Advertisement
Ini Hal yang Perlu Kamu Tahu Soal Leptospirosis
Ilustrasi leptospirosis, - JIBI
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA-Sampai April 2018, sembilan orang di DIY meninggal karena penyakit leptospirosis. Sebetulnya, apa sih penyakit itu?
Kepala Dinas Kesehatan DIY Pembayun Setyaningastutie mengatakan, leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan bakteri leptospira yang disebarkan melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri ini. Beberapa jenis hewan yang dapat menjadi pembawa leptospirosis yaitu anjing, hewan pengerat seperti tikus, dan kelompok hewan ternak seperti sapi serta babi.
Advertisement
Akhmad mengutarakan, beberapa daerah di DIY sudah bisa dikatakan sebagai wilayah endemik leptospirosis. Di Bantul yang jadi daerah endemik terbentang dari Sedayu hingga Pajangan. Kemudian untuk Sleman ada di daerah Moyudan dan Prambanan. Untuk Jogja ada di Kelurahan Tahunan. Lalu Gunungkidul ada di Ponjong. Adapun Kulonprogo ada di Kokap dan Girimulyo.
“Kulonprogo sebetulnya bukan daerah endemik. Setelah ditelusuri ternyata korban mengambil damen [jerami] di Moyudan. Jadi setelah panen, banyak orang Kulonprogo ngambil damen di Moyudan untuk ternak,” imbuh Akhmad.
Cara Mencegah
Ia mengungkapkan, untuk mencegah penyebaran leptospirosis, Dinas Kesehatan DIY akan terus mengingatkan kembali masyarakat untuk membersihkan lingkungan dalam dan luar rumah.
Pekarangan, selokan dan lingkungan di dalam rumah, sebutnya mesti dibersihkan. Masyarakat diimbau tidak membawa kotoran dari luar ke dalam rumah.
Sementara khusus untuk petani, sebagai salah satu pihak yang paling potensial terjangkit leptospirosis, Pembayun menyebut, petani harus menjaga diri dari infeksi. Salah satu hal yang perlu dilakukan adalah menghindari luka di bagian tubuh yang bersentuhan dengan air di sawah.
“Setelah bekerja di sawah, segera bersihkan seluruh anggota tubuh. Tingkatkan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun sehabis bekerja di di sawah atau ladang,” jelas Pembayun.
Gejala
Dilansir dari situs Alodokter, leptospirosis memiliki gejala yang umumnya menyerupai flu, yaitu demam, nyeri otot, dan pusing. Gejala lain yang mungkin muncul mual, muntah, meriang, sakit kepala, nyeri otot, sakit perut, diare, kulit atau area putih pada mata yang menguning, demam tinggi, batuk, serta kehilangan nafsu makan.
Leptospirosis juga tidak memiliki gejala-gejala yang signifikan sehingga sulit untuk terdiagnosis. Gejala leptospirosis umumnya berkembang dalam waktu satu hingga dua minggu atau hingga satu bulan setelah penderitanya terpapar bakteri ini dan cenderung membaik minimal dalam lima hari hingga maksimal satu minggu setelah gejala muncul.
Gejala leptospirosis yang lebih berat bisa berujung kepada komplikasi yang lebih serius, berupa pendarahan hingga gagal fungsi pada organ-organ tertentu. Kondisi pasien secara umum akan membaik dari gejala awal yang muncul, tetapi selanjutnya akan menjadi sakit kembali dan berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Kasus leptospirosis yang memburuk ini dapat terjadi pada 1 dari 10 penderita pada 1-3 hari setelah gejala awal mereda. Jika tidak segera ditangani, penderita dapat mengalami kerusakan otak, gagal fungsi ginjal, dan gangguan fungsi paru-paru. Kasus ini cenderung dikenal dengan nama penyakit Weil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Alodokter
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Update KRL Jogja ke Solo Hari Ini 4 April 2026, Ini Jamnya
- Jadwal Prameks Kutoarjo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jamnya
- Cuaca Jogja 4 April 2026 Didominasi Hujan, Ini Rinciannya
- Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 4 April 2026, Cek Jam Lengkapnya
- Pemadaman Listrik di Bantul 4 April 2026, Cek Wilayah Terdampak
Advertisement
Advertisement









