Advertisement

Daftar Orang Terkaya di Indonesia 2026

Redaksi
Jum'at, 30 Januari 2026 - 21:47 WIB
Abdul Hamied Razak
Daftar Orang Terkaya di Indonesia 2026 Ilustrasi pamer kekayaan - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Dampak sentimen negatif dari kebijakan indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) tak hanya mengguncang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), tetapi juga menyeret turun nilai kekayaan sejumlah konglomerat Indonesia.

MSCI baru-baru ini melakukan penyesuaian portofolio terhadap saham-saham emiten Tanah Air. Dalam kebijakan tersebut, sejumlah perubahan konstituen ditangguhkan serta peningkatan jumlah saham Indonesia yang tersedia bagi investor global dibekukan sementara. Kondisi ini memicu tekanan harga saham sejumlah perusahaan besar milik para taipan nasional.

Advertisement

Akibatnya, nilai kekayaan sejumlah orang terkaya di Indonesia ikut terkoreksi tajam. Berdasarkan perbandingan terbaru dengan data Forbes 50 Richest 2025, berikut daftar sepuluh konglomerat yang terdampak gejolak pasar modal sepanjang 2026:

1. Prajogo Pangestu

Kekayaan: US$39,8 miliar → US$30,6 miliar

Pendiri Barito Pacific Group masih bertahan di posisi teratas. Namun, hartanya menyusut sekitar US$9 miliar seiring koreksi saham-saham yang terafiliasi dengannya, seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), PT Petrosea Tbk. (PTRO), dan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN).

2. Low Tuck Kwong

Kekayaan: US$24,9 miliar → US$22,4 miliar

Bos Bayan Resources ini tetap berada di jajaran elite berkat bisnis batu bara dan energi. Meski begitu, saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) ikut tertekan imbas sentimen MSCI.

3. Budi & Michael Hartono

Kekayaan: US$43,8 miliar → US$39,4 miliar

Kakak beradik pemilik Grup Djarum dan pengendali Bank Central Asia (BCA) turut merasakan penurunan nilai kekayaan, meski tetap menjadi figur dominan di dunia bisnis nasional.

4. Tahir & Keluarga

Kekayaan: US$9,8 miliar → US$10,6 miliar

Di tengah tekanan pasar, keluarga pendiri Mayapada Group justru mencatat kenaikan kekayaan. Diversifikasi bisnis di sektor perbankan, kesehatan, dan properti dinilai menjadi penopang utama stabilitas mereka.

5. Otto Toto Sugiri

Kekayaan: US$11,3 miliar → US$8,7 miliar

Pendiri DCI Indonesia (DCII) yang bergerak di sektor pusat data mengalami koreksi cukup besar. Meski begitu, industri digital masih menyimpan potensi pertumbuhan jangka panjang.

6. Sri Prakash Lohia

Kekayaan: US$8,0 miliar → US$8,4 miliar

Konglomerat tekstil dan petrokimia ini relatif stabil, bahkan mencatat kenaikan tipis karena portofolionya tak terlalu terimbas gejolak MSCI.

7. Marina Budiman

Kekayaan: US$8,2 miliar → US$6,2 miliar

Salah satu pendiri DCI Indonesia tetap menjadi perempuan terkaya di Indonesia, meski kekayaannya terkoreksi seiring perlambatan saham sektor pusat data.

8. Lim Hariyanto Wijaya Sarwono

Kekayaan: US$4,9 miliar → US$6 miliar

Pendiri Harita Group melonjak masuk jajaran 10 besar berkat penguatan bisnis hilirisasi nikel, aluminium, serta sektor kelapa sawit melalui Bumitama Agri.

9. Agoes Projosasmito

Kekayaan: US$5 miliar → US$5,9 miliar

Tokoh di balik PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) mencatat lonjakan kekayaan, didorong prospek cerah industri tembaga dan emas di tengah volatilitas pasar.

Gejolak ini menegaskan betapa eratnya keterkaitan antara sentimen global dengan dinamika kekayaan para konglomerat nasional. Kebijakan indeks internasional seperti MSCI terbukti mampu memicu efek domino, mulai dari anjloknya IHSG hingga tergerusnya valuasi perusahaan raksasa Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Kejagung Pantau Anjloknya IHSG, Dugaan Gorengan Saham Disorot

Kejagung Pantau Anjloknya IHSG, Dugaan Gorengan Saham Disorot

News
| Jum'at, 30 Januari 2026, 21:57 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement