FIFA ASEAN Cup 2026, Herdman Tegaskan Tim Garuda Siap Beri Segalanya
John Herdman berjanji Timnas Indonesia memberikan seluruh kemampuan di FIFA ASEAN Cup 2026 setelah gagal di Piala AFF 2026.
Ilustrasi. /Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Kurang tidur dan depresi bisa memicu nyeri haid makin parah. Seperti dikutip dari Medical Daily, Rabu (4/12/2024), Dismenore, atau nyeri haid parah, dialami sekitar 15 persen wanita dan biasanya terjadi menjelang menstruasi, lalu mereda dalam beberapa hari.
Jika nyeri haid terjadi tanpa kondisi mendasar lainnya, itu disebut dismenore primer. Nyeri jenis ini sering disebabkan oleh tingginya kadar prostaglandin, zat mirip hormon yang meningkatkan kontraksi rahim. Sementara itu, dismenore sekunder disebabkan oleh kondisi medis seperti endometriosis atau fibroid rahim.
Dalam studi terbaru yang diterbitkan di Briefings in Bioinformatics, para peneliti menemukan bahwa depresi memiliki dampak signifikan terhadap dismenore primer setelah menganalisis sekitar 600.000 kasus dari populasi Eropa dan 8.000 dari populasi Asia Timur.
Penelitian ini menunjukkan hubungan kuat antara keduanya pada kedua kelompok. Para peneliti juga melakukan studi asosiasi genom luas dan mengidentifikasi gen serta protein kunci yang terlibat dalam interaksi ini.
"Temuan kami memberikan bukti awal bahwa depresi mungkin menjadi penyebab, bukan akibat, dari dismenore, karena kami tidak menemukan bukti bahwa nyeri haid meningkatkan risiko depresi," kata penulis utama Shuhe Liu dari Xi'an Jiaotong-Liverpool University, Tiongkok.
Pengamatan menarik lainnya adalah bahwa gangguan tidur, yang sering dialami oleh penderita depresi, berperan penting dalam menghubungkan depresi dan dismenore.
BACA JUGA: Dispar Catat 2,1 Juta Wisatawan Mengunjungi Destinasi Wisata di Bantul
"Kami menemukan bahwa gangguan tidur yang meningkat dapat memperburuk nyeri haid. Oleh karena itu, mengatasi masalah tidur mungkin menjadi kunci dalam menangani kedua kondisi ini," tambah Liu.
Namun, penelitian lebih besar dan eksperimen biologis diperlukan untuk memahami sepenuhnya hubungan kausal antara nyeri haid dan depresi.
Berdasarkan temuan saat ini, para peneliti menyerukan peningkatan skrining kesehatan mental bagi individu yang menderita dismenore.
Liu menjelaskan bahwa ini dapat menghasilkan opsi perawatan yang lebih personal, mengurangi stigma, dan meningkatkan layanan kesehatan bagi mereka yang terdampak.
"Depresi dan nyeri haid memiliki dampak signifikan pada kehidupan wanita di seluruh dunia, tetapi hubungan antara keduanya masih kurang dipahami. Tujuan kami adalah menyelidiki masalah ini secara mendalam, mengungkap hubungan kompleks tersebut, dan menemukan cara yang lebih baik untuk mengatasinya," kata Dr. John Moraros, salah satu peneliti utama dari Xi'an Jiaotong-Liverpool University, kepada CNN.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
John Herdman berjanji Timnas Indonesia memberikan seluruh kemampuan di FIFA ASEAN Cup 2026 setelah gagal di Piala AFF 2026.
Pemerintah memantau 458 titik di 240 kabupaten dan kota untuk menjaga harga dan mutu beras serta memberantas mafia beras.
DTSEN mencatat 4,33 juta KPM baru sejak diterapkan. Pemutakhiran data dilakukan agar bansos menjangkau warga yang memenuhi kriteria.
Tiga awak KM Balama GT 27 ditemukan selamat setelah hilang kontak tiga hari di perairan Banggai dan terdampar di Sulawesi Utara.
Suahasil Nazara menegaskan komitmen menjaga APBN agar mendorong pertumbuhan dan stabilitas ekonomi Indonesia hingga 2029.
Desa Wisata Sasak Ende menghadirkan kehidupan tradisional Sasak lewat rumah adat, Gendang Beleq, Peresean dan aktivitas warga.