Trump Klaim Damai AS-Iran Siap Diteken, Inggris Beri Dukungan
Keir Starmer mendukung upaya Donald Trump mengakhiri konflik Iran. Perjanjian damai AS-Iran dijadwalkan ditandatangani pada 14 Juni 2026.
Ilustrasi bahan pangan. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Meskipun kandungan gizi dari suatu makanan itu baik, namun jika cara memasaknya tidak tepat, justru bisa memicu penyakit.
Dokter spesialis gizi klinik Claresta Diella mengungkapkan bahwa cara memasak yang tidak tepat dapat memicu risiko kanker. Salah satunya membakar daging merah sampai gosong.
"Cara pengolahan yang salah itu bisa jadi pencetus terjadinya kanker. Makan daging merah itu bagus, tapi kalau proses memasaknya salah seperti dibakar sampai gosong, itu memicu kanker," kata Diella dikutip dari Antara, Kamis (20/10)..
Oleh karena itu, ia mengatakan jika ingin memasak daging dengan cara dibakar, dianjurkan untuk tidak sampai gosong. Namun jika terlanjur, ia menyarankan untuk menyingkirkan bagian yang gosong sebelum daging itu dikonsumsi.
Dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Spesialis Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) itu menambahkan cara memasak lain yang tidak tepat adalah menggoreng sayuran. Hal ini lazim dilakukan, padahal bisa memicu kanker.
"Sayur kol itu sehat, tapi kalau cara memasaknya digoreng dan dikonsumsi terus menerus, itu juga meningkatkan risiko terjadinya kanker," ujarnya.
Menurutnya, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang digoreng akan membuat tubuh kelebihan lemak. Salah satu dampak buruk semakin banyak jaringan lemak dalam tubuh yaitu kadar estrogen juga akan semakin banyak, yang akhirnya dapat memicu risiko kanker payudara.
Meski demikian, Diella menegaskan bahwa cara memasak yang tidak tepat tersebut tidak serta merta membuat seseorang langsung terkena kanker.
Pasalnya, kata dia, ada faktor lain yang menyebabkan seseorang berisiko terkena kanker di antaranya faktor genetik, terlalu banyak terpapar zat-zat kimia penyebab kanker, dan gaya hidup yang tidak sehat, seperti kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.
"Ada beberapa penyakit yang memang faktor genetik ini tinggi, misalnya ibunya kanker payudara biasanya ke anaknya atau cucunya bisa kanker payudara juga," kata dokter lulusan Universitas Indonesia itu.
Ia melanjutkan, seseorang memang tak bisa menghindari faktor risiko yang berasal dari genetik, namun dia tetap bisa mencegah kanker dengan menjalani gaya hidup yang lebih sehat.
"Yang pasti genetik ini tidak bisa dimodifikasi, tapi faktor lainnya bisa ya dengan cara menerapkan perilaku hidup sehat, makan makanan yang sehat, dan ada aktivitas fisik jadi jangan lupa olahraga juga," tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Keir Starmer mendukung upaya Donald Trump mengakhiri konflik Iran. Perjanjian damai AS-Iran dijadwalkan ditandatangani pada 14 Juni 2026.
Bank Jateng dan Pemkab Karanganyar memperkuat sinergi KPR subsidi, pariwisata digital, dan pembiayaan UMKM untuk mendorong ekonomi daerah.
Ketua DPRD Kulonprogo meminta Pemkab mengaudit penggunaan BBM kendaraan dinas setelah harga Pertamax naik dan menolak BTT menjadi solusi utama.
Harga pangan hari ini bervariasi. Bawang putih melonjak 7,14%, bawang merah naik, sementara sejumlah jenis cabai dan beras mengalami perubahan harga.
Hasil Piala Dunia 2026 Swedia vs Tunisia berakhir 5-1. Yasin Ayari mencetak dua gol dan membawa Swedia memimpin klasemen Grup F.
PSI berhasil menarik perhatian generasi muda lewat strategi digital dan politik anti-establishment. Namun, mampukah bertahan hingga Pemilu 2029?