marseille, Benoît Payan, secara terbuka menolak rencana konser tersebut.
“Saya menolak membiarkan Marseille menjadi ajang bagi mereka yang mempromosikan kebencian dan Nazisme tanpa penyesalan,” tegas Payan.
“Kanye West tidak diterima di Vélodrome, kuil kami untuk hidup bersama dan semua orang Marseille,” lanjutnya.
Meski tekanan terus meningkat, pemerintah Prancis menghadapi dilema hukum. Pelarangan seseorang masuk ke negara hanya dapat dilakukan jika ada ancaman serius terhadap ketertiban umum atau potensi tindakan kriminal. Hal ini membuat keputusan tidak bisa diambil secara sembarangan.
Saat ini, Inggris menjadi satu-satunya negara yang telah resmi memberlakukan larangan tersebut. Sementara itu, jadwal tur Kanye di sejumlah negara Eropa lain seperti Turki, Belanda, Italia, Spanyol, dan Portugal masih berjalan sesuai rencana.
Di tengah kontroversi, Kanye West sebelumnya sempat menyampaikan permintaan maaf menjelang perilisan album Bully melalui iklan di The Wall Street Journal. Ia mengaitkan perilakunya dengan kondisi kesehatan, termasuk cedera otak dan gangguan bipolar.
“Saya tahu kata-kata saja tidak cukup. Saya harus menunjukkan perubahan melalui tindakan saya,” ujarnya. Namun hingga kini, belum ada pernyataan terbaru dari Kanye terkait larangan di Inggris maupun potensi pembatasan masuk di Prancis, sehingga nasib konser di Marseille masih belum pasti.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Tiga Kapal Asing Ditangkap di Selat Malaka Rugikan Negara Miliaran
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Mobil Terjun ke Ceruk Enam Meter di Kalasan Sleman Saat Hujan
- Terjadi Lagi Keracunan Makanan di Sekolah Bantul, Korban 80 Siswa
- Top Ten News Harianjogja.com, Rabu 15 April 2026, Penerapan WFH
- Hujan Lebat Picu Longsor di Sleman, Talud Ambrol di Sejumlah Wilayah
- Kasus Keracunan MBG, BGN DIY Minta Evaluasi Total SOP
Advertisement
Advertisement








