Profil Stadion Megah Tuan Rumah Semifinal Prancis vs Spanyol
AT&T Stadium di Arlington, Texas, menjadi tuan rumah semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Spanyol. Simak profil dan sejarahnya.
Ilustrasi/Ist
Harianjogja.com, JAKARTA—Sebuah penelitian terbaru menyebutkan jika kanker bisa diminimalkan dengan cara berpuasa. Sebuah studi inovatif yang dilakukan para peneliti di Memorial Sloan Kettering Cancer Center menemukan bahwa puasa dapat memengaruhi sel kanker.
Penelitian mereka pada tikus menunjukkan bahwa puasa memperkuat sistem pertahanan alami tubuh melawan kanker. Puasa tampaknya meningkatkan fungsi sel pembunuh alami (NK), komponen penting dari sistem kekebalan yang bertugas menyerang sel kanker.
Dilansir dari indianexpress, studi tersebut menunjukkan bahwa puasa memprogram ulang sel-sel NK untuk mengandalkan lemak sebagai energi, bukan gula.
Pergeseran metabolisme ini memungkinkan mereka berfungsi lebih efektif dalam menargetkan dan menghilangkan sel kanker. Dengan memungkinkan sel NK untuk berkembang di lingkungan tumor yang keras, puasa berpotensi meningkatkan kemampuan melawan kanker.
Konsultan HPB & Onkologi Gastrointestinal & Bedah Robotik Rumah Sakit Apollo Navi Mumbai, Dr Rajesh Shinde menjelaskan bahwa sebelum penelitian baru ini, penelitian telah mengisyaratkan potensi puasa untuk pencegahan kanker.
Sebuah studi pada tikus tahun 2012 mengungkapkan bahwa puasa jangka pendek mungkin melindungi sel-sel sehat dari efek samping obat kemoterapi yang merugikan.
Demikian pula, penelitian pada tikus pada 2016 menunjukkan bahwa puasa jangka pendek sebelum pemberian kemoterapi dapat meminimalkan toksisitas.
BACA JUGA: Dokter Sebut Virus HPV Tak Dapat Menular di Toilet
Studi lain yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kanker Jerman mengeksplorasi efek puasa intermiten terhadap kesehatan hati dan risiko kanker. Temuan mereka pada tikus menunjukkan bahwa jadwal puasa intermiten (makan teratur selama lima hari diikuti dengan pembatasan asupan kalori selama dua hari) dapat mengurangi risiko penyakit hati berlemak, peradangan hati, dan bahkan kanker hati.
Menurut Dr Shinde, tesis bahwa puasa mungkin menjanjikan dalam mengurangi risiko kanker berasal dari potensi dampaknya pada tingkat insulin dan proses seluler.
Kadar insulin yang tinggi telah dikaitkan dengan peningkatan pertumbuhan sel kanker. Puasa, dengan menurunkan kadar insulin, dapat menciptakan lingkungan yang kurang menguntungkan bagi berkembangnya sel kanker.
Lebih jauh lagi, puasa tampaknya mengaktifkan proses yang menghilangkan sel-sel yang rusak sekaligus mendorong perbaikan. Tindakan pembersihan yang ditargetkan ini dapat menghilangkan sel-sel prakanker sebelum berkembang biak.
Dia menambahkan, puasa diduga dapat meningkatkan antioksidan alami tubuh, yang melindungi sel dari kerusakan yang dapat memicu kanker. Namun, penting untuk mempertimbangkan keadaan individu.
Pembatasan diet mungkin menjadi tantangan bagi pasien yang sudah mengalami penurunan berat badan akibat kanker atau pengobatannya. Meskipun penelitian ini menawarkan wawasan yang menjanjikan, penting untuk dicatat bahwa penelitian tersebut dilakukan pada tikus.
Penelitian lebih lanjut pada manusia, kata Dr Shinde, sangat penting untuk memastikan temuan ini agar dapat diterapkan secara praktis.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
AT&T Stadium di Arlington, Texas, menjadi tuan rumah semifinal Piala Dunia 2026 antara Prancis vs Spanyol. Simak profil dan sejarahnya.
Komisi III DPR mendukung wacana Presiden Prabowo melarang total vape untuk mencegah penyalahgunaan narkoba dan melindungi generasi muda.
Daihatsu menghadirkan beragam solusi mobilitas berkelanjutan pada ajang GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD City, Tangerang.
BPS mencatat Indonesia mengalami deflasi 0,14% pada Juli 2026. Inflasi tahunan tercatat 2,88% dan inflasi tahun kalender mencapai 1,65%.
Gunung Semeru mengalami lima kali erupsi pada Senin pagi dengan tinggi letusan hingga 700 meter. Status gunung masih Level III atau Siaga.
Donald Trump menyebut perundingan AS dan Iran dimulai Senin. Pembahasan mencakup Selat Hormuz dan program nuklir Teheran.