Bukan Mahasiswa UNY, Ini Penjelasan RSUP Dr Sardjito tentang Warga Jepang yang Dirawat di Ruang Isolasi
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
Mbah Waluyo berperan sebavai Pak Cebong sang juragan batik dan Suhin sebagai istrinya tampil dalam acara Dagelan Mataram Milenial dengan judul Cebong Kampret Punya Gawe. /Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, JOGJA - Dagelan Mataram Milenial yang digelar di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) pada Jumat malam (23/11/2018) dengan judul Cebong Kampret Punya Gawe. Acara ini dikemas dengan tema kontemporer agar para penonton dari kalangan milenial tertarik menonton.
Kepala Seksi (Kasi) Penyelenggaraan dan Pengembangan TBY, Ciptorini mengatakan acara Dagelan Mataram digelar sekali dalam satu tahun. Acara Dagelan Mataram melibatkan para pelawak dari seluruh Jogja.
"Acara ini sebagai wadah untuk menyatukan para pelawak di Jogja baik yang sudah dikenal publik atau belum," kata dia.
Lebih lanjut dia menyatakan beberapa seniman pelawak di Jogja yang belum mendapat kesempatan untuk bisa tampil. Dari situlah TBY bermaksud memfasilitasi mereka dalam acara Dagelan Mataram Milenial.
Dagelan Mataram Milenial kali ini menceritakan kedua orang tua Cebong dan Kampret akan menjodohkan anak mereka. Anak Pak Cebong yang perempuan setelah diberitahu oleh orang tuanya akan dijodohkan namun anaknya bilang sudah punya pacar. Ternyata pacarnya adalah anak Pak Kampret. Sutradara pagelaran Dagelan Mataram Milenial Cebong Kampret Punya Gawe ialah Gito Gilang serta Toelis Semero.
Pelawak Yati Pesek yang hadir sebagai narasumber memberikan sambutan. Dalam sambutannya dia mengatakan Dagelan Mataram tidak hanya di kota saja. Awal mulanya Dagelan Mataram mempunyai kelompok sendiri-sendiri.
"Dagelan Mataram ada di Jogja, Sleman, Bantul, Gunung Kidul, dan Kulon Progo. Acara malam ini adalah cara menyatukan mereka dengan menampilkan satu cerita yang dimainkan bersama-sama," ujar Yati.
Yati Pesek berpesan bahwa Dagelan Mataram adalah dagelan asli Jogja. Dia ingin masyarakat melestarikan budaya Dagelan Mataram. Dagelan Mataram kali ini tidak seperti almarhum Basiyo.
Turut pula pelawak senior asli Jogja yang sudah cukup dikenal publik. Mereka adalah Umar priyono, Yu Beruk, Srundeng, Sugeng Iwak Bandeng, Wisben Antoro, dan Aldo Iwak Kebo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
Sapi simmental berbobot 1 ton asal Gedangsari, Gunungkidul, dibeli Presiden Prabowo Subianto untuk kurban tahun ini.
Gregoria Mariska Tunjung resmi mundur dari Pelatnas PBSI karena alasan kesehatan, PBSI menghormati keputusan dan fokus pada pemulihan.
Megawati Hangestri resmi bergabung dengan Hillstate Korea Selatan dan dijadwalkan debut di KOVO Cup serta V-League 2026/2027.
PSIM Jogja incar 10 besar Super League 2025/2026, Van Gastel tetap turunkan skuad terbaik di dua laga sisa musim.
SMA Kolese De Britto bersama SMA Pangudi Luhur Yogyakarta sukses menghadirkan pementasan teater kolaboratif.