Advertisement

Bedak Talc Berpotensi Memicu Kanker Ovarium

Newswire
Selasa, 09 Juli 2024 - 23:37 WIB
Maya Herawati
Bedak Talc Berpotensi Memicu Kanker Ovarium Bedak bayi / Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Sebuah temuan diumumkan International Agency for Research on Cancer (IARC) atau Badan International untuk Penelitian Kanker, yang menyebutkan adanya hubungan antara bedak talc dan potensi munculnya kanker ovarium.

Divisi yang berada di bawah Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) itu menyebut ada bukti yang menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara penggunaan talc powder dan risiko kanker

Advertisement

Seperti dikutip dari Bussiness Today, talc merupakan mineral alami yang biasa digunakan dalam produk seperti bedak bayi, telah menjadi fokus penyelidikan IARC.

Meskipun sebagian besar individu terpapar talc melalui produk konsumen seperti bedak bayi dan kosmetik, lembaga tersebut menyoroti bahwa paparan paling signifikan terjadi selama penambangan, pemrosesan, atau pembuatan barang-barang berbahan dasar talc.

Sejumlah penelitian yang diperiksa oleh IARC secara konsisten menunjukkan insiden kanker ovarium yang lebih tinggi di antara wanita yang menggunakan bedak tabur di area genital.

Namun, badan tersebut mencatat adanya tantangan dalam menentukan hubungan sebab akibat secara pasti karena potensi kontaminasi sampel talc dengan asbes penyebab kanker.

BACA JUGA: Jenazah Bocah Laki-Laki Ditemukan di Pantai Baron Gunungkidul

Kevin McConway, ahli statistik yang tidak berafiliasi dengan penelitian ini, memperingatkan agar tidak memandang evaluasi IARC sebagai bukti konklusif mengenai sifat-sifat talc yang menyebabkan kanker.

Dia menekankan bahwa penilaian badan tersebut terutama berfokus pada potensi suatu zat menyebabkan kanker dalam kondisi tertentu, daripada membuktikan secara pasti hubungan sebab akibat.

Dalam perkembangan lain, IARC mengklasifikasikan akrilonitril, senyawa kimia yang digunakan dalam produksi polimer, sebagai "karsinogenik bagi manusia", dengan menyebutkan cukup bukti hubungannya dengan kanker paru-paru.

Klasifikasi ini menimbulkan kekhawatiran mengenai meluasnya penggunaan polimer berbasis akrilonitril di berbagai produk konsumen, termasuk serat pakaian, plastik, dan karpet.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

alt

KKP Klaim Tren Impor Produk Perikanan Menurun hingga Juni 2024

News
| Rabu, 24 Juli 2024, 17:57 WIB

Advertisement

alt

7 Lokasi Geopark Jogja di Wilayah Sleman, Rasakan Keindahannya

Wisata
| Selasa, 23 Juli 2024, 08:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement