Advertisement
Antoni Kusuma, Menularkan Gaya Hidup Sehat lewat Pangan Organik
Antoni Kusuma Wardhana bersama calon istrinya, Anjani, menunjukkan wortel hasil pertanian organik. - ist/Petani Muda)
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Kematian orang tua lantaran pola makan yang tak terjaga menggerakkan Antoni Kusuma Wardhana untuk hidup sehat. Selain mengubah pola makannya sendiri, ia juga menggerakkan orang lain untuk hidup dengan mengonsumsi pangan organik.
Pada 2012 adalah tahun kelam bagi Antoni Kusuma Wardhana, 34. Saat itu, ia kehilangan dua orang sekaligus yaitu ayah dan ibunya. Keduanya meninggal hanya berselang satu bulan. Sang ibu meninggal karena kecelakaan dan sang ayah karena sakit. Keduanya memiliki riwayat diabetes.
Advertisement
Pria yang akrab disapa Dhana ini ingat betul, bagaimana pola hidup kedua orang tuanya saat itu. Penyakit diabetes yang mematikan itu tak luput dari pola makan yang salah. Semua makanan yang dikonsumsi orang tuanya serba manis, berkolesterol, dan melebihi ukuran konsumsi manusia pada umumnya.“Kalau minum es teh juga harus gelas yang besar banget. Suka makan daging kambing. Pokoknya enggak terkontrol,” tuturnya, belum lama ini.
Dhana takut jika riwayat orang tuanya itu menurun padanya dan dua adik-adiknya. Ia kemudian memutuskan untuk hidup sehat dengan banyak mengonsumsi sayur dan buah yang ditanam secara organik. Selain mengonsumsi, Dhana juga memproduksi sayuran organik.
Dhana mengajak rekan-rekannya menyewa lahan kas desa di daerah Pakem untuk ditanami sawi organik. Tanaman sawi di lahan satu hektare itu tumbuh subur. Sayangnya, Dhana belum berpengalaman dalam berjualan sehingga sawi-sawi organik yang seharusnya bernilai tinggi itu hanya dijual rendah di pasar tradisional.
Dhana kembali berdiskusi dengan teman-temannya, termasuk berkonsultasi dengan dosennya di UGM. Dari diskusi itu munculah ide untuk bekerja sama dengan petani di Kopeng, Magelang, Jawa Tengah yang memang sudah memiliki perkebunan sayur di kaki Gunung Merapi dengan iklim sangat mendukung pertanian.
“Di sana [Magelang] yang ditanam juga bisa sayuran yang bernilai jual tinggi seperti brokoli, wortel juga hasilnya yang manis-manis dan besar-besar, dan juga kentang,” kata pria yang berencana melepas masa lajangnya pada November mendatang itu.
Dengan membawa nama Jogja Organic, ia mulai bergerak mengajak petani beralih menanam secara organik. Jogja Organic merupakan socioentrepeneur yang dibangun Dhana untuk memberikan training soft skill pada petani seputar menanam secara organik, pengelolaan tanaman, penyediaan bibit dan pupuk, hingga penjualan produk organik.
Diakuinya memang susah mengubah pola pikir dan mengajak masyarakat karena sebagian besar dari mereka sudah terbiasa dengan pupuk kimia. “Ketakutan petani itu nanti produknya siapa yang mau beli,” kata Dhana.
Menampung Hasil Petani
Untuk menjawab masalah itu, Jogja Organic akhirnya menampung hasil tanam para petani dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan pertanian nonorganik. Selisihnya sampai 30%.
Setelah kelompok tani banyak menghasilkan sayuran organik, kegiatan pertanian mereka banyak menjadi sorotan. Banyak orang luar daerah yang tinggal di Kopeng untuk melihat pola cocok tanamnya dan juga membeli hasil sayuran organiknya.
Hal ini membuat petani sudah tidak lagi bergantung pada Jogja Organic dalam hal penyerapan hasil panennya.
Gerakan Jogja Organic pun menyebar ke banyak kelompok tani, bahkan sampai Dusun Cuntel, dusun terakhir sebelum puncak Gunung Merbabu. Ada pula di Gunungkidul yang khusus mengembangkan jeruk nipis, lemon, lidah buaya dan murbay.
Di Pakem, Sleman yang awalnya sawi diubah menjadi selada dan oregano. Ada budidaya sayur kale di Turi, dan masih banyak lagi. Selain bekerja sama dengan kelompok tani, kerja sama juga dijalin dengan perorangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Biaya Hidup di Jogja 2026, Hitungan Versi BPS dan Perkiraan Riil
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
- Pacuan Kuda Bantul Makin Meriah STY dan Es Krim Jadi Magnet
Advertisement
Advertisement








