Advertisement

Rejang Lebong Punya Gulai Lemea Sajian Khas Berbuka

Newswire
Sabtu, 26 Mei 2018 - 14:35 WIB
Maya Herawati
Rejang Lebong Punya Gulai Lemea Sajian Khas Berbuka Gulai Lemea - ist

Advertisement

Harianjogja.com, REJANG LEBONG—Gulai lemea adalah kuliner khas Suku Rejang yang bermukim di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Kuliner tradisional ini populer sebagai hidangan berbuka puasa.

Mimi, 55, salah seorang pedagang lauk-pauk di Pasar Ramadhan di Lapangan Setia Negara Curup, Rejang Lebong. gulai lemea ini masih menjadi kuliner favorit bagi masyarakat lokal, hal ini terbukti dengan banyak warga yang mencarinya.

Advertisement

Makanan khas masyarakat Suku Rejang yang terbuat dari permentasi rebung atau bambu muda dan ikan sungai ini sudah ada lama dan dulunya hanya bisa dikonsumsi oleh kalangan menengah ke atas saja, namun saat ini setiap orang di daerah itu bisa membuat atau membelinya.

"Setiap harinya selalu habis, kalau hari ini saya bawa 10 potong. Perpotongnya saya jual Rp15.000, dan sebelum sore biasanya sudah habis," ujarnya Rabu (23/5/2018).

Kalangan masyarakat Rejang Lebong yang akan membeli gulai lemea ini tambah dia, bisa mendapatkannya dalam keadaan siap saji atau sudah masak, seperti yang dijualnya saat ini.

Selain itu mereka juga bisa membelinya di pasar di wilayah itu dalam keadaan mentah atau belum dimasak. Untuk memasak lauk ini tidaklah susah yakni dengan menggunakan bumbu-bumbu berupa cabai merah, cabai rawit, bawang merah dan bawang putih, ditambah sayuran jenis terong bulat dan daun keladi.

Sementara itu menurut Medi, 50, salah seorang warga yang biasa membuat gulai lemea, kuliner itu berasal dari kata lemeah dalam bahasa Rejang yang berarti lemah atau tidak bertenaga karena nikmatnya masakan tersebut.

Memakan Waktu

Kuliner khas daerah ini dulunya banyak disajikan untuk acara perayaan hari besar keagamaan, menjamu tamu dari luar daerah atau pun sajian di acara pernikahan dan hajatan lainnya.

Untuk membuat gulai ini menurut dia, dibutuhkan ketelatenan karena pengolahannya bisa memakan waktu tiga hingga lima hari. Adapun bahan-bahan dibutuhkan ialah rebung muda yang di potong-potong berbentuk bulat dadu dan ikan sungai bisa menggunakan ikan baung, ikan mas, mujair dan jenis lainnya.

Rebung yang sudah dipotong kecil-kecil ini kemudian cuci hingga bersih, seterusnya disimpan dalam toples selama 24 jam, dan airnya harus diganti setiap delapan jam sekali. Setelah itu airnya disaring dan hanya menyisakan rebung kering yang selanjutnya dicampurkan dengan ikan lalu disimpan kembali dalam toples selama 24 jam.

"Gulai ini baru bisa dimasak proses fermentasi dilakukan tiga sampai lima hari, orang yang memakannya akan merasakan gurih, pedas dan sedikit keasam-asaman," ujar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

Penantian Sepekan Berakhir Jenazah Perwira TNI Tiba di Cimahi

News
| Sabtu, 04 April 2026, 23:47 WIB

Advertisement

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Long Weekend April 2026: Cek Tanggal Merah Usai Lebaran

Wisata
| Jum'at, 03 April 2026, 12:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement