Advertisement
Psikiater UGM: Puasa Bisa Menekan Stres
Ilustrasi stres - Reuters
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA - Puasa tidak hanya memberikan sejumlah manfaat bagi kesehatan fisik tetapi juga mental, salah satunya adalah dapat membantu meredakan stres.
“Banyak hal yang bisa membantu dalam menekan stres, termasuk menjalankan puasa,” kata psikiater sekaligus Ketua Program Studi Pendidikan Spesialis Ilmu Kedokteran Jiwa FKKMK UGM, dr. Ronny Tri Wirasto, Sp.KJ., saat dihubungi Selasa (28/4/2020), dalam rilis yang diterima Harianjogja.com, Selasa (28/4/2020).
Advertisement
Ia menjelaskan puasa berpengaruh secara langsung dalam meredakan stres. Sebab saat berpuasa orang cenderung melakukan pengaturan makan dengan lebih baik. Asupan makanan yang diatur turut memengaruhi cara berpikir menjadi lebih teratur.
Beberapa studi menunjukkan mengurangi kadar makan, termasuk karbohidrat, lemak, dan lainnya dalam jumlah tertentu selama beberapa minggu akan meningkatkan kemampuan dalam berpikir. Ronny mengatakan cara orang mengenali stres adalah dengan kemampuan berpikir. Dengan kemampuan berpikir yang baik maka emosi lebih terkendali dan menekan stres.
“Yang mengontrol emosi itu kan salah satunya kemampuan berpikir,”sebutnya.
Dengan menjaga makan melalui berpuasa juga akan menjaga hormon kortisol yang berkaitan dengan respon tubuh saat stres. Puasa mampu menstabilkan hormon kortisol yang dihasilkan kelenjar adrenal. Hal ini berarti bisa menekan tingkat stres.
Dia menjelaskan produksi hormon berhubungan dengan asupan protein. Saat asupan diatur maka hormon juga lebih teratur.
“Jadi yang tadinya hormonnya dinamis, naik-turun, bisa lebih ditekan yang secara tidak langsung menjadi lebih tenang,” paparnya.
Ronny menyampaikan hormon kortisol yang meningkat tidak sesuai dengan kebutuhan menjadikan ambang seseorang jadi lebih rendah sehingga mudah terpapar atau irritable seperti mudah marah. Produksi hormon kortisol berlebih juga tidak baik bagi tubuh. Pasalnya, hormon ini dapat menekan sistem kekebalan tubuh.
“Saat stres hormon Corticotropin Releasing Factor [CFR] akan teraktivasi secara berlebih yang memengaruhi makrofag sehingga menurunkan imunitas,” tuturnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jamnya
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jam Lengkapnya
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
Advertisement
Advertisement









