Advertisement

Plus Minus Penggunaan Genteng Tanah Liat vs Atap Logam

Jumali
Kamis, 05 Februari 2026 - 16:17 WIB
Jumali
Plus Minus Penggunaan Genteng Tanah Liat vs Atap Logam Sidam Miharjo, salah seorang perajin genteng di Kalurahan Sambirejo, Ngawen saat memperlihatkan cetakan genteng yang dijemur di halaman tempat produksi, Kamis (5/2/2026). - Harian Jogja - David Kurniawan.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah mulai mengintensifkan kampanye penggunaan genteng tanah liat melalui program gentengisasi sebagai upaya menata lingkungan sekaligus menghidupkan kembali identitas arsitektur lokal di tengah dominasi hunian modern bermaterial logam.

Program ini juga diarahkan untuk memperkuat estetika kawasan pariwisata yang dinilai semakin kehilangan karakter tradisionalnya.

Advertisement

Langkah tersebut diambil menyusul perubahan lanskap perkotaan yang kian dipenuhi atap berbahan baja ringan, seng, hingga aluminium. Pergeseran tren ini terjadi seiring berkembangnya desain rumah minimalis yang mengedepankan kepraktisan, kecepatan pembangunan, serta efisiensi biaya konstruksi.

Disarikan dari beberapa sumber, selama puluhan tahun, genteng tanah liat sebenarnya menjadi material utama penutup atap rumah di Indonesia. Namun, keberadaannya perlahan tergeser oleh material logam yang dinilai lebih ringan dan mudah dipasang. Saat ini, genteng tradisional umumnya masih bertahan di wilayah pedesaan atau pada rumah bergaya klasik yang mengutamakan ketahanan jangka panjang.

Dari sisi teknis, genteng tanah liat memiliki keunggulan signifikan dalam hal umur pakai yang dapat mencapai lebih dari satu abad. Sebaliknya, atap logam rata-rata memiliki usia pakai sekitar 40 hingga 70 tahun dan berpotensi mengalami korosi seiring waktu, terutama di lingkungan lembap dan pesisir.

Genteng tanah liat juga unggul dalam kenyamanan hunian. Material ini mampu meredam suara hujan secara alami, berbeda dengan atap logam yang cenderung menimbulkan kebisingan jika tidak dilengkapi lapisan insulasi tambahan. Namun, bobot genteng tanah liat yang relatif berat menuntut struktur bangunan yang lebih kokoh, sehingga biaya konstruksi awal menjadi lebih tinggi.

Melalui program gentengisasi, pemerintah tidak hanya mendorong penggunaan material ramah iklim tropis, tetapi juga berupaya menyelamatkan industri pengrajin genteng lokal yang kian terdesak oleh produk fabrikasi modern. Keberlanjutan industri ini dinilai penting untuk menjaga rantai ekonomi daerah serta warisan keterampilan tradisional.

Selain aspek ekonomi, penggunaan genteng tanah liat dipandang mampu memperkuat citra kawasan pariwisata agar tampil lebih organik dan berkarakter. Atap tradisional dianggap selaras dengan lanskap alam dan nilai budaya lokal, terutama di daerah tujuan wisata yang mengandalkan keunikan visual sebagai daya tarik utama.

Meski demikian, tantangan gentengisasi tidak ringan. Pemerintah masih dihadapkan pada perubahan selera masyarakat yang telah terbiasa dengan material ringan dan murah, serta pertimbangan biaya tambahan akibat kebutuhan struktur bangunan yang lebih kuat. Program ini pun dinilai memerlukan insentif dan edukasi berkelanjutan agar dapat diterima luas oleh pasar perumahan modern.

Plus Minus Penggunaan Genteng Tanah Liat vs Atap Logam

AspekGenteng Tanah LiatAtap Logam (Seng/Baja/Aluminium)
Umur Pakai50–100+ tahun40–70 tahun
BeratBerat, butuh struktur kuatRingan
Biaya AwalLebih mahalPremium awal, efisien jangka panjang
EstetikaKlasik, beragam bentuk glasirModern, minim pilihan warna
KetahananTahan api/serangga, rawan lumutTahan cuaca ekstrem, rawan korosi
PerawatanGlasir pudar, lumutSambungan termal rawan bocor

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Washington Post PHK Sepertiga Karyawan, Krisis Media di AS Kian Dalam

Washington Post PHK Sepertiga Karyawan, Krisis Media di AS Kian Dalam

News
| Kamis, 05 Februari 2026, 14:07 WIB

Advertisement

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine

Wisata
| Rabu, 04 Februari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement