Advertisement

Kasus Campak Kembali Muncul, Ini yang Jadi Sorotan Dokter

Newswire
Senin, 13 April 2026 - 15:27 WIB
Maya Herawati
Kasus Campak Kembali Muncul, Ini yang Jadi Sorotan Dokter Foto ilustrasi campak. / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Munculnya kembali kasus campak di Indonesia menjadi perhatian serius kalangan medis. Kondisi ini dinilai sebagai tanda melemahnya cakupan imunisasi, sehingga berpotensi memicu penyebaran penyakit menular yang sebelumnya telah terkendali.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia, Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan bahwa pengendalian campak dan polio sangat bergantung pada imunisasi yang merata dan konsisten.

Advertisement

Penurunan Imunisasi Jadi Pemicu

Piprim menjelaskan campak termasuk re-emerging disease, yakni penyakit yang pernah berhasil dikendalikan namun kini kembali meningkat.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit menular pada masa lalu tidak lepas dari vaksinasi massal. Contohnya, polio yang mulai terkendali sejak 1960-an berkat pengembangan vaksin dan distribusi luas.

Namun, kondisi saat ini menunjukkan adanya peningkatan kasus yang signifikan, sehingga diperlukan upaya lebih masif dalam pelaksanaan imunisasi serta pengawasan pelaporan kasus.

Campak Sangat Mudah Menular

Selain itu, cakupan imunisasi campak yang menurun juga menjadi perhatian. Padahal, penyakit ini memiliki tingkat penularan sangat tinggi.

Piprim menyebut angka reproduksi dasar atau R0 campak dapat mencapai 12 hingga 18. Artinya, cakupan imunisasi harus berada di atas 95 persen agar terbentuk kekebalan kelompok.

“Ketika Kejadian Luar Biasa itu muncul, artinya cakupan imunisasi jeblok,” ujarnya.

Hoaks dan Edukasi Jadi Tantangan

Tantangan lain yang dihadapi adalah maraknya informasi menyesatkan terkait vaksin di media sosial.

Menurut Piprim, munculnya kelompok anti-vaksin berpotensi menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi, sehingga berdampak pada rendahnya cakupan vaksinasi.

Layanan Kesehatan Dasar Perlu Diperkuat

Ia juga menyoroti pentingnya memperkuat layanan kesehatan primer seperti posyandu dan puskesmas.

Menurutnya, saat ini layanan kesehatan cenderung fokus pada penanganan penyakit (kuratif), sementara upaya pencegahan (promotif dan preventif) belum optimal.

Piprim mendorong peningkatan fasilitas dan insentif bagi kader posyandu agar deteksi dini dapat berjalan lebih baik.

Perlu Dukungan Semua Pihak

Piprim menegaskan pengendalian penyakit menular membutuhkan kolaborasi semua pihak, termasuk pemerintah dan masyarakat.

“Ayo sama-sama kita fokuskan ke promotif-preventif. Supaya jangan lagi ada anak yang mati karena campak,” ujarnya.

Dengan penguatan imunisasi dan edukasi yang tepat, diharapkan kasus campak dan polio dapat kembali ditekan serta tidak berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih luas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Sabu Rp53 Miliar Digagalkan, Jaringan Malaysia Terbongkar

Sabu Rp53 Miliar Digagalkan, Jaringan Malaysia Terbongkar

News
| Senin, 13 April 2026, 21:07 WIB

Advertisement

Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja

Dari Banjir Aceh ke Lonjakan Ekspor, Kafe Tanjoe Kopi Eksis di Jogja

Wisata
| Senin, 13 April 2026, 16:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement