Perkuat Kualitas Layanan Kebidanan Melalui Transformasi Digital
Di era modern, layanan kesehatan mengalami perubahan pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi.
Tenaga kesehatan mendorong brankar dari ruangan bekas isolasi pasien Covid-19 di Rumah Sakit Aisyiyah, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (26/8/2021). Rumah sakit setempat menutup ruang isolasi untuk pasien Covid-19 menyusul turunnya angka kasus Covid-19 di wilayah itu, sementara jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 per 26/8/2021 sebanyak 29 orang, lima orang diantaranya dirawat dan 24 orang isolasi mandiri./Antara
Harianjogja.com, JAKARTA - Terlepas dari takdir, secara ilmiah memang bisa dijelaskan mengapa ada pasien Covid-19 yang hasil swab sudah negatif tapi menginggal.
Itu karena adanya respon keradangan berlebihan akibat Covid-19 yang dapat merusak organ dan menimbulkan kecenderungan penggumpulan darah.
dr Adaninggar di akun instagramnya menyatakan ada beberapa kemungkinan yang menyebabkan pasien Covid-19 meninggal:
Kemungkinan pertama yaitu Respon Badai Sitokin yang diakibatkan oleh Covid yang merusak banyak organ, pada Covid yang berat akan ada fase di mana respon imun terhadapt virus jadi berlebihan (stage III) karena proses pembersihan virus sejak awal yang sudah kurang baik, mengakibatkan keradangan hebat yang dapat merusak banyak organ tubuh dan menyebabkan kematian.
Kemungkinan selanjutnya disebabkan dampak covid pada beberapa sistem organ tubuh sehingga menyebabkan kematian secara mendadak.
Dampak pada jantung yang disebabkan oleh pembekuan daran dan penyumbatan pembuluh darah jantung, kerusakan otot jantung akibat reaksi radang, dan juga kerusakan langsung otot jantung akibat virus(reseptor Ace-2>>), semua itu mengakibatkan MIOKARDITIS gangguan irama jantung.
Lalu ada dampak kecenderungan penggumpalan darah akibat covid, Risiko tinggi penggumpulan darah akibat Covid dapat menyebabkan penyumbatan di pembuluh daran organ-organ vital yang dapat menyebabkan kematian: Jantung (serangan jantung), Paru (emboli paru), Otak (stroke)
Pada lansia dan penderita komorbrid kronis yang sudah diderita lama, didapatkan kondisi seperti inframasi, kerusakan sel endotel pembulu darah, dan gangguan respon imun, kondisi seperti ini berlangsung lama dan bisa dikompensasi oleh tubuh. Covid memicu kekacauan kondisi pada penyakit komorbid yang stabil tersebut, pengumpulan darah yang leboh hebat bisa menyebabkan kematian.
Perjalanan penyakit Covid-19 jelas, pada fase awal kemampuan pembersihan virus adalah yang menentukan
Pada kondisi ringan, imun bisa membersihkan virus dengan baik, sehingga jumlah virus akan menurun dan hasil swab akan negatif dan akan sembuh
Pada kondisi Covid berat, proses pembersihan virus tidak optimal, dan memicu keradangan berlebihan untuk mengilangkan virus, jumlah virus akan tetap menurun namun keradangan tetap berlangsung hingga bisa menyebabkan dampak-dampak pada organ tubuh yang dapat menyebabkan kematian. Pada kondisi ini hasil swab bisa negatif namun kondisi pasien tetap memburuk.
Semakin berat gejala covid, semakin berat keradangan yang terjadi , risikopun semakin meningkat. Namun, ada kondisi gejala covid ringan atau tanpa gejalapun tetap bisa terjadi keradangan yang dapat menyebabkan terutama kerusakan endotel pembuluh darah yang mengakibatkan penggumpulan darah terutama pada lansia dan penderita komobrid. Penggumpulan darah ini tetap bisa berisiko menyebabkan gangguan organ dan kematian mendadak.
Vaksinasi adalah cara untuk bisa menurunkan viral load virus sehingga virus lebih mudah dibersihkan dan menurunkan risiko radang berlebihan, namun respon terbentuknya antibody dan sel memori setelah melakukan vaksin pada tiap orang akan berbeda, tidak semua orang bisa membentuk antibody dan sel memori yang baik setelah vaksin terutama pada lansia.
Kesembuhan pasien covid-19 tidak hanyak ditentukan oleh Swab pcr/antigen yang negatif, karena pada kondisi covid berat justru penderita bisa mengalami gangguan organ dan kematian saat hasil swab negatif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : JIBI/Bisnis.com
Di era modern, layanan kesehatan mengalami perubahan pesat seiring dengan kemajuan teknologi informasi.
Justin Kluivert gagal penalti saat Belanda kalah dari Maroko di Piala Dunia 2026, memicu reaksi ramai warganet Indonesia di media sosial.
Studi terbaru ungkap anak lahir musim panas berisiko lebih tinggi terkena flu akibat jadwal vaksin yang tidak optimal.
Kasus DBD di Gunungkidul turun saat kemarau, namun warga tetap diminta waspada karena potensi penularan masih ada.
Maroko menyingkirkan Belanda lewat adu penalti 3-2 setelah bermain imbang 1-1 dan melaju ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 menghadapi Kanada.
Cari city car bekas di bawah Rp100 juta? Honda Brio, Toyota Agya, Honda Jazz, Toyota Yaris, dan lainnya bisa jadi pilihan. Simak tips membeli mobil bekas!