Buntut Serangan Ransomware, Jokowi Minta BPKP Audit Tata Kelola Pusat Data Nasional
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
Ilustrasi balita menggunakan popok. / Ist
Harianjogja.com, AARAU—Biasanya, anak balita sudah berangsur lepas dari pemakaian popok. Meski demikian, rupanya masih ada anak yang menggunakan popok hingga berusia 11 tahun.
Para guru di Swiss baru-baru ini melaporkan ada sejumlah siswa yang mengkhawatirkan karena masih datang ke sekolah dengan popok. Beberapa di antaranya berusia 11 tahun. Disinyalir, hal ini dilakukan karena mereka tidak pernah belajar menggunakan toilet.
Melansir Oddity Central, anak-anak di Swiss mulai bersekolah pada usia empat tahun, sehingga tidak jarang mereka masih memakai popok. Namun, rupanya kebiasaan itu terbawa hingga usia pra-remaja.
Menurut berbagai sumber, siswa berusia 11 tahun datang ke sekolah dengan popok. Bahkan, para guru diharapkan membersihkan dan menggantinya jika perlu.
Tampaknya, masalah tersebut telah menyebar luas sehingga salah satu kepala sekolah di Kanton Aargau, Swiss mengadakan pertemuan untuk memberi tahu orang tua bahwa anak-anak harus menghentikan pemakaian popok ketika mereka kembali ke sekolah setelah liburan musim panas.
Selain itu, ada juga sekolah lain yang menyebarkan selebaran untuk memberi tahu orang tua bahwa guru adalah guru, sehingga tidak bertanggung jawab untuk mengganti popok anak sekolah.
“Orang tua memiliki kewajiban untuk memastikan bahwa anak usia sekolah mereka tidak lagi memakai popok,” kata Dagmar Rösler, Presiden organisasi payung untuk guru di Swiss, dikutip dari Oddity Central, Rabu (21/6/2023).
“Saat anak usia 11 tahun datang ke sekolah dengan popok, itu merupakan perkembangan yang mengkhawatirkan. Guru tidak ada di sana untuk mengganti popok siswa mereka. Itu terlalu jauh,” lanjutnya.
Rösler menunjukkan pentingnya membedakan antara anak-anak dengan masalah fisik dan anak-anak yang terkena dampak trauma psikologis atau pengabaian orang tua, dan menekankan peran guru dalam mengurangi masalah tersebut. Solusinya ialah tidak boleh menyalahkan anak, tetapi sebaliknya, menjangkau orang tua, menjelaskan situasinya dan meminta pertanggungjawaban mereka.
Psikoterapis Swiss Felix Hof mengenang seorang anak laki-laki yang datang ke praktiknya dan masih membutuhkan popok pada usia tujuh tahun, karena trauma yang disebabkan oleh konflik keluarga. Dia juga menunjukkan bahwa anak-anak seperti itu sering kali diintimidasi atau diejek oleh teman sebayanya, terutama setelah situasi mereka diketahui di sekolah. Kelas olahraga atau berenang adalah dua contoh situasi di mana popok hampir tidak mungkin disembunyikan.
Menurut sebuah artikel di SonntagsZeitung, semakin banyak orang tua dari anak sekolah dasar memasang iklan untuk staf penggantian popok. Bahkan, yang lebih mengkhawatirkan ialah adanya peningkatan penjualan popok ukuran besar di Swiss.
“Popok menjadi semakin nyaman dan dapat dikenakan seperti celana dalam biasa, begitulah cara anak-anak dibiasakan dengan popok,” kata pendidik Margrit Stamm, merujuk pada orang tua yang memakaikan anak mereka popok untuk perjalanan jauh atau saat tidur. "Ini adalah sinyal yang sepenuhnya salah!"
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Oddity Central
Presiden Jokowi meminta BPKP untuk melakukan audit tata kelola dan finansial pusat data nasional.
Persija Jakarta menang 3-1 atas Persik Kediri di Stadion Brawijaya lewat dua gol Gustavo Almeida pada pekan ke-33 Super League.
Tabrakan kereta barang dan bus di Bangkok, Thailand, menewaskan delapan orang dan melukai 32 korban di dekat Stasiun Makkasan.
Komnas HAM meminta kampus, pesantren, dan ormas segera membentuk Satgas TPKS untuk memperkuat perlindungan korban kekerasan seksual.
KDMP Tamanmartani masih menunggu izin operasional Klinik Pratama dari Dinkes Sleman usai proses visitasi dan evaluasi lapangan.
Muhammadiyah Games 2026 resmi dibuka di UAD, jadi ajang pembinaan atlet dan kompetisi olahraga lintas jenjang pendidikan.