Stasiun Gambir Akan Layani KRL, Jadi Pusat Konektivitas Transportasi
Stasiun Gambir akan melayani KRL dan kereta jarak jauh. Transformasi ini menjadikannya hub transportasi terintegrasi di Jakarta.
Rokok - Ilustrasi/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA–Ibadah puasa di bulan suci Ramadan dinilai menjadi peluang emas bagi para pecandu rokok untuk mengakhiri ketergantungan mereka secara total. Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menekankan bahwa durasi menahan diri dari fajar hingga magrib merupakan latihan nyata bahwa tubuh sebenarnya mampu berfungsi optimal tanpa asupan nikotin.
Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara tersebut menjelaskan bahwa asap rokok membawa ribuan senyawa kimia berbahaya, di mana ratusan di antaranya bersifat toksik dan memicu puluhan jenis penyakit kronis.
Menurutnya, momentum bulan suci Ramadan tahun ini harus dimanfaatkan untuk membersihkan paru-paru, mengingat zat beracun tersebut berdampak buruk pada kesehatan organ tubuh dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Para perokok yang berpuasa akan berhenti merokok sejak sahur sampai berbuka puasa. Masyarakat luas agar memanfaatkan momentum bulan suci Ramadan tahun ini untuk berhenti merokok sepenuhnya,” tegas Prof. Tjandra dalam keterangan tertulisnya, Selasa (3/3/2026).
Ia juga menyoroti aspek etika beribadah, di mana asap rokok sering kali menimbulkan gangguan bagi orang lain, sehingga penghentian kebiasaan ini selaras dengan semangat menjaga kenyamanan sesama selama menjalankan rukun Islam.
Lebih lanjut, Adjunct Professor Griffith University ini mematahkan anggapan keliru bahwa seseorang baru bisa bekerja atau beraktivitas setelah mengisap rokok. Faktanya, selama bulan puasa, para perokok terbukti tetap produktif dari pagi hingga sore hari meski tanpa tembakau, yang sekaligus membuktikan bahwa ketergantungan tersebut hanyalah sugesti yang bisa dikendalikan dengan niat kuat untuk berhenti merokok di bulan Ramadan.
Prof. Tjandra juga memberikan peringatan keras agar masyarakat tidak berbuka puasa dengan merokok, karena hal itu justru memperparah kondisi tubuh yang sedang lemah setelah seharian tidak makan dan minum.
Alih-alih menyalakan rokok, waktu berbuka sebaiknya diisi dengan asupan nutrisi dan makanan bergizi, sehingga kebiasaan positif tersebut dapat berlanjut secara konsisten bahkan setelah bulan suci berakhir demi menjaga kualitas lingkungan dan kesehatan jangka panjang.
Manfaat kesehatan yang didapat dari berhenti merokok di bulan Ramadan akan sangat terasa bagi kehidupan pribadi maupun orang-orang di sekitar, mengingat ketagihan zat kimia tersebut secara empiris sudah bisa diredam selama belasan jam setiap harinya.
Mantan Dirjen Pengendalian Penyakit Kemenkes itu menambahkan bahwa keberhasilan menahan diri hingga waktu sahur berikutnya akan menjadi modal utama untuk meninggalkan rokok selamanya dan menciptakan pola hidup baru yang lebih bersih serta bebas dari risiko penyakit paru maupun gangguan jantung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Stasiun Gambir akan melayani KRL dan kereta jarak jauh. Transformasi ini menjadikannya hub transportasi terintegrasi di Jakarta.
Libur sekolah 2026 diprediksi mendongkrak wisata Karanganyar. The Lawu Group perketat keamanan, hadirkan promo, dan optimistis kunjungan meningkat.
Investigasi mengungkap dugaan hacker Rusia berada di balik peretasan Jaguar Land Rover yang menyebabkan kerugian ekonomi hingga miliaran dolar.
Prabowo Subianto mengungkap pertanyaannya kepada profesor tentang gandum, sawit, dan industri mobil Indonesia dalam Sarasehan Kebangsaan.
Eks pekerja RSU Griya Mahardhika Jogja menuntut pembayaran gaji empat bulan dalam aksi damai di Bantul. Mediasi ketiga dijadwalkan 1 Juli 2026.
Pajak nol persen impor suku cadang pesawat memasuki tahap harmonisasi. Kemenhub berharap kebijakan segera berlaku untuk menekan biaya maskapai.