Advertisement

Setop Berikan Biskuit dan Bubur Kacang Hijau ke Anak saat Posyandu, Ini Alasannya

Arlina Laras
Rabu, 25 Januari 2023 - 19:07 WIB
Arief Junianto
Setop Berikan Biskuit dan Bubur Kacang Hijau ke Anak saat Posyandu, Ini Alasannya Ilustrasi posyandu. - Harian Jogja

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso menyebut bahwa saat ini masyarakat masih abai terhadap permasalahan gizi. 

Bahkan, menu makanan balita di Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang hanya kerap memberikan makanan tambahan berupa bubur kacang hijau dan biskuit.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

“Di Indonesia pemenuhan gizi untuk mencegah stunting tampaknya belum maksimal terutama pada penegasan soal pentingnya konsumsi protein hewani. Padahal, kita punya target untuk menurunkan angka stunting atau kekerdilan menjadi 14 persen pada 2024,” kata dia saat Seminar Media IDAI bertema Peranan Protein Hewani dalam Mencegah Stunting di Indonesia, Rabu (25/1/2023).

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak sehingga anak memiliki perawakan yang lebih pendek dibanding teman sebayanya. Hal tersebut, kata dia, disebabkan oleh malanutrisi kronik atau penyakit kronik tertentu. 

Dia menjelaskan, alasan anak menjadi stunting, itu karena ada salah satu kompleks protein bernama mTORC yang berfungsi seperti saklar guna menghidupkan aspek pertumbuhan secara linier, mulai dari pertumbuh badan, otak, usus hingga sistem imun. 

BACA JUGA: Soal Ibu Beri Kopi Susu Instan kepada Bayi, Jokowi: Hati-hati

Nantinya, mTORC  ini akan beroperasi kalau asam amino esensialnya cukup. Sebaliknya, ketika anak-anak mempunyai kadar asam amino esensial yang kurang, maka mTORC-nya tidak aktif dan ini akan memengaruhi pembentukan protein yang menghambat pertumbuhan tulang dan otot.

Protein Hewani

Hal ini pun disetujui oleh Ketua Satuan Tugas (Satgas) Stunting IDAI, Damayanti Rusli Sjarif, dirinya menjelaskan tak sedikit orang tua yang masih kurang edukasi terkait dengan hal ini. 

Masih banyak kekeliruan di masyarakat, yang membuat banyak dari mereka terlalu fokus memberikan sayur kepada anak mereka, utamanya sejak anak masih bayi.

"Sumber asam amino esensial ini kalau kita lihat itu adalah di protein hewani. Kita lihat dari kedelai, kacang-kacangan, semua rendah. Yang tinggi itu justru ada di protein hewani yang berasal dari susu, telur, ikan, dan ayam," ujar Yanti.

Dirinya menjelaskan, apabila seorang anak mengonsumsi protein hewani lebih dari satu jenis dalam satu hari dari sumber yang berbeda, maka risiko untuk stunting ikut mengalami penurunan.

Selain itu, menurutnya jumlah protein hewani turut harus dicukupkan. Dia menyebut bahwa satu saja asam amino esensialnya berkurang, maka dia bisa menurunkan hormon pertumbuhannya 34 persen. 

"Protein yang harus digunakan pun protein hewani. Kalau pakai menggunakan protein nabati, hasil asam amino esensial yang dihasilkan tidak setinggi dari protein hewani," tuturnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Jokowi Buka Suara soal Niat Kaesang Terjun ke Politik: Saya Tidak Memengaruhi

News
| Senin, 30 Januari 2023, 10:47 WIB

Advertisement

alt

4 Rekomendasi Bakso di Jogja, Cocok Buat Makan Siang

Wisata
| Senin, 30 Januari 2023, 11:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement