Advertisement
Ikan Sidat Lebih Bergizi dari Salmon, Tapi Populasinya Kian Tertekan
Ikan Sidat - Wikipedia
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Ikan sidat Indonesia memiliki kandungan gizi yang disebut melampaui salmon, mulai dari Omega-3 hingga vitamin dan mineral penting. Namun, potensi besar tersebut kini berbanding terbalik dengan kondisi populasinya di alam liar yang semakin tertekan akibat eksploitasi berlebihan dan lemahnya tata kelola.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Gadis Sri Haryani mengungkapkan, hasil riset terbaru menunjukkan ikan sidat memiliki kandungan Omega-3 berupa DHA dan EPA yang lebih tinggi dibandingkan ikan salmon maupun ikan gabus. Selain itu, sidat juga kaya vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh manusia.
Advertisement
“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” ungkap Gadis Sri Haryani, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, seperti dikutip dari laman resmi BRIN.
Ia menjelaskan, kandungan DHA pada ikan sidat sangat penting untuk perkembangan otak, sementara EPA berperan menjaga kesehatan jantung. Tidak hanya itu, sidat juga mengandung vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, serta fosfor dalam jumlah yang signifikan untuk menunjang kebutuhan gizi masyarakat.
BACA JUGA
Di balik keunggulan nutrisi dan nilai ekonominya yang tinggi, Gadis menyebutkan populasi sidat sangat rentan terhadap gangguan. Hal ini tidak terlepas dari siklus hidupnya yang bersifat katadromus dan sangat kompleks.
Sidat menetas di laut dalam sebagai larva, kemudian bermigrasi menuju muara untuk berubah menjadi glass eel atau sidat kaca, sebelum akhirnya tumbuh dewasa di perairan tawar. Perjalanan hidup yang melintasi tiga ekosistem berbeda tersebut membuat sidat sangat sensitif terhadap kerusakan lingkungan serta tekanan penangkapan liar.
Tekanan eksploitasi terhadap glass eel di alam liar untuk memenuhi permintaan pasar global telah menyebabkan ketidakstabilan pasokan dan fluktuasi harga di tingkat industri. Kondisi ini semakin memperberat ancaman terhadap keberlanjutan populasi sidat di Indonesia.
Menanggapi persoalan tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menerbitkan sejumlah kebijakan, antara lain pembatasan kuota penangkapan serta penetapan ukuran minimal ekspor sidat sebesar 150 gram per ekor. Namun demikian, implementasi kebijakan tersebut dinilai masih menghadapi berbagai kendala.
Gadis menyoroti keterbatasan kapasitas pembesaran, ketergantungan pada pakan impor, serta lemahnya sistem pengawasan di lapangan sebagai faktor yang menghambat efektivitas pengelolaan sidat secara berkelanjutan.
Menurutnya, solusi jangka panjang yang perlu segera dilakukan adalah transformasi tata kelola ekonomi sidat, dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi industri bernilai tambah. Hilirisasi produk dan penguatan budi daya domestik berbasis sains dinilai krusial untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kelestarian ekologi.
“Pemanfaatan sidat yang bertanggung jawab akan menciptakan nilai tambah sekaligus menjaga kelestarian laut dan perairan tawar Indonesia sebagai fondasi masa depan bangsa,” pungkas Gadis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Menlu Iran Kecam Keberadaan Militer AS di Dekat Perbatasannya
Advertisement
Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement



